SURABAYA, SUARABANGSA.co.id – Peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di Surabaya akan menghadirkan konsep berbeda. Batik tak hanya dipamerkan di ruang pameran, melainkan akan dibawa berlayar menyusuri Sungai Kalimas melalui agenda Batik Berlayar pada 2 Oktober 2026 mendatang.
Ketua Panitia HBN 2026 Wirasno mengatakan, Surabaya dipilih sebagai tuan rumah karena memiliki posisi strategis sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia. Selama ini, HBN diselenggarakan di Jakarta.
“Agar anggaran HBN lebih menyentuh masyarakat luas, acara diselenggarakan di luar Jakarta dan Surabaya terpilih menjadi tuan rumah HBN 2026. Sebagai warga Surabaya, kita patut berbangga dan wajib menyukseskan acara ini,” katanya, Rabu (16/9/2026).
Ia menjelaskan, Batik Berlayar akan membawa para tamu dari Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam (Monkasel) menggunakan iring-iringan perahu yang dihias oleh perajin batik Jawa Timur. Sepanjang perjalanan, Sungai Kalimas akan menjadi panggung seni yang menampilkan tarian, musik, perkusi, hingga permainan cahaya.
Selain Batik Berlayar, HBN 2026 akan diisi pameran di Grand Atrium dan koridor Plaza Tunjungan 3. Pameran di lokasi ini akan berlangsung pada 30 September sampai 4 Oktober 2026 dengan menghadirkan karya para perajin Jawa Timur dan pengalaman interaktif berbasis teknologi.
Wirasno menyebut pameran akan menggunakan teknologi imersif. Salah satunya fitur interaktif yang memungkinkan pengunjung memilih motif batik melalui layar, kemudian tampilan pakaian berubah mengikuti motif yang dipilih.
“Sentuhan milenial kekinian melalui teknologi imersif. Salah satunya adalah fitur imersif interaktif, di mana dengan menyentuh layar, tampilan pakaian akan berubah sesuai motif batik yang dipilih, misalnya batik Tuban,” lanjutnya.
Selain pameran dan Batik Berlayar, HBN 2026 juga memiliki agenda edukasi dan akademis. Kuliah umum akan digelar sepanjang pameran dengan sasaran akademisi dan mahasiswa.
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya membawa batik lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.
Ketua Yayasan Batik Indonesia (YBI) Gita Pratama Kartasasmita menambahkan, HBN tahun ini membawa semangat baru agar masyarakat tidak hanya melihat, tetapi juga mengalami batik secara langsung.
“Bagaimana kalau tahun ini kita tidak hanya melihat batik, tetapi benar-benar mengalaminya. Itulah semangat yang kami bawa dalam Hari Batik Nasional atau HBN 2026,” ucap Gita.
Ia mengatakan HBN 2026 juga akan menghadirkan fashion show, reels competition, workshop digital UMKM berbasis AI, pertunjukan seni dan musik, serta talkshow yang membahas masa depan batik, teknologi, keberlanjutan, identitas, industri, dan peran generasi muda.
“Batik tidak hanya dipajang atau dikenakan, tetapi hadir sebagai bagian dari kehidupan untuk dilihat, dipelajari, dinikmati, dan dialami bersama,” tandasnya.
Dirjen IKMA Kemenperin RI Reni Yenita pada kesempatan itu turut menyampaikan, HBN 2026 juga menjadi kesempatan bagi masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia untuk melihat perkembangan batik, termasuk dari kawasan timur Indonesia.
“Masyarakat dari wilayah timur, seperti Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua yang sudah mengembangkan batik, dapat melihat perkembangan batik di event HBN tahun 2026 ini,” kata Reni.
Dia berharap rangkaian HBN 2026 dapat meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap batik buatan dalam negeri.
“Jangan lupa untuk berkunjung ke pameran, serta mengajak teman, saudara, dan tetangga untuk membeli dan menggunakan batik buatan dalam negeri dengan penuh rasa bangga,” tutupnya.
Penulis : Muji
Editor : Putri

















