Sengkarut MBG Bojonegoro: Kuota Jadi Rebutan, Koperasi Desa Merah Putih Masih Jadi Bayangan

- Admin

Minggu, 4 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Pemerintah Pusat dengan program melawan stunting dan meningkatkan ekonomi petani Bojonegoro Provinsi Jawa timur.

Di tengah ambisi besar menyalurkan nutrisi bagi ratusan ribu warga, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Bojonegoro kini justru terjebak dalam pusaran polemik.

Saat tokoh politik lokal sibuk “ribut” soal pembagian kuota porsi melalui SPPG mandiri, pilar utama yang seharusnya menyokong kemandirian pangan daerah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) justru belum menunjukkan geliatnya. (Minggu 4/1/2026).

Menurut Mustakim selaku ketua Dewan Pimpinan Cabang Projo Bojonegoro​Secara konsep, Koperasi Desa Merah Putih dirancang sebagai tulang punggung (hub) logistik yang menyambungkan petani lokal dengan dapur-dapur MBG.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan realita yang kontras, Pembangunan fisik gedung koperasi di tingkat desa banyak yang belum tuntas. Alih-alih menjadi pusat distribusi bahan baku segar, bangunan tersebut masih berupa proyek yang belum bisa difungsikan secara optimal.

Baca Juga:  Polemik Pembayaran Vendor JTB, PT Rekind Sebut Sudah Ada Pembayaran Tiap Bulan

Hingga awal 2026, dari 430 KDMP yang sudah terbentuk belum ada arah bisnis untuk menyokong rantai pasok SPPG.

Akibatnya, dapur-dapur MBG bergerak sendiri-sendiri, seringkali terjebak pada tengkulak besar atau supplier luar daerah, yang berujung pada tingginya biaya produksi dan merosotnya kualitas bahan baku.

​Kritisnya situasi ini diperparah dengan perilaku elit politik Bojonegoro yang lebih fokus pada “perang kuota”. Perebutan jatah porsi antar SPPG milik tokoh politik ini dinilai mengabaikan standar fundamental keamanan pangan.

​”Sangat ironis melihat para elit ribut soal berapa ribu porsi yang bisa mereka kelola, sementara bangunan Koperasi Merah Putih yang seharusnya menjadi penjamin kualitas bahan baku lokal justru dibiarkan tidak tuntas,” ungkap Mustakim Ketua DPC Projo Bojonegoro.

​Imbuhnya, Karena koperasi belum berfungsi sebagai pengontrol kualitas, dapur-dapur mandiri yang diduga belum memiliki SLF (Sertifikat Laik Fungsi) dan PBG nekat beroperasi dengan standar sanitasi seadanya, memicu laporan makanan basi di masyarakat.

Baca Juga:  Banmus DPRD Bojonegoro Tentukan Tanggal 20 Paripurna KUA PPAS 2024

“​Petani Bojonegoro hanya menjadi penonton. Dana MBG yang seharusnya berputar di desa melalui koperasi, justru terserap ke kantong-kantong pengusaha yang memiliki kedekatan politik,” terangnya.

​Desakan DPC Projo Bojonegoro Audit Total dan Fungsikan Koperasi.!

Mustakim selaku ketua ​DPC Projo Bojonegoro kembali menegaskan bahwa Seharusnya Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Aparat Penegak Hukum (APH) harus melihat kegagalan sinkronisasi antara SPPG dan Koperasi Desa Merah Putih ini. Dua proyek besar ini harus segera di audit agar tidak timbul proyek mangkrak dibelakang hari.

Tanpa koperasi yang berfungsi, transparansi anggaran MBG akan sulit dicapai karena rantai pasoknya menjadi “gelap” dan tidak terdata.

Baca Juga:  Imbas PPKM Diperpanjang, Omzet Penjual Bendera dan Umbul-umbul Agustusan di Sampang Menurun Drastis

​Mustakim yang akrab di panggil djaeman menyerukan agar pemerintah pusat tidak hanya mengaudit dapur-dapur MBG di Bojonegoro, tetapi juga mengusut mengapa proyek bangunan Koperasi Desa Merah Putih belum tuntas dan belum memberikan kontribusi pada program MBG.

Tambahnya,​ Bojonegoro tidak butuh panggung politik di atas piring makan anak-anak sekolah. Audit menyeluruh adalah jalan satu-satunya untuk Menghentikan praktik-praktik monopoli kuota oleh oknum politik.

Imbuhnya Pemerintah segera tuntaskan infrastruktur Koperasi Merah Putih dan segera membangun bisnisnya, agar menjadi penyokong utama gizi desa.
Dan pemerintah dengan tegas ​Menutup SPPG ilegal yang tidak memenuhi standar bangunan (PBG/SLF) dan higienitas (SLH).

“​Jika Koperasi Desa Merah Putih tetap dibiarkan mati suri sementara kuota MBG terus diperebutkan, maka program MBG di Bojonegoro hanya akan menjadi proyek seremonial,yang membahayakan kesehatan masyarakat demi keuntungan segelintir elit,” pungkasnya.

Penulis : Takim

Editor : Putri

Berita Terkait

DPMD Sumenep Mulai Proses Tahapan Pilkades Serentak 2027
Independensi PWI Dipertanyakan: Rangkap Jabatan BUMN Pengurus PWI Pusat Disorot Tajam
Wisata Sumber Grogolan Bojonegoro Diserbu Ribuan Pengunjung, UMKM Ikut Panen Berkah
Gantikan Night Carnival, Festival Sandur dan Pesta Rakyat Meriahkan HJB ke-349
Plat ‘G 1812 AN’ Nyelonong di Pawai Api Abadi, Kapolres Bojonegoro Buka Suara
Peringati HSN 2026, Bupati Bojonegoro Ajak Santri Kuasai Teknologi Menuju Indonesia Emas
Ketika Barongsai, Reog, dan Polisi Cilik Menyatu dalam Panggung Hari Santri Bojonegoro
DPRD Bojonegoro Sahkan Perda Perlindungan Perempuan dan Anak
Tag :

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:01 WIB

DPMD Sumenep Mulai Proses Tahapan Pilkades Serentak 2027

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Independensi PWI Dipertanyakan: Rangkap Jabatan BUMN Pengurus PWI Pusat Disorot Tajam

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:51 WIB

Wisata Sumber Grogolan Bojonegoro Diserbu Ribuan Pengunjung, UMKM Ikut Panen Berkah

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:22 WIB

Gantikan Night Carnival, Festival Sandur dan Pesta Rakyat Meriahkan HJB ke-349

Jumat, 23 Oktober 2026 - 03:28 WIB

Peringati HSN 2026, Bupati Bojonegoro Ajak Santri Kuasai Teknologi Menuju Indonesia Emas

Jumat, 23 Oktober 2026 - 03:24 WIB

Ketika Barongsai, Reog, dan Polisi Cilik Menyatu dalam Panggung Hari Santri Bojonegoro

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:53 WIB

DPRD Bojonegoro Sahkan Perda Perlindungan Perempuan dan Anak

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:03 WIB

BNC 2026 Batal Digelar: Lebih Baik Uang Rakyat untuk Kemiskinan dan Wisata Desa

Berita Terbaru

Daerah

DPMD Sumenep Mulai Proses Tahapan Pilkades Serentak 2027

Senin, 26 Okt 2026 - 19:01 WIB