Carut Marut Bansos di Bojonegoro, Data DTKS Bocor, Orang Kaya Dapat bantuan, Orang Miskin Terlewat

- Admin

Sabtu, 3 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Istilah Bantuan Sosial (Bansos) kini telah menjelma menjadi komoditas politik yang paling seksi sekaligus titik paling rapuh dalam birokrasi Indonesia.

Jika pada era 1990-an masyarakat mengenal bantuan pemerintah dalam bentuk fisik seperti bibit pohon atau ternak sapi dan kambing untuk pemberdayaan, kini bansos telah bergeser menjadi instrumen tunai dan sembako yang sangat populis.

Namun, di balik popularitasnya yang melonjak sejak era Presiden SBY hingga hari ini, sebuah masalah klasik yang kian kronis justru makin menganga, salah sasaran.

Dari penggalian laporan di lapangan menunjukkan fenomena ironis yang jamak ditemui. Di tahun 2015, di Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu, seorang warga bernama Mbah Taminah, janda lansia yang hidup sebatang kara, justru tak terdaftar sebagai penerima.

Sementara itu, beberapa rumah dengan dinding beton dan kendaraan bermotor justru rutin menerima paket sembako atau transferan tunai dari pemerintah.

Dalam investigasi awak media, masalah utama berakar pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang sering kali tidak mutakhir (update).

Baca Juga:  LPM Dialektika INKADHA Sumenep Gelar DJTD untuk Kader 2019-2020

Proses pendataan yang bersifat bottom-up dari tingkat RT/RW hingga kelurahan sering kali terkontaminasi oleh faktor kedekatan personal atau nepotisme lokal, bukan berdasarkan parameter kemiskinan yang objektif.

Tiap tahun terus berganti data, serta yang lebih ironi, tiap tahun politik bansos menjadi pilihan alat kekuasaan mulai dari pilihan presiden, pilihan bupati, sampai pilihan kepala desa.

Bansos yang seharusnya menjadi hak konstitusional warga negara, sering kali dipersonalisasi sebagai “kebaikan hati” tokoh tertentu.

“Bansos sekarang bukan lagi soal kemandirian seperti era bantuan kambing dulu. Sekarang lebih ke arah jaring pengaman jangka pendek yang sayangnya sering dijadikan alat untuk mengikat suara pemilih,” ujar Dinda, seorang aktivis kemanusiaan. Hari Jumat 2/1/2026, Bojonegoro, provinsi Jawa timur.

Potret Anggaran 2025, Nilai Fantastis di Tengah Carut Marut Data
Memasuki tahun anggaran 2025, komitmen pemerintah melalui APBN tetap mengalokasikan dana perlindungan sosial (perlinsos) dalam jumlah yang sangat besar.

Baca Juga:  Dirlantas Polda Jatim Cek Pos Pam Ops Lilin Semeru 2019 di Nganjuk

Secara nasional, anggaran perlinsos dianggarkan mencapai kisaran Rp500 triliun, yang dialokasikan untuk Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako (BPNT), hingga bantuan pendidikan (PIP).

Khusus untuk Kabupaten Bojonegoro, proyeksi kucuran dana bansos dari pusat pada tahun 2025 diperkirakan tetap menjadi salah satu yang terbesar di Jawa Timur, mengingat jumlah penduduk dan luas wilayahnya.

Berdasarkan tren alokasi, Bojonegoro diproyeksikan menerima ratusan miliar rupiah untuk bantuan reguler seperti,
PKH (Program Keluarga Harapan), Untuk puluhan ribu Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

BPNT (Bantuan Pangan Non-Tunai), Yang kini disalurkan dalam bentuk uang tunai melalui perbankan.

BLT Dana Desa,Yang bersumber dari Dana Desa (DD) APBN untuk menyasar warga miskin ekstrem di pelosok desa.
Besarnya angka ini menjadi pisau bermata dua.

Di satu sisi, anggaran ini diharapkan mampu menekan angka kemiskinan di Bojonegoro, namun di sisi lain, tanpa perbaikan validasi data di lapangan, anggaran miliaran rupiah tersebut berisiko kembali “sasarannya meleset” ke rumah-rumah berdinding beton seperti yang dikeluhkan beberapa warga selama ini.

Baca Juga:  Dirreskrimsus Polda Jatim Pastikan Tidak Ada Tabung Oksigen Palsu Tulungagung

Dampak Nyata di Masyarakat
Ketidak tepatan sasaran ini menciptakan riak sosial di tingkat bawah, Kecemburuan Sosial, Gesekan antar tetangga karena ketidakadilan pembagian bantuan.

Ketergantungan, Masyarakat cenderung menunggu bantuan daripada diberdayakan untuk mandiri secara ekonomi.

Pemborosan Anggaran, Triliunan rupiah uang negara secara nasional dan miliaran di tingkat daerah mengalir ke kantong mereka yang secara ekonomi sudah tidak layak disebut “miskin”.

Sampai berita ini ditulis Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bojonegoro Agus Susetyo Hardiyanto, S.STP., Belum bisa dikonfirmasi.

Catatan Redaksi: Perjalanan bansos dari bantuan ternak di era Orde Baru hingga menjadi bantuan tunai hari ini mencerminkan perubahan cara negara memandang kemiskinan.

Namun, selama “lubang” pada data penerima belum ditambal secara digital dan transparan, bansos akan terus menjadi instrumen yang rawan disalahgunakan baik secara administratif maupun politik.

Penulis : Takim

Editor : Putri

Berita Terkait

Perwakilan Kodim Sumenep Tidak Hadiri FGD Tentang Pembangunan KDKMP, Peserta Kecewa
KDKMP di Sumenep Disorot, DPRD Singgung Lelang, Kepala Desa Minta Dilibatkan
Amos Gelar FGD Bertajuk ‘Pembangunan KDKMP: Antara Bisnis atau Proyek?’, Soroti Tatakelola
Sahkan Perda Pariwisata dan Kabupaten Layak Anak, Bupati Bojonegoro: Bukti Sinergi Kuat Pemkab dan DPRD
Terima Penghargaan di Malang, Cantika Wahono Beberkan Kunci Sukses Inovasi PKK Bojonegoro
Peringati Harkopnas ke-79, Pasar Wisata Bojonegoro Dipadati Ribuan Peserta Jalan Sehat
Bupati Setyo Wahono Lepas Jalan Sehat Harkopnas: Koperasi Pilar Utama Ekonomi Bojonegoro
Lewat Program IVF Morula Surabaya, Pasutri Sumenep Akhirnya Miliki Bayi Kembar Setelah 22 Tahun
Tag :

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:05 WIB

Tim DVI Berhasil Ungkap Identitas Lima Korban KMP Mutiara Sentosa II

Kamis, 2 Juli 2026 - 14:28 WIB

Ribuan Relawan MBG di Pamekasan Gelar Aksi, Dukung Keberlanjutan MBG

Senin, 22 Juni 2026 - 20:13 WIB

Demo Program MBG di Bojonegoro, Massa Desak KPK Turun Tangan, DPRD Ancam Tutup Dapur Nakal

Sabtu, 13 Juni 2026 - 18:27 WIB

PPIH Bantah Tiga Jemaah Haji Kloter 77 asal Sumenep Terlantar di Madinah

Sabtu, 13 Juni 2026 - 18:20 WIB

Sejumlah Jemaah Haji Asal Sumenep Dikabarkan Terlantar di Madinah

Sabtu, 11 April 2026 - 17:34 WIB

BEM Malang Raya Turun Jalan, Tuntut Kasus Penyiraman Air Keras Harus Diproses Secara Adil Tanpa Kompromi

Kamis, 9 April 2026 - 18:17 WIB

Aliansi Mahasiswa Dan Masyarakat Sipil Datangi Istana Merdeka, Sampaikan 3 Tuntutan Kepada Presiden RI

Jumat, 6 Maret 2026 - 14:33 WIB

Gara-gara Mercon, Warga Batuputih Gagal Rayakan Lebaran, Rumah Luluh Lantak

Berita Terbaru