PROBOLINGGO, SUARABANGSA.co.id – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengelar Kabupaten Probolinggo Konferensi kerja (konker) tahun 2022 di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati setempat, Kamis (24/03/2022).
Konker yang mengambil tema “Bangkit Guruku, Maju Negeriku. Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh” ini diikuti oleh 125 orang pengurus dan anggota PGRI mulai dari kecamatan dan Perangkat Kelengkapan Organisasi PGRI Kabupaten Probolinggo.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H. Ahkmad Sruji Bahtiar, Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Probolinggo Sucipto serta Wakil Ketua PGRI Provinsi Jawa Timur Winadi.
Ketua PGRI Kabupaten Probolinggo Asim mengungkapkan konker ini digelar setahun sekali dan merupakan amanah AD/ART. Tujuannya untuk merumuskan program kerja selama satu tahun.
“Pada awal itu kita membahas dan menetapkan program 5 tahun. Kemudian tiap tahun kita prioritaskan program yang mana,” ungkapnya.
Menurut Asim, hasil konker ini akan dituangkan dalam bentuk rekomendasi dan aksi nyata dari program itu. Nanti apa yang akan dikerjakan itu yang diharapkan dalam satu tahun ini. Kalau rekomendasi akan diserahkan ke Dinas Pendidikan dan intern yang harus dikerjakan oleh organisasi.
“Melalui konker ini harapannya mudah-mudahan nanti dengan ditetapkannya program kerja, kita dapat mengerjakan arah dan pedoman untuk satu tahun ini. Apa yang kita prioritaskan akan kita kerjakan. Disamping rekomendasi-rekomendasi yang akan kita rumuskan pada kesempatan ini,” tegasnya.
Sementara Wakil Ketua PGRI Provinsi Jawa Timur Winadi menyampaikan konker ini amanah dari AD/ART yang harus dilaksanakan dalam rangka melakukan evaluasi hasil kerja yang sudah dilakukan, termasuk kegiatan, keuangan dan usaha lainnya.
“Kita berkewajiban dalam konker ini untuk menyusun rencana kerja tahun 2022. Terlebih kita dihadapkan pada tantangan PGRI dalam kiprahnya di dunia pendidikan. Berikanlah masukan yang positif kepada pemerintah,” ujarnya.
Sedangkan Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi mengatakan tantangan yang sifatnya regional dan global di Kabupaten Probolinggo tidak kalah beratnya. Dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi PGRI Kabupaten Probolinggo untuk mengambil peran di dalamnya.
“Konker PGRI ini dilaksanakan atas amanah dari AD/ART. Bahkan kalau kita mau jujur, misi PGRI itu adalah memajukan kecerdasan bangsa. Tema dalam konker ini sangat cocok ketika kemudian tema dan arahan AD/ART saya gabungkan degan tantangan nyata yang ada di Kabupaten Probolinggo,” katanya.
Rozi menjelaskan tantangan yang dihadapi saat ini adalah indeks pendidikan di Kabupaten Probolinggo yang masih rendah mencapai 0,54. Berdasarkan hitungan BPS dibawah 0,6 berarti rendah.
“Indeks Pembangunan Manusia (IPM) itu rendah karena indeks pendidikan kita masih sangat rendah. Kita nomor urut 3 dari bawah atau nomor 36 berada di atas Sampang dan Bangkalan. Oleh karena itu penting peran PGRI disini. Ayo kita bersama-sama PGRI sebagai mitra Dinas Pendidikan untuk memajukan pendidikan di Kabupaten Probolinggo,” katanya.
Menurut Rozi, indeks pendidikan rendah karena rata-rata lama sekolah rendah dan harapan lama sekolah juga masih belum tinggi. Rata-rata lama sekolah Kabupaten Probolinggo hari 6,12 tahun. Maknanya bahwa masyarakat Kabupaten Probolinggo usia 25 tahun ke atas pendidikannya baru lulus SD.
“Oleh karena itu kita harus mempunyai strategi dan berharap konker ini mampu melahirkan suatu terobosan-terobosan yang strategis agar mampu memecahkan persoalan-persoalan itu bersama-sama dengan Dinas Pendidikan,” terangnya.
Cara untuk menyelesaikannya jelas Rozi dilakukan melalui PKBM dengan pendidikan kesetaraan. Itu menjadi sebuah media dalam mendorong rata-rata lama sekolah melalui pendidikan kesetaraan.
Dengan jumlah 24 kecamatan, PKBM yang aktif 21 PKBM. Namun itu masih belum mampu menjangkau seluruh masyarakat Kabupaten Probolinggo, apalagi ditambahi dengan keterbatasan jumlah tutor.
“Saya berharap PGRI mengambil peran ini mulai tingkat kabupaten, cabang hingga ranting. Ayo PGRI bahu membahu, bergandengan tangan, merapat barisan dan meluruskan niat kita sekaligus menyempurnakan ikhtiar bagaimana meningkatkan rata-rata lama sekolah,” tegasnya.
Selanjutnya untuk harapan lama sekolah di Kabupaten Probolinggo dihitung mulai SD usia 7 tahun sesuai hasil penghitungan BPS adalah 12,36 tahun. Berarti masyarakat hari ini harapan lama sekolahnya baru lulus SMA atau kuliah semester 1.
“Mari kita bersama-sama memajukan pendidikan dengan cara meningkatkan harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Itu menjadi PR besar kita dan sifatnya lokal. Hal itu adalah tantangan nyata di depan mata kita. Oleh karena itu PGRI harus selalu update dan upgrade pengetahuannya. Semoga PGRI betul-betul mampu meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya.















