KASN Anulir Rekomendasi Mutasi PNS Bermasalah di Bondowoso, Komisi I DPRD: Akrobat

- Admin

Selasa, 19 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BONDOWOSO, SUARABANGSA.co.id – Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) menganulir rekomendasinya tentang mutasi ASN di Kabupaten Bondowoso yang bermasalah.

Keputusan itu setelah ada tiga pejabat yang datang ke KASN, yakni Muhammad Asnawi Sabil, Kepala BKPSDM; Diana Nurbayanti, Kabid Mutasi dan Promosi BKPSDM; dan Ahmad, Kepala Inspektorat Bondowoso.

Komisi I DPRD Kabupaten Bondowoso sangat menyesalkan sikap KASN menganulir surat rekomendasi sebelumnya hanya gegara ‘lobi’ tiga orang pejabat Pemkab Bondowoso tersebut.

Karena surat rekomendasi KASN itu dianulir, akibatnya lima orang Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak ditindaklanjuti oleh Bupati Bondowoso.

“Kami menyayangkan akrobat KASN dalam menganulir rekomendasi yang telah diterbitkan sebelumnya hanya berdasarkan pada keterangan dari tiga orang pejabat Pemkab Bondowoso, bukan berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku,” kata H. Tohari, Ketua Komisi I DPRD pada media, Selasa (19/4/2022).

Tohari menerangkan, bila mencermati surat rekomendasi KASN yang dikeluarkan pada 21 Maret 2022 itu, isinya agar Bupati Bondowoso meninjau kembali 6 orang ASN yang dinilai tabrak aturan saat mutasi dan promosi jabatan pada tahun 2021.

Satu orang ASN sudah ditindak lanjuti, dari Sekcam Pujer pangkatnya diturunkan menjadi Kasi Trantib Kecamatan Bondowoso. Namun sisanya yang lima orang ASN tetap di posisi semula dari hasil mutasi tersebut.

Baca Juga:  Bantu Warga, Polres Bondowoso dan TNI Bersihkan Sisa-sisa Material Banjir Susulan Ijen

“Surat Rekomendasi KASN Nomor: R-1134/JP.01/03/2022 Tanggal 21 Maret 2022 itu cukup jelas dan telah melalui proses kajian sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tapi menjadi aneh kemudian rekomendasi tersebut dimentahkan sendiri oleh KASN setelah kedatangan 3 orang pejabat dari Pemkab Bondowoso,” bebernya.

Lebih parah lagi, lanjut Tohari, pernyataan Sumardi Askom KASN itu justru kontradiktif dengan rekomendasi yang telah diterbitkan sebelumnya dan terkesan diduga masuk angin.

Ia menjabarkan, jika mengacu PP Nomor 19 Tahun 2017 tentang perubahan atas PP Nomor 48 Tahun 2009 tentang guru pengangkatan PNS dalam jabatan fungsional guru ke dalam jabatan pengawas itu cukup jelas.

Sedangkan jabatan pengawas yang diduduki oleh tiga orang guru tersebut bukan termasuk dalam jabatan pengawas.

“Ketiganya tidak memiliki kompetensi, serta pengalaman untuk tingkat jabatan pengawas. Sumardi selaku Askom KASN menyatakan bahwa setelah dihitung masa CPNSnya, guru tersebut sudah memenuhi syarat delapan tahun, padahal kenyataannya ia itu kurang,” ungkapnya.

Tohari membeberkan, Andy Suprapto diangkat sebagai CPNS pada 1 Oktober 2014, artinya yang bersangkutan belum memenuhi syarat kurang lebih delapan tahun.

Menurutnya, seharusnya KASN, khususnya Sumardi memahami, bahwa berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 2017 tersebut, syarat seorang pejabat fungsional guru untuk dapat diangkat dalam jabatan pengawas harus terpenuhi seluruhnya kebutuhan guru di daerah.

Baca Juga:  Bupati Bojonegoro Akan Tutup Toko Modern Ilegal yang Bandel

Sedangkan di Bondowoso masih banyak kekurangan guru.

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, kekurangan guru ASN Pendidikan Jasmani (Olahraga) dan Agama sekitar 475 guru.

“Artinya tidak bisa jika hanya memenuhi salah satu syarat sebagaimana ketentuan tersebut di atas,” tegas legislator PKB ini.

Politisi dan juga alumni PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo itu menjelaskan, bahwa selain ketentuan PP tersebut, KASN seharusnya juga mencermati ketentuan PP Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 17 Tahun 2020 tentang Perubahan atas PP Nomor 11 Tahun 2017 Pasal 54 ayat (3) huruf d dan f.

“Menjadi aneh jika rekomendasi pembatalan untuk 5 orang ASN dikembalikan ke tempat semula sesuai dengan amanat regulasi justru dimentahkan sendiri oleh KASN,” cetusnya.

“Terkait dengan mutasi Probo Nugroho dan Moh. Hasan Suryadi, memang nomenklatur jabatan kedua orang tersebut berubah dengan berlakunya Perbup penyederhanaan birokrasi yang baru,” sambungnya.

Akan tetapi, tugas pokok dan fungsinya masih ada pada jabatan dengan nomenklatur yang baru.

Dalam hal terjadi perubahan nomenklatur jabatan, pejabat lama dikukuhkan dalam jabatan baru tersebut dan bukan dimutasi.

Menurut Tohari, jabatan dengan nomenklatur baru tersebut sejatinya sama dengan jabatan sebelumnya untuk kepentingan penghitungan akumulasi masa jabatannya.

Baca Juga:  Alasan Untuk Pengobatan Orang Tua, Sarjana Muda di Bondowoso Ini Gelapkan Uang Ratusan Juta

“Selanjutnya hasil assessment terhadap Probo Nugroho dan Moh. Hasan Suryadi tentunya tidak dapat dijadikan alasan tunggal untuk melakukan mutasi,” urainya.

Mutasi tersebut, seharusnya juga mengacu pada ketentuan PP Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, khususnya pasal 190 ayat 3 yang menyebutkan bahwa mutasi PNS dilakukan paling singkat dua tahun dan paling lama lima tahun.

Menurutnya, alasan itu sangat kontradiktif dengan mutasi tiga orang guru ke dalam jabatan Pengawas di luar pendidikan.
Di satu sisi, Pemkab Bondowoso beralasan mutasi berdasarkan kompetensi yang didapat melalui assessment, tetapi di sisi lain mutasi guru ke dalam jabatan pengawas justru tidak mempertimbangkan unsur kompetensi jabatan.

Dia menganggap, komisioner KASN hanya sekedar menandatangani surat rekomendasi, dan tidak memiliki cukup pengetahuan untuk meneliti kajian yang dibuat oleh Asisten Komisioner maupun jajaran staf di bawahnya.

Dia juga menilai, bahwa keputusan yang sudah dibuat itu janggal dengan mudah berubah hanya dengan adanya lobi yang dilakukan oleh segelintir pejabat Pemkab Bondowoso.

“Seharusnya KASN sebagai lembaga yang menerima mandat UU Nomor 5 Tahun 2014 untuk mengawasi terlaksananya sistem merit di Indonesia mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan efektif,” pungkasnya. (awi)

Berita Terkait

DPRD Bojonegoro Bahas Perubahan 5 Raperda, FPPKN Tegaskan Catatan Penting
Bupati Setyo Wahono Sampaikan Nota Penjelasan 5 Raperda dalam Paripurna DPRD Bojonegoro
Perkuat Sinergi, SMSI Bojonegoro dan Bupati Setyo Wahono Bahas Ekosistem Media Sehat
Merawat Aspirasi Lewat Kerja Nyata, Sally Atyasasmi Sabet Gelar ‘The Inspiring Legislator’
Pemkab Sumenep Dukungan Penuh Rencana Pembangunan KEK Tembakau Madura, Siapkan 30 Hektar
Produksi Minyak Merosot, Bojonegoro Pacu Pencarian Cadangan Baru di 17 Kecamatan
DPRD Sumenep Meminta Pemerintah Daerah Maksimalkan P-APBD Menghasilkan Program Pro Rakyat
Puluhan Tahun Tanpa Kepastian, Korban Penggusuran Jembatan Glendeng Bojonegoro Menagih Hak Sertifikat Tanah

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:49 WIB

Raker 2027, SMSI Sumenep Bidik Media Lokal Go Nasional

Minggu, 4 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Dihadiri 11.000 Pelari, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 Sumbang PDRB Rp41 Miliar

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Perayaan Emas Koperasi Kareb: Sebar 7.000 Paket Sembako dan Gelar Wayang Semalam Suntuk

Rabu, 30 September 2026 - 15:23 WIB

Tak Gengsi Jualan di Pinggir Jalan, Pemuda 24 Tahun dari desa Wedi Buktikan Mandiri Secara Ekonomi

Rabu, 30 September 2026 - 13:25 WIB

Polda Jatim Ungkap Ribuan Kasus Narkoba Triwulan III, Amankan Lebih dari 2.300 Tersangka

Senin, 28 September 2026 - 09:41 WIB

Pemerintah Desa Ngumpakdalem Gelar ‘Blusukan Kampung’, Gaet 2.000 Warga dan Dorong UMKM Lokal

Senin, 28 September 2026 - 09:38 WIB

Puncak HUT ke-50 Koperasi Kareb: Langkah Progresif Menuju Ekosistem Koperasi Modern

Sabtu, 26 September 2026 - 14:03 WIB

SMSI Sumenep Gelar Sekolah Melek Media Bagi Guru SDN

Berita Terbaru

Daerah

Raker 2027, SMSI Sumenep Bidik Media Lokal Go Nasional

Senin, 5 Okt 2026 - 20:49 WIB