BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id —Jembatan Terusan Bojonegoro–Blora (TBB) kini memiliki “penjaga” baru.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro resmi memasang portal jalan di ruas masuk jembatan yang menghubungkan Desa Luwihaji (Ngraho) dengan Medalem (Blora) tersebut pada Senin (02/02). Bojonegoro provinsi Jawa timur.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Portal setinggi 2,8 meter dan lebar 2,3 meter tersebut menjadi benteng utama untuk memastikan jalan kelas III ini tidak “dipaksa” memikul beban yang melampaui kapasitasnya.
Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, yang meninjau langsung ke lokasi pemasangan di Desa Luwihaji, menegaskan bahwa kebijakan ini adalah bentuk komitmen pemerintah dalam merawat usia pakai jembatan.
Menurutnya, laporan mengenai kendaraan bertonase berat yang kerap melintas di jalur lokal menjadi alarm bagi pemerintah untuk bertindak tegas.
“Kami sering menerima laporan bahwa kendaraan bermuatan berat masih melintas di jalur ini. Portal ini dibuat untuk keamanan dan kenyamanan bersama,” ujar Nurul Azizah di sela-sela peninjauannya.
Ia juga menambahkan bahwa selain menjaga kondisi fisik jalan, keberadaan portal ini merupakan jawaban atas usulan Pemerintah Desa setempat yang menginginkan lingkungan lebih aman bagi warga sekitar.
Batasan Teknis yang Perlu Diketahui
Secara teknis, ruas jalan menuju Jembatan TBB dikategorikan sebagai jalan lokal dengan Muatan Sumbu Terberat (MST) maksimal 8 ton.
Dengan adanya portal yang ditempatkan sekitar 200 meter sebelum jembatan, kendaraan besar secara otomatis akan tersaring.
Kepala Dinas Perhubungan, Willy Fitrama, menjelaskan bahwa pemasangan ini telah melalui rapat pematangan teknis lintas sektoral.
“Portal dilengkapi dengan barikade di bagian tengah sebagai penanda keselamatan. Tujuannya jelas, mengendalikan lalu lintas agar sesuai dengan peruntukan jalannya,” jelas Willy.
Imbuhnya, Bagi masyarakat pengguna kendaraan pribadi dan transportasi ringan, pemasangan portal ini justru memberikan rasa aman.
Arus lalu lintas menjadi lebih teratur tanpa bayang-bayang truk besar yang seringkali memicu kekhawatiran di jalur lokal yang sempit.
Pemerintah mengimbau kepada para sopir kendaraan logistik bertonase besar untuk menyesuaikan rute perjalanan mereka melalui jalur provinsi atau nasional yang tersedia.
“Melalui kebijakan ini, Pemkab Bojonegoro berharap Jembatan TBB tidak hanya menjadi sekadar penghubung antarprovinsi, tetapi juga menjadi infrastruktur yang berkelanjutan, aman, dan memberikan ketenangan bagi warga yang bermukim di sekitarnya,” pungkas Welly.
Penulis : Takim
Editor : Putri

















