Lemahnya Pengawasan Perusahaan, Karyawan PT Tanjung Odi yang Bertatus Reaktif Masih Berkeliaran

- Admin

Jumat, 3 Juli 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP, SUARABANGSA.co.id – Ratusan karyawan PT Tanjung Odi MPGG yang dinyatakan reaktif dan dilakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing, ternyata kabarnya masih ada sebagian karyawan tersebut masih disinyalir tidak mengindahkan protokol kesehatan yaitu seperti isolasi mandiri yang diperintahkan.

Hal itu juga sempat terungkap pada saat tim Covid-19 dan petugas kesehatan mendatangi rumah para pekerja linting rokok ini. Setibanya petugas kesehatan di rumah salah satu karyawan perusahaan PT Tanjung Odi itu, ternyata kabarnya ada yang “keluyuran” dan tetap melakukan interaksi dengan keluarga dan beberapa orang lainnya. Kedatang petugas kesehatan bermaksud untuk melakukan rapid tes hingga swab, karena tidak mendapatkan data dari perusahaan.

“Dari laporan yang kami terima dari tim yang turun masih buruh pabrik besar itu yang sudah reaktif tapi masih keluyuran. Bahkan, di rumahnya mereka melakukan interaksi dengan keluarga,” jelas Kabid SDK Dinkes Nur Insan.

Baca Juga:  Jadi Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Kembalikan Suasana Keraton

Menurutnya, seharusnya karyawan yang sudah reaktif wajib diawasi secara ketat oleh pihak peruhasaan agar tidak menjadi penyebab menyebarnya mata rantai Covid 19 ini.

“Mendengar kondisi itu, berarti pengawasan kepada buruh pabrik yang reaktif terbilang cukup lemah,” ungkapnya dengan nada kesal.

Kepala PT. Tanjung Odi MPGG Sumenep, Riski Komari tidak menampik adanya karyawan yang masih keluyuran yang masih reaktif.

“Dengar iya ini langsung di kuping (adanya keluyuran, Red),” beber Riski Komari sembari menunjuk kupingnya saat diwawancarai sejumlah wartawan beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  Ini Langkah Jitu Bupati Sumenep Penuhi Kebutuhan APD Kesehatan

Selain itu, Riski Komari juga menyinggung perihal keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang juga menjadi kendala pihaknya untuk mengontrol para karyawannya tersebut. Bahkan dirinya mengakui, perusahaan tidak memiliki tim khusus untuk memantau mereka. Lanjut dia, PT. Tanjung Odi MPGG Sumenep hanya memiliki dua orang tenaga medis.

“Ini juga karena keterbatasan kami. Tapi dari awal saya minta ke teman-teman jangan kemana-mana, pakai masker, cuci tangan, berjemur, aktivitas nyuci ya nyuci. Karena mereka kondisinya sehat. Jadi di rumah saja,” imbuhnya.

Dari saking lemahnya pengawasan terhadap karyawan yang sudah reaktif, pihak perusahaan hanya bisa mengontrol karyawannya itu lewat sambungan telepon. Kata Riski Komari, pihak perusahaan selalu menanyakan kondisi dan lokasi karyawannya saat upaya telepon itu dilakukan.

Baca Juga:  Ditemani Bidan, Perempuan Ini Melahirkan di Tengah Laut

“Kami selalu menghubungi anak itu via telepon. Kamu dimana?, disini. Jadi mereka selalu melaporkan tiap pagi jam tujuh dan sore jam 4,” jelasnya.

Disinggung prihal karyawan yang melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing bisa saja berbohong tentang keadaan dan lokasinya, Riski Komari lagi-lagi berdalih, dia mengaku pihaknya menggunakan orang lain untuk bicara dengan karyawannya tersebut. Kata dia, pihaknya secara diam-diam mendengarkan percakapan telepon orang yang disuruh tersebut.

Karyawan PT Tanjung Odi yang dinyatakan reaktif sebanyak 168 dari hasil rapid tes yang dilakukan perusahaan. Dan, ada sebagian yang sudah positif.

Berita Terkait

Kasus BSPS Sumenep Segera Masuk Tahap Tuntutan
Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Logistik KPU Sumenep 2024 Memasuki Tahapan Ekspose ke Kejati Jatim
Baru Dilantik, Isu Rangkap Jabatan Pedangkat Desa Menanti Peran Kepala DPMD Sumenep
Soroti Belanja Modal dan Bansos yang Mandek, Golkar Bojonegoro Desak Evaluasi Total APBD 2025
Realisasi Pendapatan APBD Bojonegoro 2025 Lampaui Target, Capai 110,51 Persen
Perkuat Layanan Kanker, Siloam Hospitals Surabaya Operasikan LINAC dan CT Simulator
Resmikan PT NPHI, Bupati Bojonegoro Lepas Pengiriman Perdana 7,5 Ton Chip Porang
EastFood dan AllPack Surabaya 2026, Momentum Penguatan Industri Pangan, Kemasan, dan UMKM Nasional

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 18:27 WIB

PPIH Bantah Tiga Jemaah Haji Kloter 77 asal Sumenep Terlantar di Madinah

Sabtu, 13 Juni 2026 - 18:20 WIB

Sejumlah Jemaah Haji Asal Sumenep Dikabarkan Terlantar di Madinah

Sabtu, 11 April 2026 - 17:34 WIB

BEM Malang Raya Turun Jalan, Tuntut Kasus Penyiraman Air Keras Harus Diproses Secara Adil Tanpa Kompromi

Kamis, 9 April 2026 - 18:17 WIB

Aliansi Mahasiswa Dan Masyarakat Sipil Datangi Istana Merdeka, Sampaikan 3 Tuntutan Kepada Presiden RI

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:00 WIB

Gandeng Komdigi, Wihadi Wiyanto Bawa Program Literasi Digital dan Biometrik ke Bojonegoro-Tuban untuk Perangi Scamming

Sabtu, 13 Desember 2025 - 11:39 WIB

Olimpiade Sains dan Matematika Tingkat Asia (ASMOPSS) ke-15 Diikuti 6 Negara, Diselengarakan di Bojonegoro

Sabtu, 13 Desember 2025 - 07:22 WIB

Anggaran Melambung Tinggi, Dana Pokir DPRD Bojonegoro Menjadi Sorotan KPK

Sabtu, 13 Desember 2025 - 07:21 WIB

Sembilan Kades di Bojonegoro Diperiksa KPK

Berita Terbaru

IlusIlustrasi Kasus BSPS Sumenep

Daerah

Kasus BSPS Sumenep Segera Masuk Tahap Tuntutan

Kamis, 25 Jun 2026 - 12:53 WIB