Lampu Merah di Sampang Jadi Spot Favorit Manusia Badut dan Pengamen Jalanan

- Admin

Selasa, 30 November 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAMPANG, SUARABANGSA.co.id — Banyak cara yang bisa dilakukan untuk tetap bertahan hidup ditengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi Covid-19. Di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, misalnya, makin banyak orang banting profesi menjadi pengamen boneka atau manusia badut.

Tak hanya manusia badut, para pengemis dan pengamen juga semakin menjamur di kota Bahari. Tidak hanya beroperasi di lampu merah, sebagian dari mereka juga ada yang berkeliling untuk meminta-minta belaskasih masyarakat.

Mereka mudah ditemukan hampir di titi-titik traffic lights diwilayah Kabupaten Sampang. Biasanya para badut itu mencoba menghibur orang untuk bisa mendapatkan uang.

Namun, dibalik keriangannya, ada duka tersembunyi dalam kostum badut jalanan. Mereka harus tetap kuat demi bisa menyambung nyawa keluarga.

Baca Juga:  Tabungan Raib Ditarik Orang Tak Dikenal, Nasabah di Sampang Minta Bank BCA Tanggung Jawab

Dengan keringat bercucuran dan napas yang tersengal-sengal karena mulai dari kepala hingga ujung kaki tertutup dengan kostum, badut jalanan ini berjibaku di bawah teriknya matahari dan udara berpolusi.

Lengkap dengan kaleng yang sudah disiapkannya, Herman (51), dengan kostum yang lumayan berat, menghampiri tiap kendaraan yang sudah mengantre di lampu lalu lintas, berharap mendapatkan uang berapapun jumlahnya.

Ia berkeliling mengharap uang dari tiap pengendara. Kadang ada yang memberinya Rp2.000 – Rp5.000, bahkan tak jarang hanya lambaian tangan dan banyak yang tak memberi respons dengan kaca tertutup.

Menggunakan setelan ‘Boneka Mickey Mouse’ warna dominasi merah, Herman nampak menggoyang-goyangkan pantatnya diiringi musik dangdut koplo, sambil sesekali menyorongkan satu wadah kecil, minta belas kasian dari setiap uang recehan yang dilemparkan para pengguna jalan.

Baca Juga:  Wisatawan Berdatangan, Prokes di Pantai Wisata Camplong Sampang Diawasi Secara Ketat

“Ya, sekarang cari kerjaan susah pak. Mungkin jalan satu-satunya untuk bertahan hidup dengan cara seperti ini,” ujarnya saat ditemui kontributor suarabangsa.co.id, di lampu merah Duwek Pote, Selasa (30/11/2021).

Sambil memutar musik dari sebuah tape recorder dan speaker portable mereka berjoget di depan antrean kendaraan yang menunggu lampu hijau.

Begitu lampu lalin menjadi warna hijau, kembali ia duduk, lalu membuka kostum boneka bagian kepala, untuk sekedar menghirup udara segar sambil menunggu lampu rambu berubah kembali berwarna merah.

“Yang sedih itu kalau ga dihirauin. Mending ditolak, dikasih kode gitu tapi kalau mereka diam aja, kami jadi bingung. Ada juga yang ngasih tapi dengan pandangan hina dan sinis. Sudah biasa. Saya harus ikhlas,” aku Herman di sela kisahnya.

Baca Juga:  Tukang Becak di Sumenep Tiba-tiba Meninggal Saat Mengantar Penumpang

Menurut Herman, jalan hidup menjadi pengamen boneka bukanlah impian yang diharapkan, namun kerasnya menjalani hidup, terutama akibat desakan ekonomi selama pandemi, bapak lima anak ini rela turun ke jalan untuk memenuhi kebutuhan.

“Lumayanlah buat nyambung-nyambung agar dapur tetap ngebul. Jika ada peluang usaha yang lebih baik saya mau jalani, tapi saat ini sepertinya mau jalani ini (pengamen boneka) dulu,” pungkasnya, sambil tersenyum ramah, sesaat setelah kepala boneka yang ia gunakan sengaja dibuka.

Berita Terkait

Raker 2027, SMSI Sumenep Bidik Media Lokal Go Nasional
Dihadiri 11.000 Pelari, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 Sumbang PDRB Rp41 Miliar
Perayaan Emas Koperasi Kareb: Sebar 7.000 Paket Sembako dan Gelar Wayang Semalam Suntuk
Surabaya ISOPLUS Marathon 2026, Digelar 4 Oktober Sejumlah Ruas Jalan di Surabaya Dialihkan
Tak Gengsi Jualan di Pinggir Jalan, Pemuda 24 Tahun dari desa Wedi Buktikan Mandiri Secara Ekonomi
Polda Jatim Ungkap Ribuan Kasus Narkoba Triwulan III, Amankan Lebih dari 2.300 Tersangka
Pemerintah Desa Ngumpakdalem Gelar ‘Blusukan Kampung’, Gaet 2.000 Warga dan Dorong UMKM Lokal
Puncak HUT ke-50 Koperasi Kareb: Langkah Progresif Menuju Ekosistem Koperasi Modern

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:49 WIB

Raker 2027, SMSI Sumenep Bidik Media Lokal Go Nasional

Minggu, 4 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Dihadiri 11.000 Pelari, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 Sumbang PDRB Rp41 Miliar

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Perayaan Emas Koperasi Kareb: Sebar 7.000 Paket Sembako dan Gelar Wayang Semalam Suntuk

Rabu, 30 September 2026 - 15:23 WIB

Tak Gengsi Jualan di Pinggir Jalan, Pemuda 24 Tahun dari desa Wedi Buktikan Mandiri Secara Ekonomi

Rabu, 30 September 2026 - 13:25 WIB

Polda Jatim Ungkap Ribuan Kasus Narkoba Triwulan III, Amankan Lebih dari 2.300 Tersangka

Senin, 28 September 2026 - 09:41 WIB

Pemerintah Desa Ngumpakdalem Gelar ‘Blusukan Kampung’, Gaet 2.000 Warga dan Dorong UMKM Lokal

Senin, 28 September 2026 - 09:38 WIB

Puncak HUT ke-50 Koperasi Kareb: Langkah Progresif Menuju Ekosistem Koperasi Modern

Sabtu, 26 September 2026 - 14:03 WIB

SMSI Sumenep Gelar Sekolah Melek Media Bagi Guru SDN

Berita Terbaru

Daerah

Raker 2027, SMSI Sumenep Bidik Media Lokal Go Nasional

Senin, 5 Okt 2026 - 20:49 WIB