Miris!!!, Janda Tua Hidup Sebatang Kara di Desa Sejati Camplong Sampang Luput dari Perhatian Pemerintah

- Admin

Sabtu, 26 Desember 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAMPANG, SUARABANGSA.co.id — Usia yang sudah renta dan hidup di usia senja, membuat kehidupan Mbah Mardinep (60) sangat memilukan. Warga Dusun Bunut, Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang ini hidup sebatang kara di rumah yang sangat tak layak. Namun sayang Mbah Mardinep luput dari perhatian pemerintah.

Mbah Mardinep tinggal sendirian pada sebuah kediaman yang beralaskan tanah tak rata, di kelilingi kayu-kayu lapis yang mulai rapuh terkikis usia diselingi anyaman bambu yang telah menua, juga atap genting yang sudah miring, sebatang kara ia berjuang demi bertahan hidup, hanya untuk makan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari pun, Mbah Mardinep hanya mengandalkan pemberian dari tetangganya saja, karena tak memiliki sanak keluarga lagi. Suami Mbah Mardinep sudah lebih 15 tahun meninggal dunia dan tidak memiliki keturunan.

Baca Juga:  Petani Semakin Terpuruk, Harga Pupuk Subsidi di Camplong Sampang Dijual Melampaui HET

Dengan ketabahan dan kesabarannya yang luar biasa, Mbah Mardinep tinggal dan bertahan hidup di dalam gubuk tersebut. Selama ini dia masak dengan tungku tanah liat. Dia mengandalkan ranting dan dahan kayu untuk menyalakan api.

Dia mengaku setiap malam kedinginan karena angin masuk dari segala penjuru rumah yang berlubang. Saat hujan, air masuk dalam rumah karena banyak atap yang bocor.

Meski kondisinya sangat memilukan, Mbah Mardinep mengaku tak pernah mendapat jatah maupun bantuan sosial dari pemerintah. Baik dari pemerintah pusat, kabupaten, hingga kecamatan tak pernah satupun instansi menyentuh kehidupannya. Padahal, ia seharusnya diprioritaskan untuk mendapat berbagai bantuan sosial.

“Mbah cuma dapat bantuan BLT-DD saja. Mbah tak apa-apa, meskipun tak dapat bantuan dari pemerintah, mbah tidak kecewa apalagi kesal,” tuturnya, Sabtu (26/12/2020).

Mbah Mardinep mengungkapkan, tapi kalau memang ada bantuan perbaikan rumah, ia sangat bersyukur jika bisa mendapatkannya. Namun apabila memang belum ada, dia pun mengaku tak akan memaksa, yang penting rumahnya masih bisa digunakannya untuk berteduh meski seluruh bagian atapnya sudah nyaris roboh.

Baca Juga:  Transformasi Kopwan Bojonegoro, Tak Lagi Sekadar Simpan Pinjam, Menuju Motor Ekonomi Desa

“Semoga kedepannya pemerintah membantu memperbaiki rumah saya, agar nyaman ditempati, dan tidak bocor lagi,” pintanya.

Namun begitu, Mbah Mardinep selalu mengucap syukur atas nikmat berupa panjang umur disertai sehat lahir batin, tanpa gangguan fisik yang berarti. Baginya, kesehatan adalah utama dibanding harta apapun.

“Kalau dapat bantuan ya diterima, kalau tidak ya gakpapa. Semoga saya selalu sehat dan panjang umur,” harapnya.

Sementara itu, perihal Mbah Mardinep yang tidak pernah mendapat bantuan dibenarkan oleh Kepala Desa Sejati, Syaifuddin.

“Untuk pengajuan bantuan bedah rumah sudah diajukan tapi sudah saya pasrahkan ke Koramil,” kata Syaifuddin dibalik telepon selulernya.

Baca Juga:  Sekdes Sukorejo Bojonegoro Mengundurkan Diri, Penggantinya Dilantik

Pihaknya juga mengaku jika belum pernah mengajukan bantuan untuk janda tua tersebut kepada Pemerintah Daerah melalui Dinas Sosial (Dinsos) maupun Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (DPRKP) setempat.

“Satu tahun yang lalu saya sudah perintahkan perangkat desa untuk mendata dan kemudian diajukan ke koramil,” ujar Syaifuddin.

Menurutnya, terkait pendataan warga miskin yang didata untuk mendapatkan bantuan bedah rumah bukan hanya Mbah Mardinep saja, melainkan banyak dusun-dusun yang lain juga diajukan. Akan tetapi, hanya Mardinep saja yang tidak dapat.

“Kurang tau juga kenapa hanya Mardinep yang tidak mendapatkan bantuan bedah rumah itu,” sesalnya.

Dikatakannya, bahwa semenjak adanya pandemi Covid-19 ini, Mardinep mendapatkan Bantuan Langsung Tunai dari Dana Desa (BLT-DD).

“Ya cuma BLT-DD saja yang dirasakan oleh Mardinep selama ini,” pungkasnya.

Berita Terkait

Acara Ulang Tahun BPR Bojonegoro, mulai jadi Rasan-Rasan Gens Z
SHGB Dipersoalkan Desa, Ahli waris Wadul ke DPRD Bojonegoro
Pemkot Blitar Disorot TKW Asal Tulungagung, Dugaan Ketidakharmonisan
Terkendala Izin BBWS DPRD Bojonegoro dan Pihak Eksekutif Sidak Bengawan Solo
Sinergi dan Inovasi Layanan Jadi Kunci Penyusunan Renja 2027 DKP Jatim
Bojonegoro Borong Penghargaan TOP BUMD 2026, Sinyal Positif Tata Kelola Ekonomi Daerah
Dugaan Penggelapan Pembelian Mesin Es Rp500 Juta, warga Tapelan Laporkan AB mantan menejer PT BAI ke Polisi
PROJO Jatim Gelar Konferda di Malang dan Pilih Ketua Baru secara Aklamasi ke H, Muhammad Sholeh

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 19:37 WIB

Acara Ulang Tahun BPR Bojonegoro, mulai jadi Rasan-Rasan Gens Z

Rabu, 22 April 2026 - 17:39 WIB

SHGB Dipersoalkan Desa, Ahli waris Wadul ke DPRD Bojonegoro

Rabu, 15 April 2026 - 20:32 WIB

Pemkot Blitar Disorot TKW Asal Tulungagung, Dugaan Ketidakharmonisan

Rabu, 15 April 2026 - 16:42 WIB

Terkendala Izin BBWS DPRD Bojonegoro dan Pihak Eksekutif Sidak Bengawan Solo

Selasa, 14 April 2026 - 10:50 WIB

Bojonegoro Borong Penghargaan TOP BUMD 2026, Sinyal Positif Tata Kelola Ekonomi Daerah

Selasa, 14 April 2026 - 00:55 WIB

Dugaan Penggelapan Pembelian Mesin Es Rp500 Juta, warga Tapelan Laporkan AB mantan menejer PT BAI ke Polisi

Senin, 13 April 2026 - 02:57 WIB

PROJO Jatim Gelar Konferda di Malang dan Pilih Ketua Baru secara Aklamasi ke H, Muhammad Sholeh

Sabtu, 11 April 2026 - 19:10 WIB

Delegasi DPC Bojonegoro Tiba di Malang, Siap Sukseskan Konferda Projo Jatim 2026

Berita Terbaru