BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Raut duka di wajah keluarga almarhum warga Dusun Kaligede, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo, harus bertambah berat pada Rabu malam (4/2/2026). Bojonegoro provinsi Jawa timur.
Di tengah suasana berkabung, mereka masih harus bertaruh nyawa dan tenaga menembus jalanan yang lebih menyerupai kubangan lumpur daripada akses publik.
Sebuah video yang viral di jagat maya baru-baru ini menjadi saksi bisu betapa infrastruktur di ujung barat Bojonegoro ini seolah terlupakan oleh deru pembangunan.
Ambulans yang membawa jenazah dari RSUD Bojonegoro terpaksa menyerah di titik Masjid Samin. Akses yang tak lagi bisa ditembus roda membuat warga harus memikul tandu jenazah sepanjang tiga kilometer di bawah pekatnya malam dan licinnya tanah hutan.
Kepala Desa Meduri, Hariyono, mengonfirmasi bahwa Dusun Kaligede memang menjadi titik paling rawan.
Menurutnya, kerusakan ini bukanlah cerita baru. Namun, hingga kini, janji pembangunan yang diharapkan tak kunjung menyentuh tanah mereka secara menyeluruh.
“Kondisi ini sangat menghambat, bukan hanya saat ada warga yang meninggal, tapi juga nadi ekonomi desa,” ungkapnya.
Desa Meduri, yang dihuni oleh 4.471 jiwa, sebenarnya adalah wilayah yang potensial. Sebagai lumbung kayu jati berkualitas dan produsen jagung yang melimpah, desa ini seharusnya menjadi motor ekonomi.
Namun, kenyataannya berbanding terbalik. Akibat jalan hancur, biaya angkut hasil bumi membengkak berkali-kali lipat, yang berujung pada rendahnya harga jual di tingkat petani.
Kondisi di Meduri memantik pertanyaan besar mengenai realisasi regulasi. Secara hukum, UU No. 2 Tahun 2022 dan UU No. 34 Tahun 2006 telah mengamanatkan bahwa pemerintah pusat maupun daerah bertanggung jawab atas ketersediaan jalan yang layak guna menjamin pelayanan publik.
Lebih jauh lagi, Bojonegoro dikenal sebagai kabupaten dengan kekuatan fiskal tinggi berkat Dana Bagi Hasil (DBH) Migas. Kehadiran “jalan maut” di perbatasan ini menjadi kontradiksi yang menyakitkan di tengah melimpahnya anggaran daerah.
Peristiwa pilu di Kaligede ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Masyarakat tidak lagi sekadar menuntut kenyamanan berkendara, melainkan menuntut martabat kemanusiaan yang setara.
Karena bagi warga di perbatasan hutan Meduri, setiap tetes hujan kini bukan lagi dianggap sebagai berkah, melainkan ancaman isolasi dari peradaban.
Penulis : Takim
Editor : Putri

















