Menguak “Tanah Celengan” di Belun, dari Pengakuan Ahli Waris dan Sikap Kadin PMD “Buang Badan” terkait kasus Belun

- Admin

Kamis, 7 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Sengkarut Tanah Kas Desa (TKD) di Desa Belun, Kecamatan Temayang,Kabupaten Bojonegoro memasuki babak paling krusial. Hari Kamis 7/5/2026 Bojonegoro Provinsi Jawa timur.

Berita sebelumnya, Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari Hj. Henis Meindrawati, S.Pd., Kepala Desa Jono yang juga merupakan ahli waris dari silsilah keluarga yang menguasai lahan tersebut.

Ia menyebut tanah yang kini bersertifikat SHM/SHGB itu dulunya sebagai “Tanah Celengan”,. Istilah “Celengan” secara adat di wilayah Bojonegoro sering merujuk pada lahan yang pengelolaannya diberikan kepada perangkat desa atau tokoh tertentu sebagai bentuk kesejahteraan, namun status kepemilikannya tetap berada di bawah kendali desa (aset desa).

Hj. Henis mengakui bahwa status lahan tersebut sangat bergantung pada kebijakan pemerintah desa kala itu.

“Celengan… bunyinya. (Status dan kegunaannya) tergantung desa,” ungkapnya singkat melalui pesan elektronik, Kamis (7/5).

Pengakuan ini diperkuat dengan fakta bahwa Hj. Henis, sebagai anak tertua (barep), mengaku sudah mendapatkan bagian warisan di lokasi lain, sementara saudara-saudaranya sudah terpencar di luar kota.

Baca Juga:  Wujudkan Generasi Cerdas, Anis Mustofa Kawal Program GEMAR di Padangan

Hal ini memicu pertanyaan besar, Jika hak waris sudah terpenuhi di tempat lain, mengapa lahan “Celengan” di Belun bisa terbit sertifikat pribadi pada tahun 2003/2004?

Ironisnya, saat fakta ini disodorkan kepada Kepala Dinas PMD Bojonegoro, Joko Lukito, respons yang didapat justru sangat datar dan administratif.

“Aset bukan milik Dinas PMD. Yang bisa (diselesaikan) dengan gugatan,” ujar Joko Lukito.

Ia berdalih karena pihak penguasa lahan sudah memegang sertifikat, maka desa harus membuktikannya di pengadilan.

Sikap “melempar bola” ke meja hijau oleh Dinas PMD dinilai banyak pihak sebagai langkah cari aman yang mencederai fungsi pengawasan aset.

Berdasarkan regulasi, ada beberapa OPD yang seharusnya bertanggung jawab melakukan mitigasi sebelum menyuruh warga menggugat,

Hal yang berbeda yang disampaikan oleh warga desa Belun yang Engan disebut namanya, Jika tidak ada dokumen tukar guling yang sah, maka sertifikat tahun 2004 tersebut kuat dugaan cacat hukum.

Baca Juga:  Bupati Bojonegoro Berangkatkan CJH Kloter Kedua

Kejanggalan Sertifikat 2004 dan Riwayat tanah tersebut di tahun 1970-an, Munculnya SHM dan SHGB pada tahun 2004 atas lahan yang secara historis disebut “Celengan” mengindikasikan adanya celah hukum yang dimanfaatkan.

Lanjutnya,Secara aturan UUPA 1960, tanah desa tidak bisa dialihkan begitu saja tanpa prosedur pelepasan hak yang transparan.

“Masyarakat hanya ingin tahu, jika memang ada tukar guling, di mana tanah penggantinya? Mana buktinya? Jangan sampai istilah ‘kebijakan desa’ masa lalu dijadikan alat untuk merampas aset negara secara halus,” tegas seorang warga Belun yang mengawal kasus ini.

Sikap diamnya otoritas aset dan jawaban “cari aman” dari Kadis PMD seolah membiarkan desa berjuang sendirian melawan tembok birokrasi.

Padahal, dengan pengakuan dari salah satu ahli waris bahwa lahan tersebut adalah “Celengan”, pintu untuk melakukan pembatalan sertifikat secara administratif di BPN melalui rekomendasi Pemkab sebenarnya terbuka lebar.

Kini, integritas Pemkab Bojonegoro dipertaruhkan, Apakah akan membela aset negara, atau membiarkan istilah “Celengan” terkubur bersama hilangnya kekayaan desa?

Baca Juga:  Putusan Polemik Merger Dua SDN Sumberreo Menunggu Hasil Sidak dan Verifikasi DPRD Bojonegoro

Catatan Redaksi Suara bangsa:
Sikap “melempar bola” ke meja hijau oleh Dinas PMD dinilai banyak pihak sebagai langkah cari aman yang mencederai fungsi pengawasan aset. Berdasarkan regulasi, ada beberapa OPD yang seharusnya bertanggung jawab melakukan mitigasi sebelum menyuruh warga menggugat,

Dinas PMD, Berdasarkan Permendagri No. 1 Tahun 2016, PMD wajib memvalidasi Buku Inventaris Desa (BID). Jika ditemukan ketidaksesuaian antara riwayat “Tanah Celengan” dengan sertifikat yang terbit pada 2004, PMD seharusnya menginisiasi audit, bukan sekadar menyarankan gugatan.

Inspektorat Bojonegoro, Berperan sebagai benteng terakhir pencegahan korupsi aset. Jika ada indikasi “korupsi administrasi” dalam peralihan hak tahun 1970-an yang kemudian disahkan pada 2004, Inspektorat wajib melakukan pemeriksaan khusus tanpa menunggu gugatan warga.

Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Sebagai pengampu manajemen aset, BPKAD seharusnya proaktif mengejar bukti ruislag (tukar guling).

Penulis : Takim

Editor : Putri

Berita Terkait

Soroti Belanja Modal dan Bansos yang Mandek, Golkar Bojonegoro Desak Evaluasi Total APBD 2025
Realisasi Pendapatan APBD Bojonegoro 2025 Lampaui Target, Capai 110,51 Persen
Perkuat Layanan Kanker, Siloam Hospitals Surabaya Operasikan LINAC dan CT Simulator
Resmikan PT NPHI, Bupati Bojonegoro Lepas Pengiriman Perdana 7,5 Ton Chip Porang
EastFood dan AllPack Surabaya 2026, Momentum Penguatan Industri Pangan, Kemasan, dan UMKM Nasional
SDN Tanjungharjo IV Bojonegoro Padukan Konsep Modern dan Agamis, Kades Tegaskan Dukungan Pendidikan
Sukses Genjot PAD di Tengah Efisiensi Anggaran, Dinpora Bojonegoro Diapresiasi Komisi C
Sistem Pemilu Berubah, Gus Fauzan Pastikan Mesin Politik PKB Bojonegoro Siap Hadapi Tantangan 2029
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:43 WIB

Pererat Kekeluargaan, Koperasi KAREB dan PT KAS Gelar Doa, Besok bersama warga desa juga lakukan hal sama, akan Santuni Ratusan Anak Yatim

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:42 WIB

Ojol Bojonegoro Berbagi 500 Paket Takjil di Jalan Pemuda

Jumat, 13 Maret 2026 - 14:07 WIB

Ketua Projo Bojonegoro: Pengakuan Rismon Sianipar Adalah Kematian Narasi Fitnah Ijazah Jokowi

Selasa, 10 Maret 2026 - 21:27 WIB

Begini Suara Syukur dari Pedal Listrik, Kisah Lansia Bojonegoro Terima Bantuan Presiden RI Becak listrik

Jumat, 6 Maret 2026 - 21:23 WIB

Menteri LH Bersama Bupati Bojonegoro Pimpin Curve, dan Bersih-bersih di Program Indonesia Asri

Minggu, 1 Maret 2026 - 01:04 WIB

Bocil di Bojonegoro yang Sempat Dilaporkan Hilang, Keluarga Menolak Diotopsi

Kamis, 26 Februari 2026 - 11:38 WIB

Orang Tua Siswa yang Kritik MBG Dilaporkan SPPG, Begini Komentar Ketua DPC Peradi Bojonegoro

Senin, 23 Februari 2026 - 12:39 WIB

Usai Viral, Aktivitas Pungli di TBB Tidak Terlihat Lagi

Berita Terbaru