Perlunya Mensterilkan Program Makan Bergizi Gratis dari Inefisiensi dan Politisasi Lokal

- Admin

Sabtu, 27 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO SUARABANGSA.co.id — Gelombang protes dari ratusan relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menggedor Gedung DPRD di Kabupaten Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban harus dibaca sebagai alarm keras bagi program unggulan nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG). Sabtu 27/6/7/2026.

Menurut Mustakim ketua DPC Projo Bojonegoro, Aksi turun ke jalan ini bukan sekadar dinamika lapangan biasa, melainkan cerminan dari rapuhnya manajemen operasional di tingkat akar rumput.

“Ketika program kemanusiaan sekaligus investasi masa depan bangsa ini mulai diusik oleh isu ketimpangan anggaran, pemerintah pusat tidak boleh tinggal diam,” Pesanya.

Menurutnya, Secara nasional skala program MBG ini sesungguhnya sangat masif. Mengacu pada data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), total pagu anggaran yang digelontorkan untuk periode 2025–2026 mencapai angka fantastis, yakni sebesar Rp339 triliun.

Dari jumlah tersebut, sebesar Rp268 triliun dialokasikan khusus untuk tahun anggaran 2026 demi melayani puluhan juta anak sekolah di seluruh penjuru tanah air.

“Di sektor infrastruktur hulu, ekspansi titik dapur terus dikebut hingga kini meluas menjadi sekitar 27.000 titik SPPG,” terangnya.

Namun, besarnya angka di atas kertas tersebut terasa sangat kontras, bahkan memicu ironi alokasi dana di lapangan.

Baca Juga:  Bupati Bojonegoro Resmikan Poliklinik Eksekutif Wijaya Kusuma, Harapkan Pelayanannya Ramah

Imbuhnya, sementara hak-hak operasional pekerja lini depan tersendat, anggaran diduga bocor untuk sektor non-substansial yang bersifat kosmetik mulai dari pengadaan CCTV, sepeda listrik, hingga kaus kaki karyawan SPPG yang dicoba diklaimkan kepada pemerintah.

Di saat yang sama, para “pemburu” titik zonasi terus menebar jala. Mereka yang dahulu tidak menaruh empati pada esensi dapur SPPG, kini mendadak sibuk mempercantik strategi demi mendapat bagian keuntungan.

Format “megah di luar, keropos di dalam” ini jelas mengkhianati substansi program MBG. Jika kebocoran dan inefisiensi anggaran terus dibiarkan, maka anggaran jumbo ratusan triliun rupiah tersebut akan terbuang sia-sia tanpa pernah menyentuh esensi peningkatan gizi anak-anak.

Kondisi ini kian paradoks jika kita melihat realitas ekonomi di wilayah Mataraman saat ini. Di satu sisi, sektor pertanian regional sedang menikmati masa jaya dengan rekor harga gabah yang menembus Rp7.500 per kilogram dan jagung yang stabil di angka Rp6.500 per kilogram.

Kesejahteraan petani yang meroket ini seharusnya menjadi modal utama bagi pasokan logistik pangan yang kuat, murah, dan berkelanjutan.

Sangat disayangkan jika hulu pertanian sudah berlimpah dan berdaulat, tetapi hilirnya justru tersendat akibat tata kelola “dapur” lokal yang karut-marut.Kegagalan sinkronisasi ini merupakan bentuk pemborosan momentum ekonomi yang amat disesalkan.

Baca Juga:  Pedagang Eceran BBM di Bojonegoro Dibatasi, Harga Pertalite di Pedagang Tidak Sama

Lebih jauh lagi menurut mustakim, tuntutan para relawan agar masalah ini diteruskan ke Badan Anggaran (Banggar) dan Komisi IX DPR RI, serta peringatan mereka mengenai potensi karut marut ini tercipta.

Meskipun rakyat Indonesia tahu “penunggangan” demi dapur partai politik menjelang Pemilu 2029, sebagai peringatan dini (early warning),Rakyat diam tapi mencatat kisah ini.Dengan puluhan ribu titik dapur SPPG yang tersebar secara nasional, jaringannya sangat rentan disalahgunakan.

“Pemenuhan gizi anak-anak bangsa wajib disterilkan dari kepentingan politik praktis maupun sekadar menjadi ajang bancakan anggaran daerah,” pesanya.

Kita tentu berharap dan barkaca yang ditampilkan pada wakil presiden kita, respons tenang dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bukan sekadar ketenangan retoris.

Publik menaruh ekspektasi besar pada latar belakang empiris beliau yang pernah membesarkan bisnis katering berskala besar seperti Chili Pari dan Markobar.

Pengalaman dalam mengelola logistik pangan, efisiensi dapur, dan manajemen rantai pasok (supply chain) berskala makro harus segera diimplementasikan untuk merapikan manajemen puluhan ribu SPPG tersebut.

Baca Juga:  Lantik Kapolsek, Kapolres Bojonegoro juga Beri Penghargaan pada Anggotanya yang Berprestasi

Oleh karena itu, DPRD di ketiga kabupaten tersebut harus segera bergerak cepat menjembatani aspirasi ini ke tingkat pusat.

Terdapat tiga langkah taktis yang harus segera diambil secara tegas.

Audit Total Alokasi Anggaran, Memotong pos anggaran seremonial dan belanja kosmetik yang tidak perlu secara ketat di setiap titik wilayah, lalu mengalihkannya secara langsung untuk meningkatkan insentif pekerja dapur serta kualitas bahan pangan anak-anak.

Standardisasi SOP Operasional SPPG, Menyusun pedoman baku pengupahan relawan secara transparan di seluruh 27.000 titik dapur agar roda operasional dapat berjalan secara adil, setara, dan manusiawi.

Sterilisasi Politisasi, Memperketat sistem pengawasan berlapis agar ekosistem dapur pangan nasional ini murni bergerak demi kemaslahatan kesehatan publik, bukan menjadi alat kampanye terselubung oleh oknum lokal.

“Jangan sampai program mulia berbiaya ratusan triliun rupiah untuk mencetak Generasi Emas 2045 ini layu sebelum berkembang,” harapnya.

Sungguh tragis jika mimpi besar ini kandas hanya karena tata kelola anggaran lokal lebih mementingkan gimmick panggung daripada kesejahteraan mereka yang berkeringat di balik dapur. Evaluasi total tata kelola operasional adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

Penulis : Arif

Editor : Putri

Berita Terkait

Resmi Dibuka, Surabaya Printing Expo 2026 Buka Peluang Baru bagi Industri Grafika Nasional
153 Perusahaan Ramaikan Surabaya Printing Expo 2026, Usung Transformasi Industri Grafika
EastFood Indonesia 2026 Bidik 20 Ribu Pengunjung, Perkuat Posisi Jatim sebagai Pusat Industri Pangan Indonesia Timur
Bupati Bojonegoro Sentil Bea Cukai, Terkait Rokok Ilegal
Niat Mengais Rezeki di Area CFD Alun-Alun Bojonegoro, Lapak PKL Terlibat Kericuhan Dengan Petugas
54 Tahun Bluebird Tumbuh Bersama Indonesia, Kelola Layanan Mobilitas di 22 Kota
Tak Sekadar Pameran Otomotif, IIMS Surabaya 2026 Hadirkan Sport Entertainment
Harapan Ketua DPRD Bojonegoro terkait KDMP yang Diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 22:50 WIB

Bupati Bojonegoro Warning KPM Gayatri: Jual Ayam Bantuan, Siap-Siap Blacklist

Selasa, 7 Juli 2026 - 22:48 WIB

DPRD Bojonegoro Sahkan Perda Pertanggungjawaban APBD 2025, Bupati Setyo Wahono: WTP Bukan Sertifikat Anti-Korupsi

Rabu, 1 Juli 2026 - 14:48 WIB

Resmi Dibuka, Pameran ALLPACK Surabaya 2026 Perkuat Daya Saing Lewat Inovasi Kemasan

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:26 WIB

Kadis DPMD Sumenep Gerak Cepat Tindak Lanjuti Perangkat Desa Rangkap Jabatan

Rabu, 10 Juni 2026 - 09:44 WIB

Kucurkan APBD Masif untuk RTLH, Pemkab Bojonegoro Sabet Penghargaan dari Gubernur Jatim

Rabu, 27 Mei 2026 - 10:24 WIB

Bupati dan wakil Bupati Bojonegoro, Sholat Idul Adha Di Masjid Berbeda, Begini Pidato Bupati Bojonegoro

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:33 WIB

Serapan Baru 26 Persen, Komisi C Warning Diknas Bojonegoro Beserta Jajarannya

Rabu, 22 April 2026 - 17:33 WIB

Perkuat Peran Perempuan dan Ketangguhan Sosial, Momentum Hari Kartini dan HUT Damkar Jadi Refleksi Pengabdian

Berita Terbaru