BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Miris setelah kemarin dengan menyajikan roti, pentol, dan salak yang sempat viral. Kini Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkantor di Klangon Bojonegoro tersebut kembali menuai sorotan.
Menu yang disajikan siang ini menjadi perbincangan lagi dengan wali murid akibat kualitas pangan yang diduga terlihat miris dan tak sesuai dengan standar kesehatan anak, Pasalnya menu yang disajikan diduga tidak sesuai standar gizi.
Salah satu wali murid SD Negeri di kota Bojonegoro, Nafidatul Himah mengatakan menu yang diperoleh anaknya tidak sesuai standar gizi, seperti adanya kentang goreng yang sudah di prozen, serta adanya dimsum yang jelas itu bahan olahan yang melalui prozen atau dibekukan.
“Ini menu MBG yang anak saya dapat ada kentang goreng, dimsum 2 dan buah blimbing yang masih mentah. Kalau saya lihat okelah dimsum dibuat menggunakan daging akan tetapi ini menggunakan tepung dan prosesnya melalui prozen, jika berbicara standar gizi lalu gizinya seperti apa yang ditakar hingga menurut mereka ini layak disajikan untuk anak-anak,” ucapnya Selasa (24/2/2026).
Dia juga menyayangkan bahwa makanan olahan tersebut jelas tidak baik di konsumsi untuk anak karena banyaknya kandungan tepung dalam makanan. Selain itu, jika dilihat dari nominal harga makanan tersebut menurutnya belum sesuai.
“Ini kentangnya kering, dimsum yang jelas sudah dalam proses dihangatkan. Serta jika dilihat tidak sampai Rp.8000 dalam satu porsi,” terangnya.
Himah menambahkan seharusnya pemerintah benar-benar bisa mengawasi standar gizi yang layak untuk anak bukan hanya sekedar memikirkan untung rugi dalam menjalankan SPPG, hingga timbulnya permasalahan porsi makan yang tidak layak dikonsumsi anak.
Berita sebelumnya, Ahli Gizi SPPG Alfairina Safitri, menerangkan jika adanya makanan prozen sudah melalui uji kelayakan akan tetapi tidak melalui uji lap.
“SPPG kami entah siapapun produk UMKM yang datang kesini pasti saya coba dulu rasanya karena saya pasti tahu rasanya layak atau tidak, saya timbang dulu sub nya. Untuk mengetahui berapa banyak tepungnya, MSG nya dll melalui indra pengecap saya,” kata Alfairina.
Menurutnya, untuk mengetahui kadar protein dalam sebuah makanan hanya cukup menggunakan indra perasa yang dia milik.
Penulis : Takim
Editor : Putri

















