Selama Februari 2022, DBD di Probolinggo Capai 21 Kasus

- Admin

Selasa, 1 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO, SUARABANGSA.co.id – Selama bulan Januari 2022, jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Probolinggo mencapai 21 kasus.

Dari 21 kasus tersebut, tercatat 2 orang meninggal. Hal ini disebabkan intensitas hujan yang semakin tinggi sehingga masyarakat hendaknya lebih berhati-hati.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo Mujoko mengatakan dua kasus kematian akibat DBD ini sudah termasuk cukup tinggi. Sebab seharusnya tidak boleh ada kasus kematian karena DBD.

“Apalagi saat ini sudah zaman now. Tentunya upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah kasus DBD ini sudah sangat maksimal. Teman-teman di lapangan sudah sangat massif melakukan upaya pencegahan kasus DBD. Namun kembali lagi kepada gerakan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.

Terkait dengan DBD ini jelas Mujoko, tentu semua harus tetap waspada walaupun masih dalam penanganan Covid-19. DBD ini perlu penanganan secara cepat dan diagnosanya hampir mirip-mirip dengan Covid-19 gejala awalnya.

Baca Juga:  Bersama PMI Probolinggo, FKPS Gelar Aksi Gerakan Lumbung Darah

“Kewaspadaan tinggi dari para petugas yang ada di lapangan khususnya betul-betul harus dilakukan. Sebab penanganan DBD pada prinsipnya kalau kasus ditemukan ditangani dengan cepat maka juga bisa sembuh dengan cepat. Tetapi kalau terlambat juga tentu resiko akan terjadi lebih buruk,” jelasnya.

Menurut Mujoko, upaya-upaya yang dilakukan saat ini terkait dengan kasus DBD yang dilakukan dan diagnosa betul-betul positif maka dilakukan fogging sebagaimana biasa dengan radius 100 meter dari titik kejadian DBD. Selain itu upaya 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) terkait dengan gerakan masyarakat juga terus digalakkan.

“Satu kasus akan difogging dengan catatan betul-betul diagnosa DBD. Di sisi lain gerakan masyarakat berupa 3M meliputi Menguras, Menutup dan Mengubur tetap harus digalakkan. Karena fogging itu hanya membunuh nyamuk terbang dan jentik akan mati kalau kita lakukan dengan 3M tadi plus abatesasi,” terangnya.

Baca Juga:  Masyarakat Probolinggo Diimbau Tidak Takut Atas Pemberhentian Sementara Vaksin AstraZeneca

Mujoko menegaskan kecenderungan kasus DBD naik ada karena situasi musimnya lagi musim hujan. Terlebih lagi sekarang dijumpai cukup banyak tumpukan sampah yang memicu genangan air dan selokan-selokan yang mampet. Hal ini bisa menjadi sumber dari naiknya kasus DBD.

“Disinilah diperlukan gerakan semua elemen masyarakat untuk membersihkan lingkungan. Paling murah itu sebetulnya adalah 3M berupa Menguras, Menutup dan Mengubur dengan beberapa kelompok kerja yang ada di desa. Sekali lagi, fogging itu upaya untuk membunuh nyamuk terbang saja, tetapi kalau jentiknya kita akhiri tidak sampai dewasa akhirnya mati juga nyamuknya,” tegasnya.

Lebih lanjut Mujoko menerangkan trend terjadinya kasus DBD itu biasanya diawali dari bulan Desember hingga April. Biasanya pada bulan April sudah melandai karena mulai masuk musim kemarau.

“Puncaknya biasanya pada bulan Pebruari dan Maret. Ini betul-betul harus diwaspadai, tetapi tergantung juga bagaimana musim yang ada. Terutama daerah-daerah endemis. Kita termasuk daerah endemis, dalam artian setiap tahun itu selalu ada kasus DBD seperti Kecamatan Gending dan Pajarakan,” ujarnya.

Baca Juga:  Polres Sampang Tetapkan Jalan Wijaya Kusuma Sebagai Kawasan Physical Distancing

Mujoko mengimbau kepada masyarakat agar kembali menggalakkan kegiatan gotong royong dalam menjaga kebersihan lingkungan secara bersama-sama dan saling melirik lingkungan tetangganya. Kalau kotor bisa saling mengingatkan. Intinya masyarakat saling melihat tempat penampungan air masing-masing. Jangan sampai menunggu jentik, setidaknya dua hari sekali dikuras.

“Justru yang sangat beresiko ini adalah genangan air yang tertampung di kaleng-kaleng bekas, bak mandi dan lain sebagainya. Sebab jentik ini hidup di air bersih. Kalau genangan air di tanah tidak menjadi trigger utama sebab ada mikroorganisme yang akan memakannya. Kuncinya ada pada masyarakat. Idealnya saat ini kesadaran masyarakat sudah cukup tinggi. Pemicunya tetap dari kebijakan wilayah seperti desa sebagai penggeraknya,” pungkasnya.

Berita Terkait

Wisata Sumber Grogolan Bojonegoro Diserbu Ribuan Pengunjung, UMKM Ikut Panen Berkah
Gantikan Night Carnival, Festival Sandur dan Pesta Rakyat Meriahkan HJB ke-349
Plat ‘G 1812 AN’ Nyelonong di Pawai Api Abadi, Kapolres Bojonegoro Buka Suara
Peringati HSN 2026, Bupati Bojonegoro Ajak Santri Kuasai Teknologi Menuju Indonesia Emas
Ketika Barongsai, Reog, dan Polisi Cilik Menyatu dalam Panggung Hari Santri Bojonegoro
DPRD Bojonegoro Sahkan Perda Perlindungan Perempuan dan Anak
BNC 2026 Batal Digelar: Lebih Baik Uang Rakyat untuk Kemiskinan dan Wisata Desa
Bantu Tekan Angka Kemiskinan, Dirut PT Kareb Alam Sejahtera Terima Penghargaan di HJB ke-349

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Pimpin Apel Hari Santri, Bupati Sumenep Ingatkan Pentingnya Peran Santri Menjaga Kerukunan Sosial dan Kebudayan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:04 WIB

Fraksi Gerindra DPRD Bojonegoro Beri 5 Catatan APBD 2027

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:01 WIB

Sampaikan Nota Penjelasan Raperda APBD 2027, Bupati Bojonegoro Tekankan Beberapa Poin Ini

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:56 WIB

Pemkab Sampang Terus Distribusikan Air Bersih Bagi Warga Terdampak Kekeringan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:36 WIB

DHL Express Perkuat Keamanan Logistik, Surabaya Gateway Kini Bersertifikat TAPA

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:14 WIB

Misteri Kurang Salur ADD : Kepala Bapenda Bojonegoro Ngaku Tak Punya Data 2015–2021

Selasa, 6 Oktober 2026 - 00:36 WIB

Lepas Ketergantungan Migas, Bojonegoro Bidik Agroindustri Lewat 5 Perda Baru

Kamis, 24 September 2026 - 00:38 WIB

DPRD Bojonegoro Bahas Perubahan 5 Raperda, FPPKN Tegaskan Catatan Penting

Berita Terbaru