Lush Green Indonesia Akan Gugat Beberapa Perusahaan Tambang di Blitar ke PTUN, Ini Alasannya?

- Admin

Sabtu, 13 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Koordinator pegiat Lingkungan Lush Green Indonesia (Iyan)

i

Koordinator pegiat Lingkungan Lush Green Indonesia (Iyan)

BLITAR, SUARABANGSA.co.id – Komunitas pegiat lingkungan Lush Green Indonesia (LGI) menyoroti adanya puluhan tambang ilegal dan pertambangan legal di Kabupaten/Kota Blitar, Jawa Timur. Dan akan melakukan tindakan dengan membuat petisi dukungan untuk gugatan ke PTUN agar perusahaan tambang yang mempunyai izin bila tidak sesuai tata kelola tambang yang benar, akan dibekukan atau di sanksi hukum.

Pasalnya, pertambangan di Blitar mayoritas tambang pasir, bebatuan dinilai sangat merusak lingkungan bisa menyebabkan bumi sang proklamator Bung Karno tidak lagi asri lestari dan hijau.

Lebih ironis, ada di dekat lokasi wisata, situs purbakala dan tanggul sungai brantas. Terlebih lagi guna menyiasati untuk mempunyai izin resmi pemerintah, diduga mengunakan Surat Izin Penambangan Batuan (SIPB) fungsinya untuk mendukung infrastuktur strategis nasional, namun fakta dilapangan melakukan kegiatan penambangan pasir bukan batu dan di Blitar sendiri tidak ada kegiatan tersebut.

Lebih daripada itu, Surat Izin Penambangan Batuan (SIPB) diperbolehkan melakukan kegiatan maksimal 50 hektar, dan lebih untungnya pengusaha tidak perlu adanya Jaminan Reklamasi (Jamrek), sehingga setelah izin tambang usai kerusakan lingkungan pelaku usaha tersebut bisa langsung lepas dari tanggung jawab.

Dengan demikian, Komunitas Pegiat Lingkungan Lush Green Indonesia (LGI) akan membuka sekretariat di Blitar, untuk petisi dukungan dan aduan dengan nomer WhatsApp +62 812-5251-4696, yang mana petani atau warga terdampak adanya tambang bisa berkolaborasi dalam mencegah kerusakan alam.

Berikut Daftar Dampak Lingkungan dan Kerugian Dampak Tambang di Bumi Bung Karno Blitar :.

1. Rusaknya Lingkungan

Koordinator Lush Green Indonesia (LGI), Iyan mengatakan bahwa guna mencegah terjadi rusaknya ekosistem hayati dan alam di Blitar bersama komunitasnya akan berjuang terus.

Baca Juga:  HUT Brimob ke-76, Kapolri: Kita Harus Ingat Pesan Bung Karno Warisi Apinya Jangan Abunya

“Sangat prihatin dengan kegiatan tambang di Kabupaten atau Kota Blitar, ada puluhan yang diduga ilegal menjamur tanpa tersentuh hukum bahkan yang berijin tidak mengindahkan tata kelola tambang. Karena ini bis berdampak pada kerusakan lingkungan seperti longsor, bencana alam ulah manusia dan hilangnya ekosistem hayati,” katanya.

2. Keuntungan Surat Izin Penambangan Batuan (SIPB)

Kebanyakan di Blitar tambang pasir yang legal, terangkan Iyan, bukan Izin Usaha Pertambangan (IUP) kebanyakan hanya Surat Izin Penambangan Batuan (SIPB) sehingga dinilai tidak mengharuskan adanya Jaminan Reklamasi (Jamrek) salah satu contoh CV Wahyu Lestari Berkah, Lakasi di Desa Selokajang atau perusahaan tambang di Bukit Bunda diduga masih proses namun sudah melakukan kegiatan bahkan menjual hasil tambang.

“Sangat menguntungkan pengusaha tambang kalau izin SIPB tanpa Jamrek, salah satu contoh CV Wahyu Lestari Berkah kami menduga legal pakai SIPB , lah yang ditambang itu bukan batu pasir, terlebih lagi Blitar tidak ada proyek strategis nasional, pasir itu dijual umum bahkan yang membeli dari luar Blitar, ada lagi izin perusahaan di daerah Bukit Bunda perusahannya ASJ izin diduga masih proses tapi sudah beraktifitas itu daerah wisata,” terangnya.

3. Bukan Hanya Disatu Lokasi

Untuk itu, dirinya bersama komunitasnya mengingatkan tindakan tegas terhadap pelaku usaha pertambangan di Blitar tidak hanya di Desa Selokajang, Kecamatan Srrengat, melainkan di Kaliputih, Soso, Gunung Gedang daerah lainnya termasuk yang ilegal juga ada puluhan.

“Perlu upaya pencegahan dari masyarakat dan Aparat Penegak Hukum (APH) juga pemerintah daerah agar bumi sang proklamator Bung Karno, tetap lestari dan hijau untuk itu perlu gerakan serentak masyarakat Blitar mencegah akan terjadinya dampak sosial dan lingkungan pada masyarakat khususnya Blitar ,” papar Iyan.

Baca Juga:  Membanggakan, Dua Siswa Al-Karimiyyah Borong Juara di OKARA 2020

4 Pendapatan Asli Daerah Berkurang

Terang Iyan, diperkirakan 5 tambang di Blitar itu Legal atau resmi berizin, tapi apakah semua itu memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan punya Analisa Dampak Lingkungan apa menjamin tidak tidak merusak lingkungan dan apa ada pajak daerah atau retribusi yang sudah dibayar pada Pemerintah Daerah atau Kota.

“Kebanyakan mereka yang legal itu SIPB selain itu retribusi daerah mungkin tidak ada, apa lagi yang ilegal, pastinya adanya tambang justru PAD bisa dibilang kecolongan, belum lagi jalan rusak kotor, siapa yang membenahi apa pengusaha tambang, justru Pemkot dan Pemkab yang membenahi, karena enak di pengusaha tambang,” jawabnya .

5. Penarikan Retribusi Pajak MBLB Awas Beresiko?

Diterangakan Iyan, Jika Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Blitar tetap melalukan penarikan retribusi pajak daerah MBLB di pos pantau, tanpa melihat asal muasal material MBLB didapat dari tambang ilegal itu sama halnya Pemkab Blitar dinilai melanggar peraturan kementrian Keuangan Republik indonesia.

“Pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB) kepada Wajib Pajak, nah kalau belum WP. Jangan sampai menerobos aturan yang berakibat fatal. Ini sudah jelas sebagaimana diatur dalam Pasal 57 UU 28 tahun 2009 mengenai Pajak MBLB, bahwa Pajak Daerah dapat dipungut apabila Wajib Pajak sudah memenuhi persyaratan objektif dan subjektif, untuk besaran penarikan retribusi pajak MBLB ditetapkan paling tinggi sebesar 25 persen. Jadi jangan sampai terjadi masalah hukum dikemudian hari, karena banyak cela masuk ranah hukum jika tidak dikaji benar benar,” lanjutnya.

6. Lahan Pertanian dan Perkebunan Hilang

Dijelaskan ,Iyan sebagian pegiat lingkungan harus mengamati akan adanya tambang di Blitar karena berdampak pada swasembada pangan

Baca Juga:  Wartawannya di Lecehkan, Pimred MaduraPost Akan Mengambil Langkah Hukum

“Lihat saja RTRW pertanian memang memperbolehkan untuk di tambang, tapi harus diawasi, apa Dinas ESDM Propinsi tiap hari mengawasi, tidak mungkin. Makanya pemerintah daerah dan kota Blitar termasuk masyarakat ikut serta mengawasi agar alam di Blitar tidak rusak oleh oknum pengusaha tambang, point terpenting negara sedang swasembada pangan,” jelasnya.

7. Dampak Sosial dan Penanganan Pekerjaan Tambang Yang Hilang Mata Pencarian

Ditegaskan Iyan mengatasi pekerja tambang yang hilang mata pencarian yang melakukan aksi demonstrasi, akibat tambang di Blitar ditertibkan oleh Kepolisian, itu bisa diatasi,

“Menyangkut perut, iya, bisa diatasi kalau rakyat mau melakukan kegiatan penambangan bisa dengan alat manual atau sederhana bukan alat berat dan mesin sedot. Kalau mengunakan alat berat dan mesin sedot kembali siapa yang untung bukan pekerja yang pastinya ya pengusaha yang untung,” tegasnya.

8. LGI Akan Buat Petisi Penolakan Tambang Hanya Pakai SIPB dan IUP dan Ilegal Yang Tidak Sesuai Tata Kelola Tambang

Oleh sebab itu, diterangkan Iyan dalam waktu dekat komunitas pegiat lingkungan Lush Green Indonesia (LGI) akan melakukan aksi dengan membuat petisi dukungan pada pegiat lingkungan seluruh Indonesia dan masyarakat Blitar agar alam Blitar tetap terjaga dan kembali hijau.

“Kami mungkin akan berencana membuat petisi dukungan tolak tambang di Bumi Bung Karno Blitar, selanjutnya akan kami bawah ke Gakkum KLH di Sidoarjo dan Gakkum Kementerian ESDM agar tambang pasir di Blitar tidak seperti ini seakan tidak tertata, dan yang terpenting akan menindak tambang ilegal dan yang diduga izin hanya untuk kamuflase,” tandasnya.

Penulis : Hari

Editor : Putri

Berita Terkait

Pembangunan KDKMP Meddelan Lenteng Sumenep Mendapat Sorotan, Tak Sesuai Spek?
INKADHA dan BAZNAS Sumenep Bersinergi, Perkuat Pendidikan dan Pemberdayaan Ekonomi Umat
Ribuan Warga Hadiri Tasyakuran Cucu Pertama Ketua Koperasi Kareb Bojonegoro, H. Sutrisno Bagikan 1000 Paket Sembako
DVI Polda Jatim Serahkan Seluruh Jenazah Korban KM Mutiara Sentosa II Kepada Keluarga
Banyak Kepala OPD Absen di Rapat Strategis KUA-PPAS, DPRD Sumenep Kecewa Berat
Perwakilan Kodim Sumenep Tidak Hadiri FGD Tentang Pembangunan KDKMP, Peserta Kecewa
KDKMP di Sumenep Disorot, DPRD Singgung Lelang, Kepala Desa Minta Dilibatkan
Amos Gelar FGD Bertajuk ‘Pembangunan KDKMP: Antara Bisnis atau Proyek?’, Soroti Tatakelola
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:04 WIB

DVI Polda Jatim Serahkan Seluruh Jenazah Korban KM Mutiara Sentosa II Kepada Keluarga

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Dua Jenazah Korban KMP Mutiara Sentosa II Diserahkan ke Keluarga, Tim DVI Lanjutkan Identifikasi Korban Lain

Sabtu, 11 April 2026 - 17:34 WIB

BEM Malang Raya Turun Jalan, Tuntut Kasus Penyiraman Air Keras Harus Diproses Secara Adil Tanpa Kompromi

Kamis, 9 April 2026 - 18:17 WIB

Aliansi Mahasiswa Dan Masyarakat Sipil Datangi Istana Merdeka, Sampaikan 3 Tuntutan Kepada Presiden RI

Jumat, 6 Maret 2026 - 14:33 WIB

Gara-gara Mercon, Warga Batuputih Gagal Rayakan Lebaran, Rumah Luluh Lantak

Sabtu, 28 Februari 2026 - 23:04 WIB

Dilaporkan Hilang, Seorang Anak di Bojonegoro Ditemukan Meninggal di Bekas Tambak

Jumat, 16 Januari 2026 - 16:16 WIB

Soal Limbah di Persawahan, Kapolsek Dander Bojonegoro Turun Langsung Turun

Rabu, 7 Januari 2026 - 03:55 WIB

Ironi Angka Kemiskinan Bojonegoro: Data Melandai, Tapi 122 Desa Masih Rentan

Berita Terbaru