SURABAYA, SUARABANGSA.co.id – National Hospital Surabaya menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi Adaptive Deep Brain Stimulation (Adaptive DBS) berbasis kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence / AI ) untuk terapi pasien Parkinson. Teknologi ini diharapkan mampu mengendalikan gejala penyakit secara lebih presisi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Dokter Spesialis Bedah Saraf National Hospital Surabaya, dr. Achmad Fahmi, mengatakan Adaptive DBS merupakan pengembangan dari teknologi Deep Brain Stimulation (DBS) yang telah digunakan selama bertahun-tahun. Pembaruan dilakukan pada perangkat lunak sehingga sistem mampu membaca aktivitas otak dan menyesuaikan stimulasi menggunakan teknologi AI.
“Kalau sebelumnya dokter menentukan sendiri area yang distimulasi dan mengatur voltase secara manual, sekarang sistem dapat melakukannya secara otomatis sesuai kebutuhan otak pasien,” ujar Fahmi di National Hospital Surabaya, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, pada DBS konvensional stimulasi listrik diberikan secara konstan. Sementara pada Adaptive DBS, besaran voltase dapat meningkat ketika otak membutuhkan stimulasi lebih besar dan akan menurun saat kebutuhan tersebut berkurang. Dengan mekanisme itu, terapi menjadi lebih responsif terhadap kondisi pasien secara real time.
Menurut Fahmi, teknologi tersebut diharapkan mampu mengurangi fluktuasi gejala Parkinson yang dikenal dengan kondisi on – off, yaitu saat pasien merasakan gejala membaik ketika efek obat bekerja, tetapi kembali memburuk setelah efek obat menghilang.
“Harapannya kualitas hidup pasien menjadi lebih baik karena gejalanya bisa lebih stabil,” katanya.
Fahmi menegaskan bahwa DBS bukan terapi untuk menyembuhkan Parkinson. Teknologi ini berfungsi mengendalikan gejala penyakit melalui alat yang ditanam permanen di dalam tubuh, menyerupai alat pacu jantung, dengan elektroda yang diarahkan ke area tertentu di otak.
Ia menyebut National Hospital Surabaya menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang menerapkan Adaptive DBS berbasis AI. Teknologi tersebut sebelumnya telah digunakan di India dan Thailand, sedangkan di Singapura maupun Malaysia belum diterapkan.
Sejak layanan DBS dibuka, National Hospital Surabaya telah menangani sekitar 90 pasien yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Secara nasional, jumlah pasien yang telah menjalani pemasangan DBS diperkirakan sekitar 150 orang.
Menurut Fahmi, hasil terapi akan lebih optimal apabila tindakan dilakukan pada tahap awal perkembangan penyakit. Sebaliknya, pasien yang datang ketika kondisi sudah berat tetap dapat mengalami perbaikan, meski hasilnya tidak sebaik pada stadium awal.
Parkinson umumnya menyerang kelompok usia di atas 60 tahun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus juga mulai ditemukan pada usia yang lebih muda. Hingga kini, penyebab pasti penyakit tersebut masih belum diketahui.
Karena itu, masyarakat dianjurkan menerapkan pola hidup sehat dengan menjaga kesehatan mental, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara rutin, menghindari benturan pada kepala, serta meminimalkan paparan bahan kimia berbahaya.
Fahmi juga mengingatkan empat gejala utama Parkinson yang dikenal dengan singkatan TRAP, yaitu tremor (gemetar), rigidity (kekakuan otot), akinesia (gerakan melambat), dan postural imbalance (gangguan keseimbangan).
Sementara itu, Dokter Spesialis Bedah Saraf National Hospital Surabaya, Dr. Heri Subianto, SpBS, mengatakan pemanfaatan Adaptive DBS menjadi bagian dari pengembangan layanan menuju personalized medicine, yakni terapi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Menurut Heri, keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga kolaborasi antara dokter, pasien, dan keluarga.
“Teknologi menjadi salah satu pendukung. Namun, kolaborasi dokter, pasien, dan keluarga tetap menjadi faktor penting agar terapi yang diberikan memberikan hasil yang optimal,” pungkasnya.
Selain digunakan untuk Parkinson, teknologi DBS juga dapat dimanfaatkan pada sejumlah gangguan neurologis lain, seperti epilepsi. Namun, target stimulasi di otak berbeda pada setiap penyakit sehingga penanganannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Penulis : Muji
Editor : Putri

















