BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Di tangan pemuda yang kreatif, jalan aspal yang membentang di Jalan Kabupaten Penghubung Desa Sugihwaras – Karangan. Desa Sugihwaras Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro.
Di Sugihwaras kini menjelma menjadi pusat kebugaran sekaligus motor penggerak ekonomi kerakyatan.
Minggu pagi (18/1/2026), suasana di ruas jalan kabupaten penghubung Desa Sugihwaras – Karangan tampak berbeda.
Ribuan warga memadati area yang kini disulap menjadi zona Car Free Day (CFD) atas inisiatif Komunitas ABS.
Apin, salah satu penggerak pemuda, menyoroti banyaknya teori dan konsep besar yang seringkali mandek di tengah jalan.
Baginya, anak muda tidak butuh retorika “Asal Bapak Senang” (ABS), melainkan langkah nyata yang menyentuh kebutuhan warga.
“Daripada jalan bagus hanya jadi lintasan kendaraan, lebih baik kita aksi nyata. Wat, wet, sat,set. Biar jalan ini bermanfaat dan UMKM lokal mendapat berkah,” ujar Apin,
Lanjut Apin, Prinsip ini menekankan bahwa hal kecil yang dilakukan dengan konsisten jauh lebih berharga daripada rencana besar yang tidak pernah terlaksana.
Selama ini, masyarakat desa seringkali harus menempuh perjalanan jauh ke Alun-alun kota hanya untuk menikmati suasana olahraga pagi yang nyaman.
Dengan adanya CFD lokal ini, potensi infrastruktur jalan yang sudah bagus dimanfaatkan secara maksimal.
Warga kini memiliki ruang publik sendirisebuah “pusat kebugaran terbuka” yang gratis dan mudah dijangkau. Harap komunitas anti ABS.
Hal yang sama disampaikan oleh Djaeman, dalam pesannya kepada Komunitas ABS, menekankan pentingnya manajemen yang profesional. Keberhasilan acara ini merupakan buah dari kolaborasi lintas lini.
Koordinasi intensif mulai dari tingkat Desa, Kecamatan, hingga Kabupaten.
Bagaimana Penataan lapak pedagang yang rapi agar warga lokal bisa berjualan dengan untung dan tertib.
Serta yang paling penting harus dilakukan adalah Menggandeng Karang Taruna setempat sebagai tulang punggung penggerak desa.
Dan hal ini akan Menjadi Inspirasi Bagi Desa Lain,Kemeriahan warga yang berbelanja sambil berolahraga pagi ini diharapkan menjadi pemantik api semangat bagi wilayah lain.
Model pengelolaan “Wisata Lokal Berbasis CFD” ini membuktikan bahwa desa memiliki kekuatan mandiri untuk menciptakan kebahagiaan bagi warganya sendiri.
“Jika setiap desa mampu mengelola potensi infrastrukturnya dengan cara yang kreatif dan gotong royong, maka kesejahteraan bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang dirasakan setiap pagi di depan rumah sendiri,” jelas Djaeman.
Penulis : Takim
Editor : Putri

















