BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Langkah antisipatif diambil oleh komunitas Ojol Bojonegoro Bersatu guna menjaga kondusivitas wilayah dari potensi konflik. Belajar dari insiden keributan yang pernah terjadi di Malang dan Surabaya, perwakilan driver melakukan mediasi dengan manajemen Mie Gacoan Bojonegoro pada Rabu (7/1/2026). Bojonegoro Provinsi Jawa timur.
Ketua Ojol Bojonegoro Bersatu, Suwito yang akrab disapa Wio, menyampaikan keresahan para driver terkait ketimpangan antrean antara driver aplikasi resmi dengan layanan Jasa Titip (Jastip) partai besar.
“Kita dirugikan kalau menunggu berjam-jam tapi orderan tidak lebih dari 5 porsi, sedangkan Jastip jauh lebih banyak. Pihak ojol tidak bisa menutup layanan tersebut, harus dari pihak Mie Gacoan sendiri yang mengatur layanannya,” tegas Wio.
Menanggapi keluhan tersebut, Handy selaku Humas Mie Gacoan yang didampingi Indah selaku Store Manager (SM) area Bojonegoro, memberikan penjelasan mengenai standarisasi pelayanan mereka.
Handy mengungkapkan bahwa Mie Gacoan, yang berpusat di Malang, menerapkan aturan yang seragam di seluruh Indonesia.
“Dengan pertemuan ini saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Tapi apa yang dilakukan area Bojonegoro sudah sesuai SOP. Hampir sama SOP-nya di kurang lebih 315 outlet se-Indonesia,” terang Handy.
Meski operasional di lapangan harus patuh pada SOP yang berlaku secara nasional, pihak manajemen Mie Gacoan Bojonegoro tidak menutup mata terhadap dinamika lokal.
Handy berkomitmen untuk membawa aspirasi driver ojol Bojonegoro terkait permasalahan Jastip ini ke tingkat pimpinan pusat.
Dalam kesempatan tersebut, Handy juga memaparkan pesatnya perkembangan Mie Gacoan. Saat ini, hampir seluruh wilayah di Jawa Timur telah memiliki cabang, dan ekspansi terus berlanjut.
“Untuk Jawa Timur yang belum kita buka hanya di Pacitan, tapi Insya Allah sebentar lagi kita akan buka di sana,”terangnya.
Disela sela pertemuan wio dan para driver ojol mengatakan, Mediasi ini menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya peristiwa kelam seperti bentrok juru parkir di Tlogomas Malang atau perselisihan karyawan di Ambengan Surabaya.
“Dengan duduk bersama, diharapkan tercipta solusi yang adil bagi driver ojol sebagai mitra, maupun bagi manajemen resto dalam menjalankan bisnisnya,” pungkas Wio.
Penulis : Takim
Editor : Putri

















