BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Seno (37) Direktur CV Putra mojodelik Manunggal tempat korban Sofi Hani bekerja terus mendampingi jenazah anak buahnya itu.
Menurut Seno, korban selalu diteror oleh mantan suaminya tersebut. Namun dirinya tidak berani ikut campur dalam masalah keluarga tersebut.
Meski kadang Sofia cerita kepadanya terkait kekerasan dalam rumah tangga dan teror yang sering dialami.
“Terjadi teror dan ancaman kekerasan rumah tangga itu kelihatan sudah sejak lama, saya tidak ikut campur karena urusan pribadi dan tadi pagi tak telpon kenapa kok marah marah, jawabnya Lia diancam oleh pelaku, dan Lia ngancam balik akan melaporkan ke polisi,” jelasnya.
Seno menambahkan, dengan adanya gertakan dan ancaman itu, pelaku mendatangi korban untuk melakukan upaya damai.
Namun yang terjadi ternyata korban sudah menyiapkan sesuatu saat datang ke kantor tersebut sudah membawa pisau dapur yang dibawa lewat tas ransel.
Seno tidak menyangka hal itu terjadi kepada wanita yang bekerja kepada dirinya kurang lebih 1,5 tahun tersebut.
Menurut Seno kurang lebih luka dua sabetan dan luka dua tusukan ada di badan korban.
“Anak anaknya yang membiayai si Sofia, dan itu juga tak sampai pada anak anaknya,” terangnya di depan kamar mayat PKU Muhammadiyah.
Saat kejadian tersebut di kantor tersebut tidak ada laki laki, yang ada hanya Husein pemilik rumah, tetangga di samping tidak berani melerai karena pelaku memegang pisau.
yang paling tahu dan saksi kunci pak Husin mas,” ucapnya.
Bahkan, Seno juga baru mengetahui jika karyawan di bidang administrasi itu mau menikah dengan orang lain.
“Saya jam 8 sudah ke lapangan mas, baru dapat kabar kalau akan nikah dan diboyong ke Jakarta dia juga tidak pernah bercerita atau mengajukan berhenti, ya baru ini baru dengar,” pungkasnya.

















