Di Balik Bendungan dan Harapan Gentengisasi: Ratapan Wak Jan atas Hilangnya “Berkah Banjir” Bengawan Solo

- Admin

Senin, 9 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Program Gentengisasi Nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2026 membawa secercah harapan di tengah redupnya industri genteng tradisional.

Bagi Sukijan yang akrab dipangil Wak Jan, pedagang kawakan yang telah melanglang buana sejak 1965,
program gentengisasi yang dicanangkan oleh presiden Prabowo adalah jawaban atas matinya “napas” ekonomi di sepanjang bantaran Bengawan Solo akibat industrialisasi saat ini.

Wak Jan mengawali cerita Dahulu kala, bagi perajin genting dari Ngrendeng Malo, Singkal Tulungagung sampai di Desa Pilangsari dan sekitarnya, banjir Bengawan Solo bukan sekadar musibah, melainkan pembawa rezeki.

Aliran air membawa endapan tanah liat berkualitas tinggi yang menjadi bahan baku utama genteng dan batu bata.

Baca Juga:  Forkomas Baja 2025 Menolak Exxon Mobil Cepu Limited Menjadi Operator Blok Cepu

“Dulu, sebelum ada bendungan di Babat dan bendungan di Trucuk, sehabis banjir itu pasti berkah bagi pembuat genting dan bata merah,” kenang Wak Jan dengan nada getir.

Setelah bendungan-bendungan besar berdiri, pola aliran sungai berubah. Endapan tanah liat terbaik tak lagi tersedia melimpah seperti dulu.

“Sekarang sudah tidak ada lagi yang membuat genting dari tanah (di bantaran). Ada, tapi tidak seperti di era itu. Industrialisasi migas yang mengunakan air sungai mengubah segalanya,” tambahnya.

Wak Jan mengenang masa-masa sulit namun produktif di era 1990-an, saat ia masih mengirim 20.000 biji genteng ke wilayah Paciran, Lamongan setiap Minggu nya.

Baca Juga:  Demo DPRD Lagi, API Desak Komisi II Sumenep Urusi Kasus Agraria

“Perjalanan menyusuri sungai itu sembilan hari, dari deling Malo sampai Paciran”terangnya.

Dengan harga Rp7.500 per seribu bijinya, ia bisa membawa pulang Rp 1,5 juta sekali kirim sebuah angka yang kini tinggal kenangan seiring hilangnya pendapatan tetapnya.

Ia menceritakan beratnya mendayung perahu berdua bersama rekannya saat memasuki wilayah Paciran.

“Di daerah yang airnya sudah tidak bergerak, itu sangat susah dan berat bawanya.” Namun, beban fisik itu terbayar dengan ekonomi warga yang terus berputar.

Kini, dengan rencana pemerintah menghidupkan program atap dengan genting, Wak Jan berharap marwah genteng tanah liat bangkit kembali.

Baca Juga:  Medhayoh Versi Ademos Indonesia, Menjadi Kalender Tahunan Event Festival

Meski akses tanah liat di bantaran sungai tak seudah dulu, intervensi pemerintah diharapkan mampu menghidupkan kembali dapur-dapur perajin yang telah lama dingin.

Bagi Wak Jan, Gentengisasi Nasional bukan sekadar proyek konstruksi, melainkan upaya memulihkan identitas desa-desa di sepanjang Bengawan Solo yang sempat hilang ditelan zaman industrialisasi.

“Dulu, kalau musim kemarau bantaran Bengawan Solo, cerobong cerobong menyala, tumpukan tanah membawa berkah, kini lahan itu jadi tebing dan erosi,Bengawan Solo terasa berjalan dan tambah lebar sungainya,” pungkasnya.

Penulis : Takim

Editor : Putri

Berita Terkait

Raker 2027, SMSI Sumenep Bidik Media Lokal Go Nasional
Dihadiri 11.000 Pelari, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 Sumbang PDRB Rp41 Miliar
Perayaan Emas Koperasi Kareb: Sebar 7.000 Paket Sembako dan Gelar Wayang Semalam Suntuk
Surabaya ISOPLUS Marathon 2026, Digelar 4 Oktober Sejumlah Ruas Jalan di Surabaya Dialihkan
Tak Gengsi Jualan di Pinggir Jalan, Pemuda 24 Tahun dari desa Wedi Buktikan Mandiri Secara Ekonomi
Polda Jatim Ungkap Ribuan Kasus Narkoba Triwulan III, Amankan Lebih dari 2.300 Tersangka
Pemerintah Desa Ngumpakdalem Gelar ‘Blusukan Kampung’, Gaet 2.000 Warga dan Dorong UMKM Lokal
Puncak HUT ke-50 Koperasi Kareb: Langkah Progresif Menuju Ekosistem Koperasi Modern
Tag :

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:49 WIB

Raker 2027, SMSI Sumenep Bidik Media Lokal Go Nasional

Minggu, 4 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Dihadiri 11.000 Pelari, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 Sumbang PDRB Rp41 Miliar

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:11 WIB

Surabaya ISOPLUS Marathon 2026, Digelar 4 Oktober Sejumlah Ruas Jalan di Surabaya Dialihkan

Rabu, 30 September 2026 - 15:23 WIB

Tak Gengsi Jualan di Pinggir Jalan, Pemuda 24 Tahun dari desa Wedi Buktikan Mandiri Secara Ekonomi

Rabu, 30 September 2026 - 13:25 WIB

Polda Jatim Ungkap Ribuan Kasus Narkoba Triwulan III, Amankan Lebih dari 2.300 Tersangka

Senin, 28 September 2026 - 09:41 WIB

Pemerintah Desa Ngumpakdalem Gelar ‘Blusukan Kampung’, Gaet 2.000 Warga dan Dorong UMKM Lokal

Senin, 28 September 2026 - 09:38 WIB

Puncak HUT ke-50 Koperasi Kareb: Langkah Progresif Menuju Ekosistem Koperasi Modern

Sabtu, 26 September 2026 - 14:03 WIB

SMSI Sumenep Gelar Sekolah Melek Media Bagi Guru SDN

Berita Terbaru

Daerah

Raker 2027, SMSI Sumenep Bidik Media Lokal Go Nasional

Senin, 5 Okt 2026 - 20:49 WIB