Ironi Angka Kemiskinan Bojonegoro: Data Melandai, Tapi 122 Desa Masih Rentan

- Admin

Rabu, 7 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Angka kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro dilaporkan menurun ke level 11,49% per Maret 2025.

Meski secara statistik terlihat membawa angin segar, kenyataan di lapangan rupanya tak seindah angka di atas kertas. Masalah klasik soal tumpang tindih data dan kerentanan ekonomi warga di ratusan desa masih menjadi persoalan yang pelik. Bojonegoro Hari Senin 5/1/2026.

Dari pengalian informasi awak media Suara bangsa. Co.id, Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Bojonegoro berkurang sekitar 2,43 ribu jiwa dibanding tahun sebelumnya.

Namun, penurunan ini dianggap belum sepenuhnya “aman”.
Kajian akademis terbaru justru menemukan fakta mengejutkan,ada 122 desa di Bojonegoro yang masuk zona rentan kemiskinan.

Mereka adalah warga yang berada di ambang batas tidak tercatat miskin secara administratif, namun sangat mudah jatuh miskin jika terjadi guncangan ekonomi kecil, seperti kenaikan harga pangan atau kehilangan pekerjaan di sektor informal.

Baca Juga:  Wujudkan Swasembada Pangan, Bupati Setyo Wahono Targetkan Bojonegoro Jadi Produsen Padi Tertinggi Nasional Tahun 2028

“Wartawan, buruh pabrik yang di PHK , Tukang sapu yang tidak PNS serta mereka yang tidak punya gaji tiap bulan, dan pendapatan nya sehari hanya 50 ribu, mereka warga yang rentan miskin,” ungkap Ali Sugiono Aktivis Ketahanan Pangan (AKP).

Kini, perhatian publik tertuju pada proses pendataan di lapangan. Ada dugaan kuat bahwa proses rekrutmen sukarelawan atau mitra statistik BPS tidak berjalan sesuai aturan yang seharusnya.

Dalam penelusuran Web BPS Bojonegoro Idealnya, rekrutmen Volentir BPS dilakukan secara terbuka melalui aplikasi Sobat BPS.

Namun, di lapangan muncul dugaan bahwa penunjukan petugas justru diserahkan kepada pihak pemerintah desa. Hal ini memicu praktik “titipan” yang berpotensi merusak objektivitas data.

Baca Juga:  Cetak Pribadi Siap Kerja, BLKK Nasy'atul Muta'allimin Sumenep Gelar Latihan Berbasis Kompetensi

“Tidak heran kalau istri perangkat desa punya jabatan ‘double-double’, mulai dari petugas survei kemiskinan sampai kader posyandu,” ungkap salah seorang tokoh perangkat desa yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Pengamat kebijakan publik sekaligus aktivis ketahanan pangan, Ali Sugiono, menilai bahwa petugas yang dipilih karena kedekatan (bukan kompetensi) berisiko melakukan polesan data demi kepentingan administratif desa.

“Jika surveyor tidak independen, kita akan terus terjebak dalam masalah Inclusion dan Exclusion Error. Orang yang benar-benar butuh bantuan malah terlewat, sementara yang mampu justru terdata karena faktor kedekatan,” tegas Ali.

Selain itu, kurangnya kemampuan teknologi informasi (IT) pada petugas “titipan” dikhawatirkan membuat potret kemiskinan di Bojonegoro menjadi bias.
Padahal, kriteria BPS menggunakan pendekatan kebutuhan dasar yang menuntut akurasi tinggi.

Baca Juga:  BKKBN Jatim Sosialisasi Pencegahan Stunting di Desa Tanjungharjo Bojonegoro

Polemik ini semakin panas dengan adanya kebijakan penempelan stiker “Keluarga Miskin” di rumah warga oleh Dinas Sosial.

Di satu sisi, langkah ini bertujuan untuk transparansi. Namun bagi warga yang di zona rentan miskin, labelisasi ini menjadi beban moral yang berat di tengah kondisi ekonomi mereka yang tidak stabil.

“Tanpa data yang jujur dan petugas yang independen, target pengentasan kemiskinan di Bojonegoro hanya akan jadi angka di atas kertas yang jauh dari kenyataan,” tambah Ali.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Sosial maupun BPS Kabupaten Bojonegoro belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan tumpang tindih data serta mekanisme rekrutmen petugas lapangan tersebut. Masyarakat kini menunggu transparansi dan evaluasi nyata dari para pemangku kebijakan.

Penulis : Takim

Editor : Putri

Berita Terkait

BEM Malang Raya Turun Jalan, Tuntut Kasus Penyiraman Air Keras Harus Diproses Secara Adil Tanpa Kompromi
Aliansi Mahasiswa Dan Masyarakat Sipil Datangi Istana Merdeka, Sampaikan 3 Tuntutan Kepada Presiden RI
Gara-gara Mercon, Warga Batuputih Gagal Rayakan Lebaran, Rumah Luluh Lantak
Soal Limbah di Persawahan, Kapolsek Dander Bojonegoro Turun Langsung Turun
Petugasnya Dituding Tidak Sopan, DPRD Sampang Ingatkan Puskesmas Camplong Beri Pelayanan Maksimal
Pasien Mengeluh, Oknum Dokter di Puskesmas Camplong Tak Sopan
Pohon Tumbang Timpa Sekolah dan Puluhan Rumah Warga, Satu Orang Terluka
Kronologi Lengkap Bocah 5 Tahun di Sampang Tewas Tenggelam di Sungai, Ditemukan Meninggal
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 19:06 WIB

Tak Sekadar Pameran Otomotif, IIMS Surabaya 2026 Hadirkan Sport Entertainment

Sabtu, 16 Mei 2026 - 17:14 WIB

Harapan Ketua DPRD Bojonegoro terkait KDMP yang Diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto

Jumat, 13 Maret 2026 - 12:27 WIB

Taro Ramaikan Kampung Ramadan di Jombang, Ajak Keluarga Berpetualang dalam Kebaikan

Minggu, 4 Januari 2026 - 17:08 WIB

Balik Jengger Ayam GAYATRI: Harapan dan Kecemasan Suraji di Tanjungharjo Bojonegoro

Sabtu, 20 Desember 2025 - 14:37 WIB

LUsh Green Indonesia akan Gugat Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalnus, Ini Penyebabnya

Rabu, 17 Desember 2025 - 14:44 WIB

SMKS PGRI Sukodadi Gelar Pameran Karya Tata Busana, Dorong Kreativitas dan Jiwa Wirausaha Siswa

Sabtu, 13 Desember 2025 - 12:07 WIB

Buruh Tembakau Baureno Bojonegoro Dapat DBHCHT, Petani Tembakau Ngayam Juga Berharap Dapat

Jumat, 12 Desember 2025 - 23:36 WIB

Gotrade Gelar Roundtable Surabaya, Kupas Strategi Pasar AS 2026 dan Dorong Literasi Saham

Berita Terbaru