Pedagang Kakatua Maluku Diringkus Ditreskrimsus Polda Jatim

Blibli

SURABAYA, SUARABANGSA.co.id – Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) mengungkap jaringan penjual Satwa ilegal. Dengan penjualannya dilakukan secara online, melalui akun media sosial.

“Dalam pengungkapan kasus itu, dilakukan Subdit lV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim. Dengan tersangka sebanyak lima orang,” ujar Kapolda Jatim Irjrn Pol Drs. Luki Hermawan.

Sebelumnya, nggota Subdit lV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim, mendapatkan informasi dari masyarakat, tentang adanya, dugaaan tindak pidana perdagangan Satwa yang dilindungi. Terjadinya di wilayah hukum Kabupaten Trenggatek.

“Setetah dilakukan proses penyelidikan, berhasil menangkap seorang pedagang spesialis satwa dilindungi, yang kemudian dilakukan pengembangan dan menangkap tiga orang pelaku, di wilayah Kabupaten Tulungagung,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kakorlantas Apresiasi Program Sistem E-TLE

Dari hasil penangkapan itu, kemudian anggota melakukan pengembangan terhadap jaringan pelaku satwa dilindungi di wilayah Kota Surabaya.

“Anggota berhasil mengamankan barang bukti Satwa dilindungi berupa 27 ekor Kakatua Maluku (Cacatua Moluccensis). Kemudian, dilakukan pengembangan lagi dan dilakukan penangkapan satu orang pelaku terhadap pedagang kerajinan laut dengan menggunakan bahan berupa bagian satwa dilindungi di wilayah Kabupaten Situbondo (tersangka IS),” ungkapnya.

Menurut keterangan Saksi dari BBKSDA Jawa Timur, perbuatan tersangka AS, SM, FS dan DK tersebut telah melanggar Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf a dan b Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Baca Juga:  Modus Tawarkan Jasa Pijat, Warga Surabaya Ini Gasak HP Temannya

Para pelaku ini, telah melakukan kegiatan memperdagakan satwa yang dilindungi tersebut selama dua tahun, mulai tahun 2018 sampai dengan tahun 2020.

Dan juga, lanjut dia, pelaku mendapatkan satwa dilindungi dari jaringan perdagangan satwa nasional melalui group media sosial. Selain itu, para memperdagangkan satwa ini, memperdagangkan dengan melalui media sosial dengan cara sistem terputus.

“Adapun satwa dilindungi yang diperdagangkan oleh para pelaku ini, berasal dari, Kakatua Maluku (Cacatua Moluccensis) berasal dari Maluku Selatan (hutan primer dan sekunder Pulau Seram, Ambon, pulau Haruku dan Saparua). Dijual dengan harga minimal Rp. 5.000.000,” jelas Kapolda Jatim Irjen Pol Drs. luki Hermawan.

Baca Juga:  Membanggakan, Dua Siswa Al-Karimiyyah Borong Juara di OKARA 2020
Blibli

Leave a Reply