BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Rencana PT BPR Bank Daerah Bojonegoro (Perseroda) menghadirkan band Ungu dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 pada 23 Mei mendatang terus memantik sorotan tajam. Hari Senin 4/5/2026 Bojonegoro provinsi Jawa timur.
Langkah bank plat merah ini mengundang grup musik dengan vokalis seorang politisi aktif dinilai rawan memicu persepsi publik mengenai netralitas institusi daerah.
Meski agenda tersebut diklaim murni sebagai ajang promosi dan apresiasi nasabah dan ulang tahun PT BPR Bojonegoro yang ke 30 tahun.
keterlibatan Sigit Purnomo Said alias Pasha yang merupakan tokoh sentral Partai Amanat Nasional (PAN) di tengah dinamika politik lokal Bojonegoro menjadi titik krusial yang diperdebatkan publik saat ini,saat PT BPR Bojonegoro dalam ulang tahun nya menjadi sorotan yang tajam.
Ketua DPD PAN Bojonegoro, Lasuri, menegaskan bahwa partainya tidak akan mengambil peran dalam kedatangan Pasha. Ia memastikan tidak ada instruksi khusus kepada kader untuk melakukan mobilisasi massa atau penyambutan bersifat kepartaian.
“Meskipun Pasha adalah kader PAN, kami juga tidak ada menginstruksikan kader PAN harus melihat,” ujar Lasuri saat dikonfirmasi.
Lebih lanjut, Lasuri menampik spekulasi adanya fasilitas partai dalam gelaran tersebut. Dengan nada seloroh, ia menyebut bahwa pengerahan kader justru akan membebani kas partai.
“Kalau kami instruksikan berarti tiket sama saku-nya kita yang nanggung,” kelakarnya, mengisyaratkan bahwa kehadiran Pasha adalah urusan profesional Event Organizer (EO) dengan pihak BPR.
Kendati pihak partai telah memberikan klarifikasi, sejumlah pengamat kebijakan daerah tetap mengingatkan pentingnya transparansi anggaran dalam penggunaan artis yang memiliki profil politik tinggi.
Sebagai BUMD, BPR Bojonegoro dituntut untuk memastikan bahwa acara yang dibiayai dari dana perusahaan (yang sebagian merupakan aset daerah) tidak bertransformasi menjadi panggung kampanye terselubung.
Hingga saat ini, pihak penyelenggara belum memberikan rincian detail mengenai besaran anggaran yang dialokasikan untuk mendatangkan band papan atas tersebut di tengah kondisi ekonomi daerah yang sedang menjadi sorotan.
Dan perjanjian pembagian hasil antara PT BPR Bojonegoro dengan EO dalam gelaran event tersebut,sampai saat ini belum ada kepastian.
Publik kini menantikan apakah panggung 23 Mei nanti benar-benar menjadi kado ulang tahun bagi nasabah BPR, atau justru menjadi ruang bagi narasi politik yang terbungkus rapi dalam nada-nada lagu populer.
Sinergi antara pengamanan ketat dan pengawasan masyarakat menjadi kunci agar perayaan tiga dekade Bank Daerah Bojonegoro ini tidak meninggalkan residu persoalan di kemudian hari.
Penulis : Takim
Editor : Putri

















