EDITORIAL: Ironi Desa Talok, Saat Ego Pemimpin Membakar Nadi Pembangunan

- Admin

Selasa, 13 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Apa yang terjadi di Desa Talok, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, bukan lagi sekadar dinamika politik desa biasa.

Ini adalah potret kelam di mana tata kelola pemerintahan lumpuh total akibat ego personal yang tak kunjung padam.

Selama empat tahun terakhir, Desa Talok bukan dikenal karena inovasi atau prestasinya, melainkan karena drama perseteruan “abadi” antara Kepala Desa, Samudi, dan Sekretaris Desa, M. Alfin Budhi Prasetyo.

Benih Konflik yang Menjadi Kanker
Mundur ke tahun 2021, benih konflik bermula dari rentetan Surat Peringatan (SP) dan pelarangan Sekdes masuk kantor.
Meski sempat dimediasi dan berakhir damai, api dalam sekam itu nyatanya tidak pernah benar-benar padam.

Memasuki tahun 2024 hingga awal 2026, perseteruan ini justru bermutasi menjadi kanker birokrasi yang mematikan.
Dampaknya sangat menyakitkan bagi warga. Dana Desa (DD) tahun anggaran 2023 dan 2024 gagal dicairkan.

Baca Juga:  Aneh! BLT Dana Desa Tidak Juga Cair, Sejumlah KPM di Sampang Kembali Mengeluh

Anggaran sebesar Rp793 juta yang seharusnya menjadi aspal jalan, bantuan sosial, atau modal pemberdayaan masyarakat, membeku di kas negara hanya karena dua pimpinan desa tidak mampu bersinergi dalam administrasi.

Panggung Amuk di Gedung Rakyat
Puncak dari ketidakharmonisan ini meledak di ruang sidang Komisi A DPRD Bojonegoro, Senin (12/1/2026).

Alih-alih membawa solusi teknis untuk mencairkan Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) tahap kedua yang macet, Kades Samudi justru mengubah forum terhormat tersebut menjadi ajang luapan emosi.

Diksi kasar yang diduga keluar dari mulut sang Kades, seperti sebutan “anjing-anjing” bagi pihak yang dianggap menghambatnya, serta sikap merendahkan tokoh masyarakat yang dianggap tidak “berstempel”, adalah cermin runtuhnya etika kepemimpinan.

Baca Juga:  Mayat Tidak Dikenal Mengapung di Bengawan Solo, Warga Pilangsari laporkan ke BPBD Bojonegoro

Pernyataan Kades yang merasa “bekerja sendiri” karena empat lowongan perangkat desa belum terisi, terdengar seperti pembelaan yang rapuh di tengah rapor merah administratif dari Inspektorat.

Administrasi Bukan Soal Perasaan
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, melalui DPMPD dan Inspektorat, telah bersikap tegas:,aturan adalah panglima.

Bagaimana mungkin anggaran cair jika Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) masih bermasalah? Bagaimana mungkin pengisian perangkat desa dilakukan jika Peraturan Desa (Perdes) tentang SOTK saja belum tuntas?

Disini lah test ombak di bojonegoro,Ketegasan aparat penegak hukum (APH) kini menjadi tumpuan terakhir.

Penyelidikan Kejaksaan Negeri Bojonegoro terkait dugaan penyalahgunaan Tanah Kas Desa (TKD) dan APBDes 2024 harus diusut tuntas.

Rakyat tidak boleh lagi disuguhi pemandangan pemimpin yang mangkir dari panggilan hukum atau pemimpin yang lebih sibuk mencari kambing hitam daripada memperbaiki kinerja.

Baca Juga:  Tegaskan BUMN Bukan Milik Penguasa, Pidato Presiden Prabowo Raih Tepuk Tangan Riuh Eksekutif-Legislatif Bojonegoro

Desa Talok adalah pengingat pahit bagi kita semua bahwa kedaulatan desa berada di tangan rakyat, bukan di bawah jempol kaku seorang pejabat desa.

Jika mediasi telah gagal selama bertahun-tahun, maka instrumen hukum dan ketegasan Pemerintah Kabupaten adalah satu-satunya “obat” untuk menyelamatkan Desa Talok dari kebangkrutan sosial.

DPRD dan Pemkab tidak boleh hanya menjadi penonton dalam laga ego ini. Perlu langkah luar biasa,termasuk opsi audit kesehatan mental pemimpin desa hingga penunjukan Penjabat (Pj) Kades,jika pelayanan publik terus-menerus dikorbankan. Jangan biarkan rakyat Talok terus membayar harga mahal untuk sebuah perselisihan yang sama sekali tidak mereka inginkan.

Penulis : Takim

Editor : Putri

Berita Terkait

DPC Demokrat Bojonegoro Serap Aspirasi Warga dalam Reses dan Perayaan HUT ke-25
Reog hingga Kambing Meriahkan Malam Puncak Voli Antar-RT di Desa Ngampel Kapas Bojonegoro
DPRD Sumenep Gelar Paripurna Penyampaian Nota Keuangan RAPBD Perubahan Tahun Anggaran 2026
Rayakan HUT RI ke-81, Pemkab Bojonegoro Beri Tali Asih untuk Veteran Kemerdekaan
Pembangunan KDKMP Meddelan Lenteng Sumenep Mendapat Sorotan, Tak Sesuai Spek?
INKADHA dan BAZNAS Sumenep Bersinergi, Perkuat Pendidikan dan Pemberdayaan Ekonomi Umat
Ribuan Warga Hadiri Tasyakuran Cucu Pertama Ketua Koperasi Kareb Bojonegoro, H. Sutrisno Bagikan 1000 Paket Sembako
DVI Polda Jatim Serahkan Seluruh Jenazah Korban KM Mutiara Sentosa II Kepada Keluarga
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 20:39 WIB

DPRD Sumenep Gelar Paripurna Penyampaian Nota Keuangan RAPBD Perubahan Tahun Anggaran 2026

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 22:03 WIB

APBD Perubahan Bojonegoro 2026 Disepakati, Setyo Wahono Minta Perangkat Daerah Hindari Proyek Mangkrak

Kamis, 6 Agustus 2026 - 08:22 WIB

Banyak Kepala OPD Absen di Rapat Strategis KUA-PPAS, DPRD Sumenep Kecewa Berat

Kamis, 23 Juli 2026 - 05:18 WIB

Pembangunan Bendungan Karangnongko Deadlock, DPRD Bojonegoro Desak Pucuk Pimpinan dan APH Turun Tangan

Kamis, 23 Juli 2026 - 05:15 WIB

Bupati Setyo Wahono Ajak Media Gaungkan Layanan Unggulan RSUD dan Rencana Kampus UB di Bojonegoro

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:47 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, Pemkab Bojonegoro Salurkan Bantuan Sarana Prasarana Pertanian

Jumat, 17 Juli 2026 - 17:57 WIB

Bupati Bojonegoro: Koperasi Modern Harus Jadi Penyerap Utama Hasil Bumi, Bukan Sekadar Papan Nama

Rabu, 8 Juli 2026 - 10:51 WIB

Meski Pendapatan Lampaui Target, DPRD Bojonegoro Soroti DBH Migas hingga Program Gayatri

Berita Terbaru