EDITORIAL: Menanti Keberanian Forpimkab Membongkar Lingkaran Mafia Obat Bojonegoro

- Admin

Kamis, 29 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Integritas pelayanan kesehatan di Bojonegoro kembali berada di titik nadir.

Ada dugaan praktik komersialisasi produk kesehatan oleh oknum dokter di wilayah Bojonegoro yang disertai ancaman dan intimidasi terhadap pasien, bukan sekadar riak kecil.

Ini adalah kelanjutan dari “penyakit kronis” dalam tata kelola farmasi yang seolah-olah telah mendarah daging di Bumi Angling Dharma.

Publik Bojonegoro memiliki memori kolektif yang pedih mengenai manajemen obat di fasilitas publik. Dari tahun ke tahun, isu “obat mahal” dan permainan anggaran farmasi selalu muncul ke permukaan,

Tahun 2011-2012, Skandal korupsi pengadaan obat di RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo yang melibatkan kerugian negara hingga miliaran rupiah menjadi bukti bahwa sektor farmasi adalah “ladang basah” bagi oknum tak bertanggung jawab.

Tahun 2015-2016, Sorotan tajam mengenai kekosongan stok obat di apotek RSUD yang memaksa pasien membeli obat di luar dengan harga berkali lipat,sebuah pola yang dicurigai sebagai kesengajaan untuk menguntungkan apotek atau vendor tertentu.

Baca Juga:  EDITORIAL: Bojonegoro di Persimpangan Jalan Menghidupkan Aset Mati atau Membunuh Sawah Sendiri?

Era UU Kesehatan Terbaru,Meski regulasi semakin ketat, modus kini bergeser lebih personal dan intimidatif. Oknum dokter tidak lagi bermain di level pengadaan besar, melainkan langsung “menodong” pasien di ruang periksa dengan produk MLM atau sejenis suplemen non-formularium yang harganya mencekik rakyat kecil.

Mendobrak “Pinggir Piring” Intimidasi
Hal yang paling menjijikkan dari dugaan praktik di salah satu rumah sakit di Bojonegoro adalah adanya agitasi.

Pasien yang sudah ringkih secara fisik dan mental akibat penyakit, justru ditakut-nakuti. Mereka dipaksa membeli produk “solusi” langsung dari dokter dengan ancaman kondisi akan memburuk jika menolak.

Lebih jauh, muncul fenomena memuakkan di mana pasien yang ingin protes justru diancam akan “diviralkan” atau dikriminalisasi dengan UU ITE.

Baca Juga:  EDITORIAL: Membedah Gurita Ordal Part Dua: Ketika APBD Bojonegoro Menjadi Arisan Rezim Lama

Ini adalah bentuk premanisme berkedok profesi mulia. Pasien kini berada di “pinggir piring” ketakutan,ingin teriak namun mulut mereka dibungkam oleh otoritas jas putih.

Kita tidak bisa lagi berharap pada pengawasan internal Kesehatan di Bojonegoro atau organisasi profesi yang diduga kuat telah menjadi tameng perlindungan bagi oknum-oknum ini. Forpimkab ( Bupati, Kapolres, Dandim) bersama Dinas Kesehatan harus segera,Membentuk Tim Mitigasi dan Investigasi.

Tim ini harus turun ke lapangan, melakukan audit resep secara acak, dan memeriksa aliran dana non-resmi di lingkungan RSU-RSU yang ada di Bojonegoro.

Forpimkab harus menjamin bahwa setiap pasien yang melapor akan dilindungi identitasnya dan diberikan bantuan hukum jika ada upaya kriminalisasi/intimidasi balik dari oknum dokter.

Baca Juga:  Tragedi Napis dan Ironi Rp3,6 Triliun: Menagih Nyali di Balik Janji 'Siswa Top'

Audit Hubungan Dokter-Vendor, Investigasi sejauh mana keterlibatan perusahaan farmasi atau MLM tertentu dalam mensponsori oknum-oknum dokter di Bojonegoro untuk memasarkan produk secara ilegal di fasilitas negara.

Jika Forpimkab dan Dinas Kesehatan tetap diam, maka kecurigaan publik bahwa mereka ikut “menikmati” hasil komersialisasi ini akan semakin liar.

Jangan biarkan rakyat Bojonegoro merasa bahwa rumah sakit pemerintah Daerah adalah tempat di mana mereka diperas, bukan disembuhkan.

Catatan penting dari Redaksi,Profesi dokter adalah tentang kemanusiaan. Namun, ketika oknum sudah berbisnis di atas penderitaan orang sakit, ia bukan lagi seorang penyembuh, melainkan pemangsa.

Pemkab Bojonegoro diharapkan Segera bertindak, dan pecat oknum-oknum dokter yang meciderai
profesi sebelum kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan di Bojonegoro runtuh sepenuhnya. Hentikan Mafia Obat! Lindungi Pasien dari Intimidasi Jas Putih!

Penulis : Takim

Editor : Putri

Berita Terkait

EDITORIAL: Bojonegoro di Persimpangan Jalan Menghidupkan Aset Mati atau Membunuh Sawah Sendiri?
EDITORIAL: Membedah Gurita Ordal Part Dua: Ketika APBD Bojonegoro Menjadi Arisan Rezim Lama
EDITORIAL: Membedah Gurita ‘Ordal’, Ketika APBD Bojonegoro Menjadi Arisan Rezim Lama
Dilema Perda di Bojonegoro: Menertibkan Gepeng, Memanjakan Menara?
Tragedi Napis dan Ironi Rp3,6 Triliun: Menagih Nyali di Balik Janji ‘Siswa Top’
Menyingkap Tabir Mitos Bojonegoro: Antara Kearifan Lokal atau Tameng Korupsi?
Editorial: Satu Dekade BKKD Bojonegoro dan Matinya Taring Regulasi
IMAN DAN DARAH
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 19:48 WIB

Ramaikan CFD, Tim SRJ Gowes ke Songgon Banyuwangi

Jumat, 11 September 2026 - 22:17 WIB

​Wabup Nurul Azizah Tegaskan Pentingnya Memahami Sejarah Maritim dan Kolonial Bojonegoro

Selasa, 8 September 2026 - 10:23 WIB

Goyang New Karista hingga UMKM Laris Manis, Kolaborasi Pemuda dan BKN Meriahkan Tanjungharjo

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:57 WIB

Hadir 3 September di Surabaya, Wilbex 2026 Vol 2 Siapkan Ruang Eksplorasi Anak

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:32 WIB

Semarak Merah Putih Kemerdekaan RI, Cara BRI Angkat Ekonomi Desa Doudo Gresik

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:12 WIB

DPC Demokrat Bojonegoro Serap Aspirasi Warga dalam Reses dan Perayaan HUT ke-25

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 22:10 WIB

Reog hingga Kambing Meriahkan Malam Puncak Voli Antar-RT di Desa Ngampel Kapas Bojonegoro

Selasa, 18 Agustus 2026 - 20:39 WIB

DPRD Sumenep Gelar Paripurna Penyampaian Nota Keuangan RAPBD Perubahan Tahun Anggaran 2026

Berita Terbaru

Mimi Owner SRJ Rogojampi

Daerah

Ramaikan CFD, Tim SRJ Gowes ke Songgon Banyuwangi

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:48 WIB