Tingkat Kejenuhan dalam Pembelajaran Daring

- Admin

Kamis, 7 Januari 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Umumnya aktivitas pembelajaran dilakukan secara langsung di dalam suatu ruang kelas, di mana guru dan siswa berinteraksi secara langsung. Tetapi semenjak terjadinya pandemi Covid-19 pembelajaran dilakukan di rumah secara daring.

Pada 2 Maret 2020 kasus pertama Covid-19 terdeteksi di Indonesia tepatnya di Depok. Diketahui ada 12.776 kasus dan 939 kematian sudah dilaporkan terjadi pada 34 provinsi di Indonesia per tanggal 8 Mei 2020 (UNICEF, 2020). Pemerintah mengambil tindakan pencegahan penyebaran Covid-19 melalui Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tertanggal 17 Maret 2020 mengenai Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam mencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Pembelajaran daring dimaksud dalam SE itu adalah istem pembelajaran pada jaringan online, memakai metode pembelajaran jarak jauh. Melalui video conference mahasiswa dan dosen bisa melakukan proses pembelajaran menggunakan tatap muka dan berkomunikasi. Selain itu, mahasiswa juga mampu menerima materi dari dosen dengan mengunduh pada suatu aplikasi tertentu dan mengirimkan tugas yang diberikan melalui internet.

Meskipun pembelajaran daring saat ini sebagai solusi di masa pandemi, ternyata solusi tersebut mempunyai hambatan dan kekurangan pada pelaksanaanya. Bagi siswa ataupun mahasiswa, rasa bosan selama perkuliahan daring bisa dirasakan lantaran terlalu monoton, intonasi yang kurang bervariasi, dan tidak bisa berinteraksi secara langsung dengan teman yang lain maupun dosen/pengajar. Rasa kesepian ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kejenuhan belajar (burnout). Selain itu, sistem pembelajaran yang kurang efektif bisa mengakibatkan penyampaian materi sulit dipahami.

Baca Juga:  Pentingnya Literasi Digital Bagi Generasi Muda

Kejenuhan belajar terjadi karena adanya tuntutan bagi siswa dan mahasiswa untuk selalu memenuhi tugas-tugas yang diberikan. Kejenuhan belajar juga terjadi lantaran aktivitas yang selalu sama yang dikerjakan oleh siswa dan mahasiswa di setiap harinya. Kejenuhan belajar ini akan sangat berdampak bagi siswa dan mahasiswa dalam keberlangsungan pendidikannya. Perilaku yang ditunjukkan seseorang yang mengalami kejenuhanya itu antara lain emosi yang tidak stabil dan mudah frustasi. Kejenuhan belajar juga bisa menyebabkan menurunnya konsentrasi dan daya serap. Siswa ataupun mahasiswa cenderung bersikap sinis dan apatis terhadap pelajaran dengan munculnya perilaku kurang percaya diri dan menghindarinya serta sulit memahami pelajaran yang diberikan.

Keletihan belajar dikelompokkan menjadi 3 yaitu: keletihan indra, keletihan fisik, dan keletihan mental. Keletihan indra dan fisik bisa dihilangkan dengan istirahat yang cukup. Namun, apabila sudah terjadi keletihan mental biasanya sulit untuk diatasi. Dan keletihan mental adalah faktor primer yang menyebabkan kejenuhan belajar. Kejenuhan dalam taraf individu dapat ditunjukkan dengan adanya tanda-tanda psikologis di antaranya: affective, cognitive, physical, behavioural, dan motivational (Schaufeli and Enzmann, 1998). Situasi pandemi yang mengharuskan untuk tetap di rumah saja menambah kejenuhan bagi siswa maupun mahasiswa yang belajar secara daring.

Baca Juga:  Diduga Hendak Mencuri, Pria Asal Torjun Sampang Diamankan Warga Panyirangan

Siswa dan mahasiswa merasa bosan lantaran berada di rumah saja. Responden pada penelitian ini didominasi oleh mahasiswa kesehatan, khususnya keperawatan. Sistem pembelajaran pada mahasiswa keperawatan mempunyai jadwal perkuliahan yang begitu padat, sehingga tak jarang tugas menjadi menumpuk. Dan mayoritas penyebab stres mahasiswa Indonesia selama pandemi Covid-19 adalah tugas.

Adapun penyebab kesulitan siswa dan mahasiswa dalam memahami materi saat pembelajaran jarak jauh yaitu metode pembelajaran pengajar yang monoton. Pengajar notabenenya hanya menaruh materi melalui platform tertentu lalu memberikan tugas tanpa membahas materi. Banyaknya tugas yang diberikan oleh pengajar, menyebabkan siswa dan mahasiswa mengalami kelelahan yang amat sangat lantaran tugas yang harus dikerjakan terlalu banyak dan terkadang deadline yang diberikan juga sebentar atau berdekatan.

Tidak adanya teman belajar ketika pembelajaran jarak jauh merupakan faktor penting karena sangat berperan dan berpengaruh terhadap semangat dan motivasi belajar siswa maupun mahasiswa. Belajar bersama dengan teman akan menciptakan siswa dan mahasiswa lebih semangat untuk belajar dan saat mereka merasa bingung, bimbang, dan bosan maka ada teman yang mampu mengurangi perasaan tersebut.

Baca Juga:  Dilema Perda di Bojonegoro: Menertibkan Gepeng, Memanjakan Menara?

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa kejenuhan belajar di masa pandemi saat ini terjadi lantaran beberapa faktor. Yaitu kesulitan siswa dan mahasiswa dalam memahami materi yang disebabkan metode pembelajaran pengajar yang kurang bervariasi, banyaknya tugas yang diberikan oleh pengajar, tidak adanya teman saat belajar karena pembelajaran jarak jauh. Selain itu juga disebabkan berkurangnya konsentrasi belajar karena terlalu lama menatap layar handphone/laptop, keterbatasan kuota dan lingkungan yang kurang mendukung.

Melihat berbagai faktor yang mengakibatkan kebosanan bagi siswa dan mahasiswa itu, para pengajar atau dosen perlu motivasi dan cara belajar yang unik juga beda dari biasanya. Upaya ini harus dilakukan supaya dapat membantu supaya siswa dan mahasiswa tidak gampang bosan pada pembelajaran daring dan berhasil menyerap materi sesui harapan.

*) Mahasiswi Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang.

Berita Terkait

EDITORIAL: Bojonegoro di Persimpangan Jalan Menghidupkan Aset Mati atau Membunuh Sawah Sendiri?
EDITORIAL: Menanti Keberanian Forpimkab Membongkar Lingkaran Mafia Obat Bojonegoro
EDITORIAL: Membedah Gurita Ordal Part Dua: Ketika APBD Bojonegoro Menjadi Arisan Rezim Lama
EDITORIAL: Membedah Gurita ‘Ordal’, Ketika APBD Bojonegoro Menjadi Arisan Rezim Lama
Dilema Perda di Bojonegoro: Menertibkan Gepeng, Memanjakan Menara?
Tragedi Napis dan Ironi Rp3,6 Triliun: Menagih Nyali di Balik Janji ‘Siswa Top’
Menyingkap Tabir Mitos Bojonegoro: Antara Kearifan Lokal atau Tameng Korupsi?
Editorial: Satu Dekade BKKD Bojonegoro dan Matinya Taring Regulasi

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:05 WIB

Tukang Sapu SPBU Glagahwangi Bojonegoro yang Pernah Viral Kena PHK, Dituduh Gelapkan Uang Perusahaan

Rabu, 13 Mei 2026 - 09:39 WIB

Koperasi Desa Merah Putih Desa Ngampel, Utamakan Pengurus dan Pengelola Warga Lokal

Selasa, 12 Mei 2026 - 19:43 WIB

Bupati Bojonegoro Dampingi Wakil Panglima TNI Tinjau Kesiapan Peluncuran KDMP

Senin, 11 Mei 2026 - 17:50 WIB

Sering Jadi Penyebab Laka, Polsek kota dan Damkar Bojonegoro Lakukan Ini

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:22 WIB

Warga Manfaatkan Gudang KDKMP Grebegan untuk Senam, Kades: Upaya Meramaikan KDMP ke Depan

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:20 WIB

Dukung BUMD Pangan Bojonegoro, Eko Wahyudi: Jadi Instrumen Percepatan Asta Cita di Daerah

Sabtu, 9 Mei 2026 - 14:16 WIB

Perkuat Ketahanan Pangan, Eko Wahyudi Tekankan Sinergi Penyuluh dan Petani di Bojonegoro

Kamis, 7 Mei 2026 - 23:58 WIB

Menguak “Tanah Celengan” di Belun, dari Pengakuan Ahli Waris dan Sikap Kadin PMD “Buang Badan” terkait kasus Belun

Berita Terbaru

Politik

Menjelang Muscab PPP Bojonegoro, Suhu Politik Memanas

Senin, 11 Mei 2026 - 16:27 WIB