SURABAYA, SUARABANGSA.co.id – Transformasi digital menjadi agenda penting bagi industri grafika untuk tetap mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 hadir sebagai ruang bagi pelaku industri untuk mengenal teknologi terbaru sekaligus memperkuat kolaborasi dan inovasi di sektor percetakan.
Pameran yang berlangsung di Grand City Convention Center Surabaya pada 8-11 Juli 2026 itu diikuti lebih dari 150 peserta, termasuk 10 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berbagai inovasi ditampilkan, mulai dari digital printing, offset printing, UV printing, 3D printing, hingga web-based printing system.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin yang mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, industri percetakan memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus menjadi bagian dari rantai pasok berbagai sektor industri.
Menurut dia, subsektor percetakan dan reproduksi media di Jawa Timur mencatatkan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp27,64 triliun pada 2025. Sementara itu, industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar perekonomian Jawa Timur dengan kontribusi sekitar 31 persen terhadap PDRB.
Sherlita mengatakan, perkembangan teknologi digital dan AI perlu dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta perhatian terhadap aspek hak cipta dan perlindungan data pribadi.
“AI menjadi alat yang luar biasa untuk mempercepat pekerjaan dan meningkatkan produktivitas. Tetapi di sisi lain, ada tantangan terkait kompetensi SDM, hak cipta, hingga perlindungan data pribadi yang harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri, termasuk melalui program magang bagi siswa SMK di perusahaan-perusahaan percetakan agar mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.
Sherlita berharap Surabaya Printing Expo tidak hanya menjadi ajang memperkenalkan produk dan mesin terbaru, tetapi juga menjadi wadah transfer teknologi, pertukaran pengetahuan, serta perluasan jejaring bisnis bagi pelaku industri grafika.
Sementara itu, CEO Krista Exhibitions Daud D. Salim mengatakan SPE 2026 diharapkan menjadi katalis percepatan transformasi industri grafika, khususnya di Indonesia Timur. Menurut dia, pameran ini mempertemukan pelaku usaha dengan berbagai inovasi teknologi yang dapat meningkatkan daya saing industri.
Selain pameran teknologi, SPE 2026 juga menghadirkan seminar dan workshop mengenai pemanfaatan AI untuk desain merchandise kreatif, strategi pengembangan UMKM, serta inovasi kemasan produk sebagai upaya mendorong industri grafika yang lebih inovatif, efisien, dan berkelanjutan.
Penulis : Muji
Editor : Putri

















