BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Suasana khidmat menyelimuti Pendopo Malowopati pada Jumat malam (20/2/2026). Lebih dari 600 orang yang terdiri dari jajaran OPD, DPRD, kepala desa, tokoh agama, hingga relawan, berkumpul bukan sekadar untuk berbuka puasa bersama, melainkan untuk menyimak refleksi satu tahun kepemimpinan Bupati H. Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah.
Momen ini menjadi panggung bagi Setyo Wahono untuk berbicara dari hati ke hati mengenai perjalanannya menakhodai Bojonegoro.
Sebelum acara dimulai hujan mengguyur kota Bojonegoro,namun antusiasme peserta tidak surut.
Nampak Kehadiran para kepala desa yang disebut Wahono sebagai “teman seperjuangan di tingkat bawah” Wahono-Nurul menjadi bukti dukungan akar rumput yang masih solid.
Dalam sambutannya, Bupati H, Setyo Wahono melontarkan pernyataan jujur yang mengundang senyum sekaligus decak kagum para hadirin. Ia mengakui bahwa kunci ketenangannya memimpin selama setahun ini adalah sinergi yang luar biasa dengan wakilnya.
“Saya itu selalu tidur nyenyak karena sudah bisa memerintahkan. Meminjam istilah Pak Umar, saya konseptornya dan Bu Wabup adalah eksekutornya,” ujar Wahono.
Ia secara khusus memuji stamina Nurul Azizah yang dinilainya tidak pernah mengenal rasa lelah.
Wahono juga mengenang masa awal menjabat yang sempat membuatnya merasa “kaget” dengan ritme birokrasi.
Namun, ia menekankan bahwa kepemimpinan yang kuat bukan soal otoritas, melainkan kemauan untuk mendengar.
“Kepemimpinan yang baik adalah yang mau mendengar dan terus belajar mencari solusi. Jika komunikasi buruk, pemerintahan tidak akan jalan,” tegasnya.
Bagi pasangan ini, tahun pertama adalah fase krusial untuk “meletakkan arah”. Wahono menjelaskan bahwa fokus utama mereka adalah menyelaraskan setiap gerak pembangunan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang telah disusun berdasarkan visi-misi kampanye Wahono-Nurul, Mewujudkan Bojonegoro yang Makmur, Sejahtera, dan Berkelanjutan.
“Refleksi ini bukan sekadar bicara capaian, tapi ruang evaluasi. Kami membangun komunikasi dan mengubah mindset di tingkat OPD agar benar-benar melayani masyarakat,” tambahnya.
Meski optimisme terpancar, acara ini juga menyajikan data realitas yang harus dihadapi. Wakil Bupati Nurul Azizah menutup rangkaian acara dengan paparan teknis mengenai postur APBD Bojonegoro dari tahun 2021 hingga 2026.
Nurul mengungkapkan bahwa perjalanan satu tahun ini tidak sepenuhnya mulus. Terdapat beberapa program pembangunan yang terkendala akibat kebijakan efisiensi anggaran dari Pemerintah Pusat serta menurunnya pendapatan dari Dana Bagi Hasil (DBH) Migas.
“Kita menghadapi tantangan efisiensi anggaran pusat dan penurunan DBH. Ini menjadi bahan evaluasi kita bersama untuk tetap kreatif dalam mengelola program prioritas,” jelas Nurul di akhir paparannya.
Penulis : Takim
Editor : Putri















