KOMPETISI

- Admin

Kamis, 15 Juni 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ahmad Inung (Prof. Dr. H. Ahmad Zainul Hamdi, M. Ag)

SUARABANGSA.co.id — Membuktikan diri sebagai juara dan mengalahkan orang lain itu _animal instinct_ yang tertanam dalam diri manusia. Tidak ada yang bisa mengelak dari “kutukan” ini. Dalam berbagai bentuknya, setiap orang punya kecenderungan untuk menunjukkan dirinya sebagai yang terhebat. Bahkan manusia terlemah pun tidak bisa lolos dari imajinasi untuk menjadi pemenang. Nietszche menggambarkan “kodrat” manusia ini dengan istilah _“will to power”._

Peradaban manusia memiliki caranya untuk mengkanalisasi animal instinct ini. Era Romawi Kuno, terutama di era Julius Caesar, mencatat pertarungan berdarah yang disebut gladiator. Sekalipun pada awalnya ini menjadi ritual pemakaman kelas bangsawan, pada akhirnya dia berubah menjadi pertandingan hidup mati untuk menentukan _“the last man standing”_ yang layak dipuja-puja oleh para penonton seisi colosseum.

Olimpiade juga adalah salah satu cara manusia untuk mengatur hasrat untuk menjadi sang juara. Event olimpiade punya sejarah yang sangat panjang sejak ribuan tahun lalu, tepatnya pada 776 SM. Ia berasal dari pedesaan Olympia Yunani Kuno. Event ini didekasikan untuk menghormati Dewa Zeus. Olimpiade diselenggarakan untuk mencari apa yang disebut “manusia unggul” melalui sebuah kejuaraan. Coroebus, seorang pembuat roti, tercatat sebagai manusia pertama yang memenangkan Olimpiade 776 SM itu.

Baca Juga:  IMAN DAN DARAH

Sekalipun pada 391 M penyelenggaraan olimpiade pernah dilarang oleh Kisar Romawi Kristen, Theodosius, karena dianggap sebagai sisa-sisa ritual pagan, namun tunas olimpiade terus tumbuh. Hasrat manusia untuk menjadi juara terus mencari cara untuk bisa diwujudkan. Akhirnya, pada 1896, Kota Athena, Yunani, menjadi saksi penyelenggaraan olimpiade modern pertama yang terus berlanjut hingga kini.

Saat ini, istilah olimpiade memiliki gengsinya sendiri. Orang yang juara di event olimpiade dianggap sebagai manusia unggul sejagad. Sebegitu gengsinya, istilah ini kemudian digunakan untuk berbagai ragam perlombaan yang diniati sebagai event bergengsi.

Baca Juga:  Lebaran Bersama Muhammadiyah dan NU

Hari ini, Direktorat Diktis, Ditjen Pendis, Kemenag RI, menyelenggarakan sebuah olimpiade yang diberi nama OASE (Olimpiade Agama, Sains, dan Riset). UIN Syarif Hidayatullah menjadi tuan rumah penyelenggaraan event dua tahunan untuk mencati mahasiswa-mahasiswa unggul di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam se-Indonesia.

Tak ada ritual persembahan kepada Dewa Zeus, tak ada pula ketelanjangan tubuh. Yang ada hanyalah kompetisi yang diperuntukkan bahwa para mahasiswa PTKI untuk membuktikan diri bahwa mereka adalah bibit-bibit unggul di bidang ilmu agama dan sains, yang siap mendedikasikan dirinya untuk keunggulan Indonesia di masa depan.

Saya ingin mengucapkan selamat berlomba pada seluruh peserta. Sekalipun saya tidak bisa hadir di pembukaan, hati saya ada bersama kalian. Jiwa saya bergemuruh di tengah-tengah kalian. Jika ada pesan yang sungguh-sungguh ingin saya sampaikan, itu adalah “Berkompetisilah sekeras mungkin, tapi jangan lupa untuk berkolaborasi.”

Berkali-kali kita diingatkan oleh pimpinan kita, Gus Men Yaqut Cholil Qoumas, bahwa pendidikan adalah jalan panjang membangun peradaban. Jika sekedar ingin cepat, silakan jalan sendiri. Tapi jika kalian ingin berjalan jauh, kalian harus bergandengan tangan bersama. Itulah kolaborasi.

Baca Juga:  AICIS 2023 Hasilkan Surabaya Charter, Tolak Politik Identitas

Masa depan tidak ditentukan oleh para juara yang _selfish_. Masa depan dibangun dan ditentukan oleh para manusia unggul yang sanggup merentangkan tangannya untuk saling bergandengan dan berangkulan.

Saya sangat terharu nasihat seorang ayah kepada putrinya di hari kelulusan sang putri: _“Nak, go into the world and do well. But more importantly, go into the world and do good.”_ Jika kalian menjadi juara di perhelatan OASE 2023 tahun, maka ingatlah, ada yang lebih penting dari sekedar menjadi manusia juara, yaitu menjadi manusia baik.[]

 

DISCLAIMER : Penulis tidak mengizinkan mengubah atau mengidit isi dari tulisan ini tanpa seizin penulis. Redaksi Suarabangsa.co.id tidak mengubah atau mengedit sedikutpun atas artikel atau opini ini

Berita Terkait

Hikmah Ramadhan, Tips dan Manfaat Sabar Waktu Puasa
Sah, Paripurna Penetapan 3 Pimpinan DPRD Bojonegoro Tanpa PDIP
DARI SAMURAI MUSASHI, KITA BELAJAR MENGENALI DIRI
AICIS 2023 Hasilkan Surabaya Charter, Tolak Politik Identitas
Pemkab Pamekasan Rencanakan Perbaikan Jalur Pantura
Analisa Jejaring Sosial dalam Hubungannya dengan Bisnis Online

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 23:47 WIB

Kapolres Bojonegoro: Polwan Harus Jaga Marwah Polri di Dalam dan Luar Dinas

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:01 WIB

Peringati Maulid Nabi, Dandim Bojonegoro Tegaskan Pentingnya Integritas dan Moral Prajurit

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:44 WIB

Sabet Penghargaan Kategori A dari Kapolri, Kapolres Bojonegoro: Ini Bukan Tujuan Akhir

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:56 WIB

Dukungan Sponsor Sukseskan Peringatan HUT ke-81 RI di Desa Sukowati Bojonegoro, Ribuan Warga Tumpah Ruah

Kamis, 6 Agustus 2026 - 17:10 WIB

Perkuat Sinergitas, Kapolres Bojonegoro AKBP Yenni Diarty, S.I.K., M.H Gelar Silaturahmi dengan Awak Media

Selasa, 4 Agustus 2026 - 16:32 WIB

Sinergi Jogo Bojonegoro: Kapolres Baru Sambangi Padepokan PSHT Perkuat Kamtibmas

Senin, 3 Agustus 2026 - 14:28 WIB

Kapolda Jatim : Tak Ada Indikasi Kerusuhan, Masyarakat Diminta Bijak Bermedia Sosial

Rabu, 29 Juli 2026 - 19:33 WIB

Pererat Kemitraan Dengan Jurnalis, Kapolresta Sumenep Akan Siapkan Media Center di Mapolresta

Berita Terbaru