Pemkab Probolinggo Lakukan Optimalisasi TPPS

- Admin

Jumat, 30 September 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO, SUARABANGSA.co.id – Dinas Pemberdayaan Perempuan ‘Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) melaksanakan giat Optimalisasi Tim Percepatan Penurunan Stunting Melalui Kampung KB.

Kegiatan yang digelar Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo ini diikuti oleh 200 orang peserta terdiri dari Camat, Kapolsek, Danramil, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan, Kepala Puskesmas dan Kepala KUA se-Kabupaten Probolinggo, Jumat (30/09/2022).

Optimalisasi TPPS Kecamatan ini dihadiri oleh Kepala DP3AP2KB Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto, Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya pada Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Waluyo Ajeng Lukitowati serta OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo.

Selama kegiatan mereka mendapatkan materi penyebab, dampak serta penanganan stunting di Kabupaten Probolinggo oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo Sri Wahyu Utami, arah dan kebijakan pengembangan Kampung KB oleh Kepala Bidang Keluarga Berencana, Ketahanan Keluarga DP3AP2KB Kabupaten Probolinggo Awi serta peran KUA kecamatan dalam pencegahan stunting melalui pendewasaan usia perkawinan oleh H. Imamuddin Nur Fajri dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo.

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Probolinggo dr Anang Budi Yoelijanto mengatakan stunting merupakan masalah serius. Sekitar 2%-3% Pendapatan Domestik Bruto atau PDB hilang per tahun akibat stunting.

Baca Juga:  Kodim Probolinggo Berganti Nahkoda

“Dengan jumlah PDB Indonesia tahun 2020 sekitar Rp 15 ribu triliun maka potensi kerugian akibat stunting akan mencapai Rp 450 triliun,” katanya.

Menurut Anang, stunting ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan fisik, gangguan pertumbuhan organ, sistem kekebalan sehingga rentan sakit. Jika terjadi gangguan pertumbuhan metabolism maka akan terjadi penyakit degeneratif metabolik serta gangguan pertumbuhan otak yang bisa menyebabkan intelegensi dan FS luhur.

“Semua ini tentunya akan menjadi beban keluarga dan Negara,” jelasnya.

Anang menerangkan stunting bisa terjadi karena tidak adanya pendampingan kesiapan menikah, pemeriksaan status kesehatan calon pengantin, kurangnya pemenuhan ASI Eksklusif, infeksi dan salah pola asuh atau pola makan. Selain itu akses dan ketersediaan bahan makan serta sanitasi dan kesehatan lingkungan.

“Kalau calon pengantin sehat, maka risiko stunting akan semaki kecil. Idealnya orang menikah itu minimal berusia 19 tahun. Tetapi di BKKBN jika perempuan berusia 21 tahun,” terangnya.

Lebih lanjut Anang menjelaskan anak stunting separuh banyak lahir dari orang yang berkecukupan. Ini menjadi PR bersama-sama. Sebab jika dibiarkan, maka generasi muda selanjutnya akan lahir tidak sehat dan tidak cerdas.

Baca Juga:  DPMTSP Probolinggo Gelar Sosialisasi OSS RBA DS dan LKPM Bagi Pelaku Usaha

“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama-sama untuk terus melakukan pendampingan mulai dari persiapan pernikahan, kelahiran, pola asuh, lingkungan sosialnya hingga masalah jamban,” tegasnya.

Anang menambahkan bahwa saat ini sudah terbentuk Tim Pendamping Keluarga Berencana yang terdiri dari PKK, bidan dan tenaga kader KB di masing-masing kecamatan. Tim ini akan mendampingi keluarga sebagai upaya mencegah stunting. Sebab jika orang sudah stunting itu sulit untuk diterapi. Lebih baik dicegah mulai dari calon pengantin pada umur yang cukup, periksa ke puskesmas dan diberi vitamin.

“Harapannya ke depan ada pertemuan rutin oleh Ketua TPPS Kabupaten Probolinggo bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Probolinggo untuk mengetahui sejauh mana pendampingan yang sudah dilakukan,” harapnya.

Sementara Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya pada Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Waluyo Ajeng Lukitowati Luki menyampaikan bahwa percepatan penurunan stunting di Kabupaten Probolinggo sangat berdampak pada capaian di Jawa Timur.

“Kalau di Kabupaten Probolinggo stunting tidak turun, maka secara signifikan tentunya akan berdampak pada penurunan stunting di Jawa Timur,” ungkapnya.

Luki menerangkan sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 Tentang Percepatan Penurunan Stunting, BKKBN diberi amanah sebagai ketua pelaksana percepatan penurunan stunting. Tetapi BKKBN tidak bisa bekerja sendiri, kalau tidak ada kerja sama dengan semua pihak mulai dari PKK, bidan maupun TNI/Polri.

Baca Juga:  Melebihi Muatan, Grend Mex Terguling di Ruas Tol Kejapanan Sidoarjo

“Kita ajak semua pihak supaya stunting ini bisa turun. Kolaborasi ini penting dilakukan untuk menurunkan stunting. Kita tidak ingin meninggalkan keturunan yang tidak cerdas dan tidak sehat,” jelasnya.

Menurut Luki, dalam GenRe (Generasi Berencana), generasi muda diajak supaya tidak kawin muda. Sebab dampaknya perceraian yang tinggi prosentasenya di usia muda. Remaja jangan melakukan hubungan seks bebas sebelum menikah. Selain dosa, mereka tidak sehat karena bisa terpapar HIV/Aids sehingga melahirkan anak-anak terpapar HIV/Aids.

“Anak stunting ini bukan hanya karena kurang gizi dan saja, tetapi ada yang berasal dari keluarga yang mampu karena penyakitnya sehingga anak-anak yang dilahirkan tidak gemuk-gemuk. Hal ini harus dalam pengawasan kesehatan mulai dari lingkungan dan kesehatan yang akan berdampak kepada stunting. Jambannya di luar dan sanitasinya kurang baik. Marilah kita sama-sama untuk menurunkan stunting di wilayahnya masing-masing sehingga terbebas dari stunting,” pungkasnya.

Berita Terkait

BEM Malang Raya Turun Jalan, Tuntut Kasus Penyiraman Air Keras Harus Diproses Secara Adil Tanpa Kompromi
Aliansi Mahasiswa Dan Masyarakat Sipil Datangi Istana Merdeka, Sampaikan 3 Tuntutan Kepada Presiden RI
Perkuat Ekonomi Lokal, 57 Desa di Bojonegoro Terima Armada Operasional Koperasi Desa Merah Putih
Instruksi Presiden, Bupati Bojonegoro Keluarkan Surat Edaran Kebijakan Efisiensi Anggaran
Bupati Bojonegoro Terima Rekomendasi LKPJ 2025: Janji Segera Tindak Lanjut Demi Pembangunan Berkelanjutan
Bupati Setyo Wahono Minta Dukungan Pusat di Hadapan Menteri Hanif Faisol: Malu Jika Bojonegoro Tanpa Adipura
Dua Ratus Pengayuh Becak di Bojonegoro Dapat Berkah dari Presiden Prabowo
Wakil Bupati Bojonegoro: Kurangi Pengangguran, Semua Pelatihan OPD Wajib Rekrut Peserta dari Pemegang Kartu AK-1

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 02:57 WIB

PROJO Jatim Gelar Konferda di Malang dan Pilih Ketua Baru secara Aklamasi ke H, Muhammad Sholeh

Sabtu, 11 April 2026 - 19:10 WIB

Delegasi DPC Bojonegoro Tiba di Malang, Siap Sukseskan Konferda Projo Jatim 2026

Sabtu, 11 April 2026 - 16:06 WIB

SMSI Bojonegoro Berganti Nahkoda, Kustaji Resmi Gantikan Sasmito Anggoro

Kamis, 9 April 2026 - 18:26 WIB

Humas SMA 3 Bojonegoro Sebut Pendidikan Tak Gratis, Sinyal Dana PIP Kian Rawan Jadi ‘Bancakan’

Rabu, 8 April 2026 - 15:45 WIB

Krisis Energi di Lumbung Gas Bojonegoro: Jargas Dinilai Mahal, LPG 3 Kg Langka dan Tembus Rp35 Ribu

Rabu, 8 April 2026 - 15:42 WIB

SMAN 3 Bojonegoro Rekreasi ke Bali

Rabu, 8 April 2026 - 09:47 WIB

Hasil Voting Parapatan PSHT Rayon Tanjungharjo: Yusuf Terpilih Sebagai Ketua Periode 2026-2029

Sabtu, 4 April 2026 - 15:53 WIB

Lima Nama Kandidat Ketua DPC PKB Bojonegoro Diusulkan ke Pusat

Berita Terbaru