BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Di saat sebagian besar aktivitas warga Desa Pacul, Kecamatan Kota Bojonegoro, mulai melambat seiring tenggelamnya matahari, sebuah sudut sederhana justru mulai menampakkan denyut kehidupan.
Di sinilah tempat Mbah Su, sosok maestro kuliner legendaris, meracik kehangatan melalui sepiring kikil dan gulai yang telah melintasi zaman. Bojonegoro Hari Rabu 14/1/2026. Provinsi Jawa timur.
Masakan Mbah su selalu habis Sebelum Tengah Malam, Ada yang tidak biasa dengan, manajemen waktu warung Mbah Su.
Jika umumnya menu pecel dan lodeh identik dengan sarapan pagi, Mbah Su justru setia menyapa pelanggannya mulai pukul 19:00 WIB atau selepas Isya.
Meski jam operasionalnya tergolong singkat, daya tariknya tak main-main.
“Biasanya jam 21:00 sudah mulai sepi karena barangnya sudah habis, paling lama jam 23:00,” ujar Mbah Su sembari melayani pembeli.
Kecepatan ludesnya dagangan ini menjadi bukti sahih bahwa rasa tidak pernah berbohong.
Dedikasi di Balik Tungku Secara edukatif, kita belajar tentang konsistensi, Semua itu dialami oleh Mbah su sendiri.
Meski usia tak lagi muda, Mbah Su tetap memegang kendali penuh di dapur,. Dari Proses memasak kikil hingga mencapai tekstur yang empuk sempurna dan pengolahan nasi dilakukan oleh tangan beliau sendiri.
Sang adik turut setia membantu di sisi pelayanan, menciptakan harmoni kerja keluarga yang hangat.
Menu yang disajikan cukup beragam, mulai dari, Lontong/Nasi Pecel, Dengan siraman sambal kacang khas.
Sayur Lodeh, Yang kaya akan rempah dan santan.
Gulai dan Kikil (Primadona), Kuah gulai yang kental, berlemak, dan “nendang” menjadi incaran utama.
Salah satu pelanggan, Anik, mengaku terkesan dengan porsi dan harganya.
“Satu mangkuk gulai kalau dimakan pakai lontong bisa buat dua orang. Murah, sekitar 50 sampai 60 ribu saja, tapi rasanya benar-benar mantap,” ungkapnya.
Mbah Su menjalankan usahanya bukan sekadar mencari keuntungan materi, melainkan menjaga amanah pelanggan.
Saat ditanya Oleh Suara bangsa.co.id mengenai ketersediaan bahan, beliau menjawab dengan filosofi Jawa yang kental,
“Ya sekadarnya, asal orang datang tidak kecelik (kecewa karena kosong) dan kecewa.”ungkapnya.
Tak heran, saat adzan Isya berkumandang, antrean mulai mengular. Mulai dari aparatur sipil negara (PNS) yang baru pulang lembur, hingga para santri pondok pesantren sekitar yang mencari kehangatan di tengah malam.
Kikil Mbah Su di Desa Pacul bukan sekadar tempat makan, melainkan saksi bisu bagaimana sebuah resep tradisional yang dijaga dengan integritas mampu bertahan di tengah gempuran zaman.
Bagi Anda pemburu kuliner malam, saat Medayhoh di Bojonegoro, pastikan hadir lebih awal sebelum aroma gurih gulainya menguap bersama malam.
Penulis : Takim
Editor : Putri

















