BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Di tengah dinamika pengelolaan desa yang seringkali menghindari sorotan LSM dan wartawan, Desa Pungpungan, Kecamatan Kalitidu, tampil dengan wajah berbeda.
Di bawah kepemimpinan Slamet Hari Hadi, seorang kader Projo yang dikenal low profile, desa ini membuktikan bahwa keterbukaan informasi dan mentalitas anti-antikritik adalah kunci utama kemajuan wilayah.
Kepemimpinan yang Membumi: “Apa Adanya” Bagi Slamet Hari Hadi, jabatan kepala desa bukanlah takhta yang harus dijaga dengan benteng protokol. Ia memilih tampil apa adanya.
Menurutnya, menjadi pemimpin berarti siap menjadi sasaran bulyan dan hujatan. “Menjadi pemimpin itu resikonya dihujat dan dibully,” ungkapnya lugas.
Prinsip ini justru membuatnya tidak alergi terhadap narasi pedas, melainkan menjadikannya bahan evaluasi untuk membangun desa yang lebih kuat. Sikap low profile ini meruntuhkan sekat antara birokrasi dan warga, sehingga inovasi tumbuh dari bawah.
Pada Tahun 2025 desa pumpungan panen prestasi,meskipun jalan nya penuh rintang dan penuh tantangan.
Keterbukaan tersebut berbanding lurus dengan deretan penghargaan yang diraih Desa Pungpungan baik di tingkat provinsi maupun kabupaten,
Pionir Digital dan Transparansi, Meraih penghargaan Best of The Best Video Kreatif (FESTA Jatim 2025) dan Keterbukaan Informasi Publik Award Jatim 2025.
Hal Ini menunjukkan bahwa Pungpungan adalah desa yang melek teknologi dan jujur dalam administrasi.
Ekonomi Sirkular BUMDes Berkaho, Berhasil meraih predikat Terbaik Kedua tingkat Jawa Timur.
Inovasi mereka tidak main-main, mulai dari budidaya maggot, pengelolaan lele untuk mengurangi limbah organik, hingga daur ulang kain menjadi baju layak pakai.
Ketahanan Pangan Milenial,Melalui program Pekarangan Pangan Bergizi, para petani muda desa mengelola sayur-mayur yang tidak hanya mencukupi gizi warga, tetapi juga berpotensi menjadi destinasi agrowisata.
Prestasi Generasi Muda,Di bidang olahraga, Tim Voli Putra dan SBB Pungpungan (Juara I Bojonegoro Premier League U-12) menjadi bukti bahwa pembinaan pemuda berjalan beriringan dengan pembangunan fisik.
Program terbaru adalah Membangun Tanpa Membuang, Salah satu pelajaran berharga dari Desa Pungpungan adalah komitmen menjaga lingkungan mereka. Desa ini secara tegas mengedukasi warga untuk tidak membuang sampah ke Bengawan Solo.
“Sampah diolah secara terintegrasi melalui unit-unit usaha BUMDes, menciptakan ekosistem “Slow Living” yang asri di tengah hamparan sawah luas,” pungkasnya.
Penulis : Takim
Editor : Putri

















