Seorang Yatim di Pamekasan Ini Jalani Hidup Serba Kekurangan

DBHCHT Sumenep

PAMEKASAN, SUARABANGSA.co.id – Berangkat dan pulang sekolah bersama dengan teman sambil naik sepeda, serta bercanda di jalan, adalah keseruan bagi semua anak-anak.

Akan tetapi hal itu tidak dirasakan oleh Rahmat Nur Firman (10), seorang Yatim yang saat ini tengah duduk di kelas IV salah satu Sekolah Dasar, yang ada di Kabupaten Pamekasan Madura Jawa Timur.

Firman biasa ia disapa, setiap harinya harus bangun pagi lebih awal, bukan tanpa alasan ia harus bangun pagi-pagi buta, karena ia harus pergi ke sekolah di waktu pukul 5:00 habis subuh.

Ya, dengan diantar sang Nenek Sri (60) yang sudah baya, Firman menyisir trotoar disaat angin dingin masih berhembus.

Baca Juga:  Tahap Awal, Sampang Bakal Terima Sekitar 2500 Dosis Vaksin Covid-19 untuk Nakes

Dengan tanpa sarapan, jarang bawa uang saku, seragam serta tas sekolah yang lusuh, sepatu yang sudah bolong-bolong, ia pergi ke sekolah. Tapi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk mencari ilmu.

“Kalau tidak bawa uang saku ya diam duduk-duduk kalau pas jam istirahat sekolah,” ucap Firman polos.

Perlengkapan sekolah yang bagus hanyalah sebuah mimpi baginya saat ini, betapa tidak, sang nenek harus dengan susah payah mengumpulkan receh demi receh untuk bayar kos tiap bulan, jadi sang Nenek tidak bisa memikirkan keperluan sekolah cucunya itu. Belum lagi harus berfikir agar tetap bisa makan tiap harinya.

Baca Juga:  Dinsos Pamekasan Akhirnya Bawa Bocah Penderita Jantung dan Liver Ini ke Rumah Sakit

Firman dan Neneknya tidak punya rumah, mereka berdua kos yang beralamatkan di Jalan Sersan Mesrul, tiga ratus ribu rupiah mereka harus bayar tiap bulannya, agar mereka Nenek dan cucu ini bisa tetap tinggal di kosan.

Di ruangan dengan ukuran kurang lebih 4×4 meter, dinding dan atap yang sudah rapuh, di sana mereka berdua tinggal, ya, ada lemari kecil, kasur yang sudah kusut, dapur serta tempat cuci piring yang menjadi satu ruangan.

Nenek Sri sempat sedikit bercerita, hanya jika ia punya beras dan minyak tanah, maka dirinya dengan cucunya bisa makan

Baca Juga:  Dalih Hormati Orang Puasa, Satpol PP Sampang Razia Warung Makan yang Buka Siang

“Terkadang ada tetangga kos juga tetangga sekitar yang ngasih makanan kepada kami,” tutur Nenek Sri pilu.

“Saya hanya bisa berdoa dan berharap, semoga Allah memberikan pertolongan melalui dermawan kepada saya dan cucu,” doa sang Nenek.

Leave a Reply