DARI SAMURAI MUSASHI, KITA BELAJAR MENGENALI DIRI

- Admin

Sabtu, 3 Juni 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ahmad Inung (Prof. Dr. H. Ahmad Zainul Hamdi, M. Ag)

Miyamoto Musashi adalah salah satu samurai terhebat dalam sejarah Jepang pramodern. Kehebatannya dalam seni bela diri pedang membuat kisah hidupnya dipenuhi mitos dan legenda.

Keberhasilannya dalam menyelamatkan diri dalam perang _puputan_ antara Kekaisaran Jepang Timur (Tokugawa Ieyasu) versus Kekaisaran Jepang Barat (Toyotomi Hideyori) pada 1600 membuat namanya semakin diakui di kalangan para samurai. Apalagi, keputusannya untuk menjadi _shugyosha_, samurai pengembara untuk mengasah keterampilan seni bela diri pedang dan terlibat dalam duel-duel mematikan membuat sosoknya seperti kelebatan bayangan dewa.

Seperti pengakuannya sendiri, mungkin dia memang memiliki bakat alami untuk menjadi seorang samurai. Tidak ada satu pun pedang samurai lain yang bisa mengambil nyawanya. Pertarungan pertamanya terjadi saat dia baru berusia 13 tahun dengan hasil tewasnya seorang samurai senior yang menjadi lawannya. Duel terakhir dan terpentingnya adalah melawan Sasaki Kojiro.

Saat itu, Kojiro adalah samurai terbesar di Jepang. Dia dikenal dengan teknik pedang _tsubame gaeshi_, yang bisa diartikan “memutar pedang dengan kecepatan burung melayang-layang”.

Baca Juga:  Lebaran Bersama Muhammadiyah dan NU

Pertarungan antara Musashi melawan Kojiro terjadi pada hari Jumat, 13 April 1612, sekitar pukul 10 pagi, di sebuah pulau kecil nan sepi yang bernama Funajima. Dalam pertarungan itu, pedang Musashi berhasil meremukkan rusuk kiri Kojiro. Kojiro tersungkur dengan darah yang keluar dari hidung dan mulutnya. Kojiro tewas.

Ketika semua samurai telah dikalahkan, inilah saatnya Musashi melambungkan namanya ke puncak ketenaran. Ketika samurai terbesar telah disingkirkan, inilah momentum untuknya meneguhkan kekuasaan. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Ada kesadaran yang tiba-tiba hadir. Ketika kekuatan di luar dirinya telah ditundukkan, dia menyadari ada kekuatan lebih besar yang selama ini terbiarkan, yaitu diri sendiri.

Dua tahun menjelang kematiannya pada 19 Mei 1645, dia menulis otobiografinya. Di dalamnya banyak ajaran berharga. Salah satu kuotnya yang sangat terkenal adalah, “Tidak ada apa pun di luar dirimu yang bisa membuatmu lebih baik, lebih kuat, lebih kaya, lebih cepat, atau lebih pintar. Semuanya ada di dalam. Jangan mencari apa pun di luar dirimu.”

Membaca Musashi memberi kesempatan bagi kita untuk merenungkan diri sendiri. Merenungkan tentang apa yang pada akhirnya kita cari. Jika yang kita kejar adalah kekayaan, sebanyak apa kekayaan akan membahagiakan kita? Jika yang kita cari adalah pangkat-kekuasaan, sebesar apa kekuasaan akan menenangkan kita? Mari kita teruskan pertanyaan ini untuk berbagai hal yang sedang kita kejar.

Baca Juga:  Opini : Perjalanan 100 Tahun

Pada akhirnya kita akan menemukan bahwa segala hal yang kita kejar untuk “memuasi” diri akan bermuara di dalam diri kita. Bukan kekayaan itu sendiri yang membahagiakan, tapi bagaimana kita memaknai dan menggunakannya. Kebaikan tidak berada pada kekuasaan itu sendiri, tapi pada cara kita memanfaatkannya.

Harta dan pangkat bisa menjadi malapetaka jika dipenuhi dengan kerakusan, muslihat, dan egoisme. Bahkan, hampir seluruh perang yang memusnahkan dalam sejarah peradaban manusia bermula dari kerakusan akan harta dan kekuasaan. Tapi, di tangan manusia yang telah menemukan dirinya, harta dan kekuasaan bisa menjadi sarana untuk mencapai kebaikan dan kemuliaan.

Syams Tabrizi, seorang sufi pengembara dari Iran, guru spiritual Jalaluddin al-Rumi, suatu kali pernah menyatakan, “Ketika seorang sufi masuk ke kedai minuman, kedai minuman itu ruang ibadahnya. Tapi ketika seorang pemabuk masuk ke ruang ibadahnya, ruang itu menjadi kedai minumannya.”

Baca Juga:  Analisa Jejaring Sosial dalam Hubungannya dengan Bisnis Online

Pada akhirnya, semuanya memusat pada diri. Kesejatian tidak berada di luar sana, tapi di dalam sini. Sang Sufi al-Rumi suatu kali menulis, “Jangan melihat ke luar. Lihatlah ke dalam diri sendiri dan carilah itu.”

Semua yang ada di luar diri kita adalah ketidaksempurnaan. Sebanyak apapun kita menumpuknya, yang kita punyai hanyalah ketidaksempurnaan dan keterbatasan. Sementara, seluruh pencarian sesungguhnya adalah perwujudan kodrat manusia pada kesempurnaan, pendakian pada sang Maha Sempurna.

Kita diperkenankan memiliki apapun yang diciptakan Allah. Bahkan kita ditantang-Nya untuk menembus angkasa. Tapi semua itu hanya akan membawa kebaikan jika kita telah menemukan diri sendiri. Mengapa? Karena _”man arafa nafsahu fa qad arafa rabbahu”_ (Siapa yang menemukan dirinya, sungguh dia menemukan Tuhannya).[]

 

DISCLAIMER : Penulis tidak mengizinkan mengubah atau mengidit isi dari tulisan ini tanpa seizin penulis. Redaksi Suarabangsa.co.id tidak mengubah atau mengedit sedikitpun atas artikel atau opini ini

Berita Terkait

Hikmah Ramadhan, Tips dan Manfaat Sabar Waktu Puasa
Sah, Paripurna Penetapan 3 Pimpinan DPRD Bojonegoro Tanpa PDIP
KOMPETISI
AICIS 2023 Hasilkan Surabaya Charter, Tolak Politik Identitas
Pemkab Pamekasan Rencanakan Perbaikan Jalur Pantura
Analisa Jejaring Sosial dalam Hubungannya dengan Bisnis Online

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 19:47 WIB

Lampu Sorot di Balik Panggung Konser: Menyoal Transparansi Dana Sponsor dan CSR BPR Bank Daerah Bojonegoro

Selasa, 28 April 2026 - 12:11 WIB

Sengketa TKD Desa Belun Temui Jalan Buntu: Camat Temayang Bungkam, Dinas PMD Sebut Tak Bisa Bergerak Tanpa Dokumen

Senin, 27 April 2026 - 17:58 WIB

Wujudkan Asta Cita Melalui Otoda, Pemkab Bojonegoro Raih Prestasi Penyelenggaraan Pemerintahan Terbaik 2025

Minggu, 26 April 2026 - 11:45 WIB

HUT BPR Bojonegoro Ke-30 Menuai Sorotan: Diduga Tabrak Perda KTR dan Regulasi Sponsor Rokok

Sabtu, 25 April 2026 - 20:11 WIB

Aset Desa Berubah Jadi Milik Pribadi Ahli Waris Pemdes Sebelumnya, Program Koperasi Merah Putih Terancam Layu Sebelum Berkembang

Jumat, 24 April 2026 - 19:59 WIB

Moch Mansur: IPSI Bojonegoro Harus Tegak Lurus pada Aturan, Jangan Terpancing Klaim Sepihak

Jumat, 24 April 2026 - 08:15 WIB

KDMP di Desa Belun Bojonegoro terganjal dengan SHGB dan SHM, desa Belun terancam tidak punya KDMP

Jumat, 24 April 2026 - 08:10 WIB

Polemik Konser 3 Dekade BPR Bojonegoro: Antara Isu Anggaran Rp1,1 Miliar, Penjualan Tiket, dan Transparansi Aset Daerah

Berita Terbaru