Etika Pejabat Publik, Memahami Batas Ucapan dan Konsekuensi Hukum di Ruang Sidang

- Admin

Kamis, 15 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Ruang sidang Komisi A baru-baru ini menjadi sorotan publik menyusul dugaan ucapan ofensif yang dilontarkan oleh seorang Kepala Desa kepada tokoh masyarakat Desa Talok. Bojonegoro 15/1/2026, Provinsi Jawa timur.

Istilah “anjing-anjing liar” dan “Sengkuni” yang digunakan dalam forum resmi tersebut kini berbuntut pada rencana pelaporan hukum oleh warga Desa talok yang merasa terhina.

Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh aparatur negara mengenai pentingnya menjaga etika komunikasi.

Pejabat publik sejatinya memiliki kewajiban moral dan konstitusional untuk menjadi teladan dalam bertutur kata, terutama saat berhadapan dengan warga atau tokoh masyarakat.

Tindakan melontarkan hinaan di ruang publik atau forum resmi bukanlah sekadar masalah kesantunan, melainkan memiliki implikasi hukum yang serius.

Dari rangkuman dan pengalian informasi awak media Suara bangsa, kepala desa sangat tabu lakukan ujaran kebencian didalam ruang sidang yang terhormat.

Baca Juga:  Tangkal Paham Radikal, Sat Binmas Polres Sampang Gelar Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di SMA Darus Sahid

Berikut adalah beberapa pasal yang berpotensi menjerat pelaku ujaran kebencian atau penghinaan,

1.Pencemaran Nama Baik(KUHP Baru Pasal 433 dan 439),Dalam KUHP, menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal agar diketahui umum dapat dikategorikan sebagai pencemaran.

Penggunaan kata “anjing” yang ditujukan kepada manusia sering kali dianggap sebagai penghinaan ringan atau menyerang martabat.

2. UU ITE Pasal 27A (Perubahan Kedua UU ITE),Jika ucapan tersebut direkam dan disebarkan ke media sosial atau platform digital, pelaku dapat terjerat Pasal 27A yang berbunyi,

“Setiap Orang dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik orang lain dengan cara menuduhkan suatu hal, dengan maksud supaya hal tersebut diketahui umum dalam bentuk Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang dilakukan melalui Sistem Elektronik.”

3. UU Desa No. 6 Tahun 2014 (Sanksi Administratif).,Berdasarkan Pasal 29 huruf (c) dan (e), Kepala Desa dilarang melakukan tindakan yang meresahkan sekelompok masyarakat desa dan melanggar sumpah jabatan.

Baca Juga:  Bersama Bea Cukai, Pemkab Pamekasan Sosialisasikan Undang-undang Cukai

Pelanggaran terhadap poin ini dapat berujung pada sanksi administratif berupa teguran hingga pemberhentian oleh Bupati/Wali Kota.

Dalam hal ini kembali ke tokoh masyarakat dan warga desa talok dalam menyikapi persoalan tersebut.

“Paling kalau tidak Senin ini atau Minggu depan, kades ini dilaporkan warga nya”ungkapnya wanti-wanti tidak menyebutkan namanya.

Namun, hukum tetap memberikan ruang bagi warga untuk menuntut keadilan jika martabat mereka diinjak-injak namun ruang mediasi dan restoratif justice selalu langkah baik demi kebaikan bersama.

“Seorang pemimpin adalah pelayan masyarakat. Menggunakan kata-kata yang merendahkan seperti ‘Sengkuni’ atau hewan di ruang publik menunjukkan rendahnya literasi etika kepemimpinan,” ujar Suwito AKP salah satu pengamat kebijakan publik.

Samudi Kepala desa Talok kecamatan Kalitidu, saat dihubungi awak media Suara bangsa, lewat Wathsapp nya mengatakan bahwa yang di katakan ajing-anjing liar dan Sengkuni tersebut orang luar bukan warga talok, dan orang yang merasa.

Baca Juga:  Wisata Kayangan Api Bojonegoro Jadi Tempat Camping Keluarga FAC Indonesia

“Saya tidak sebut nama lohh ya, yang saya maksud itu,orang luar bukan masyarakat talok,di luar kan banyak anjing-anjing liar dan sengkuni-sengkuni, kalau ada yang merasa ya biarkan saja, lihat to tiktok ku”ungkapnya.

Saat disingung apa yang diucapkan terkait hal tersebut kan diruang hearing di komisi A (12/1), sedang kan yang hadir warga talok, kades talok tetap menyangah dia tidak sebut nama.

“Saya kan tidak sebut nama, kalau ada yang merasa ya biarkan” ungkapnya.

Kasus Desa Talok ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kebebasan berpendapat tidak sama dengan kebebasan menghina.

Ruang sidang atau hearing seharusnya menjadi wadah mencari solusi melalui argumentasi data, bukan melalui caci maki.

Penulis : Takim

Editor : Putri

Berita Terkait

Wisata Sumber Grogolan Bojonegoro Diserbu Ribuan Pengunjung, UMKM Ikut Panen Berkah
Gantikan Night Carnival, Festival Sandur dan Pesta Rakyat Meriahkan HJB ke-349
Plat ‘G 1812 AN’ Nyelonong di Pawai Api Abadi, Kapolres Bojonegoro Buka Suara
Peringati HSN 2026, Bupati Bojonegoro Ajak Santri Kuasai Teknologi Menuju Indonesia Emas
Ketika Barongsai, Reog, dan Polisi Cilik Menyatu dalam Panggung Hari Santri Bojonegoro
DPRD Bojonegoro Sahkan Perda Perlindungan Perempuan dan Anak
BNC 2026 Batal Digelar: Lebih Baik Uang Rakyat untuk Kemiskinan dan Wisata Desa
Bantu Tekan Angka Kemiskinan, Dirut PT Kareb Alam Sejahtera Terima Penghargaan di HJB ke-349
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Pimpin Apel Hari Santri, Bupati Sumenep Ingatkan Pentingnya Peran Santri Menjaga Kerukunan Sosial dan Kebudayan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:04 WIB

Fraksi Gerindra DPRD Bojonegoro Beri 5 Catatan APBD 2027

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:01 WIB

Sampaikan Nota Penjelasan Raperda APBD 2027, Bupati Bojonegoro Tekankan Beberapa Poin Ini

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:56 WIB

Pemkab Sampang Terus Distribusikan Air Bersih Bagi Warga Terdampak Kekeringan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:36 WIB

DHL Express Perkuat Keamanan Logistik, Surabaya Gateway Kini Bersertifikat TAPA

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:14 WIB

Misteri Kurang Salur ADD : Kepala Bapenda Bojonegoro Ngaku Tak Punya Data 2015–2021

Selasa, 6 Oktober 2026 - 00:36 WIB

Lepas Ketergantungan Migas, Bojonegoro Bidik Agroindustri Lewat 5 Perda Baru

Kamis, 24 September 2026 - 00:38 WIB

DPRD Bojonegoro Bahas Perubahan 5 Raperda, FPPKN Tegaskan Catatan Penting

Berita Terbaru