Dinas Pertanian Probolinggo Lakukan Sosialisasi Pengendalian OPT

- Admin

Minggu, 25 September 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO, SUARABANGSA.co.id – Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo terus menerus berupaya untuk memberikan pengetahuan dan sosialisasi pengendalian Organisme Pengangu Tumbuhan (OPT) bagi semua petani Tembakau dilingkungan pemerintah kabupaten Probolinggo Minggu 25-09-2032

Kegiatan ini dilakukan di 8 (delapan) kelompok tani (poktan) di Kabupaten Probolinggo. Yakni, Poktan Rukun Tani 3 dan Poktan Bina Sejahtera Tiga Kecamatan Pakuniran, Poktan Tani Makmur III Kecamatan Bantaran, Poktan Sumber Makmur dan Poktan Tani Makmur Kecamatan Gading, Poktan Hasil Tani Satu Kecamatan Besuk, Poktan Tani Agung II Kecamatan Kraksaan dan Poktan Sumber Abadi Kecamatan Krejengan.

Setiap poktan, kegiatan ini diikuti oleh 40 orang petani tembakau dengan menggunakan alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun 2022. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi tentang identifikasi OPT yang menyerang tanaman tembakau dan praktek lapangan untuk identifikasi OPT secara langsung.

Untuk narasumber berasal dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BB-PPTP) Surabaya dan Diperta Kabupaten Probolinggo. Selain itu, petani tembakau juga diajak praktek pembuatan pupuk organik berbasis pada spesifik lokasi.

Baca Juga:  Pemkab Pamekasan Gratiskan Rapid Tes Antigen Bagi Santri

“Kita memberikan kegiatan ini untuk memberikan edukasi kepada petani kaitannya untuk bisa membedakan jenis-jenis OPT yang menyerang tembakau mulai dari hama, penyakit atau virus dan gula. Karena penanganannya berbeda,” kata Kepala Diperta Kabupaten Probolinggo melalui Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Muda Muhlisin.

Muhlisin menjelaskan di OPT tembakau tidak bisa hanya berbicara saja, tetapi dituntut kemampuan petani untuk mengidentifikasi yang tepat dan benar. Harapannya petani mampu melakukan upaya pengendalian OPT secara efektif dan efisien serta tepat sasaran.

“Ketika petani tidak bisa mengidentifikasi OPT maka penanganannya tidak efisien serta membuang waktu dan biaya. Ini merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan petani dalam mengidentifikasi OPT yang menyerang tembakau,” jelasnya.

Menurut Muhlisin, petani harus paham terhadap OPT yang menyerang tanaman tembakau. Untuk hama contohnya adalah ulat grayak dan kutu-kutu yang menyebabkan tanaman menjadi keriting. Solusinya dengan melakukan monitoring seawal mungkin.

Baca Juga:  Pemkab Probolinggo Lakukan Optimalisasi Layanan Adminduk

“Semakin sering monitoring di lahan maka otomatis pengendalian lebih cepat. Pengendalian menggunakan pestisida ketika populasinya diambang batas kerusakan. Kalau 10 ekor per meter persegi ini termasuk ambang batas pengendalian. Tidak disalahkan ketika menggunakan pestisida kimia. Jika dibawahnya bisa menggunakan pestisida organik atau nabati,” terangnya.

Untuk penyakit terang Muhlisin, bisa disebabkan oleh curah hujan tinggi. Sebab hal ini akan menyebabkan kelembaban tanah yang mengakibatkan jamur dan bakteri yang menyebabkan tanaman jadi layu. Solusinya harus terus memantau prakiraan cuaca dari BMKG atau membuat guludan tanah.

“Sementara untuk gulma misalnya adalah suket teki yang dikenal sebagai kompetisi. Suket teki ini akan bersaing dengan tanaman induknya. Solusinya sering dilakukan eradikasi atau pembersihan,” tegasnya.

Selain melakukan identifikasi OPT kata Muhlisin, petani tembakau juga diajari praktek pembuatan pupuk organik berbasis pada spesifik lokasi. Sebab di lahan pertanian banyak bahan-bahan organik yang belum dimanfaatkan seperti kotoran ternak dan bahan nabati.

Baca Juga:  Disperindag Probolinggo Jalin Kerjasama dengan CV Bolinggo CLT

“Kita mengedukasi petani tembaku membuat pupuk cair atau padat. Ini penting dilakukan karena per 1 Agustus, jatah pupuk bersubsidi tembakau dicabut. Kita kembali kepada era sebelum mengenal pupuk kimia,” ujarnya.

Lebih lanjut Muhlisin mengajak petani tembakau kembali ke era swasembada yang hanya menggunakan kotoran ternak. Namun sekarang ada sentuhan teknologi supaya kotoran ternak siap saji dengan aplikasi efektif mikroorganisme untuk mempercepat pelapukan pupuk organik sehingga bisa cepat terserap tanaman.

“Itu upaya untuk edukasi petani supaya lebih menekan biaya berbudidaya tanaman. Harapannya ketika budidaya menjadi murah dan tingkat kesejahteraan petani akan meningkat. Sebab dicabutnya pupuk bersubsidi sedikit berpengaruh terhadap pola pikir petani,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini Muhlisin mengharapkan petani mampu untuk melakukan jenis pengendalian secara efektif dan efisien yang dipengaruhi oleh pengetahuan petani dalam mengidentifikasi OPT.

“Petani mampu menentukan waktu karena aplikasi penggunaannya ada waktu melihat dari kebiasaan OPT,” pungkasnya.

Berita Terkait

Pemkab Sampang Terus Distribusikan Air Bersih Bagi Warga Terdampak Kekeringan
DHL Express Perkuat Keamanan Logistik, Surabaya Gateway Kini Bersertifikat TAPA
Misteri Kurang Salur ADD : Kepala Bapenda Bojonegoro Ngaku Tak Punya Data 2015–2021
Lepas Ketergantungan Migas, Bojonegoro Bidik Agroindustri Lewat 5 Perda Baru
DPRD Bojonegoro Bahas Perubahan 5 Raperda, FPPKN Tegaskan Catatan Penting
Bupati Setyo Wahono Sampaikan Nota Penjelasan 5 Raperda dalam Paripurna DPRD Bojonegoro
Perkuat Sinergi, SMSI Bojonegoro dan Bupati Setyo Wahono Bahas Ekosistem Media Sehat
Merawat Aspirasi Lewat Kerja Nyata, Sally Atyasasmi Sabet Gelar ‘The Inspiring Legislator’
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 05:03 WIB

SMSI Sumenep Bahas Konsolidasi dan Pemantapan Program 2027 bersama SMSI Jatim

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:56 WIB

Pemkab Sampang Terus Distribusikan Air Bersih Bagi Warga Terdampak Kekeringan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 00:45 WIB

DPRD Bojonegoro Pertanyakan Sisa Kurang Bayar Dana Desa 2015–2021, Kepala Bapenda Sebut Kewajiban Pemkab Lunas sejak 2022

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:49 WIB

Raker 2027, SMSI Sumenep Bidik Media Lokal Go Nasional

Minggu, 4 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Dihadiri 11.000 Pelari, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 Sumbang PDRB Rp41 Miliar

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Perayaan Emas Koperasi Kareb: Sebar 7.000 Paket Sembako dan Gelar Wayang Semalam Suntuk

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:11 WIB

Surabaya ISOPLUS Marathon 2026, Digelar 4 Oktober Sejumlah Ruas Jalan di Surabaya Dialihkan

Rabu, 30 September 2026 - 15:23 WIB

Tak Gengsi Jualan di Pinggir Jalan, Pemuda 24 Tahun dari desa Wedi Buktikan Mandiri Secara Ekonomi

Berita Terbaru