BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro menegaskan komitmennya dalam melindungi dan mengembangkan kesenian tradisional lokal dengan menggelar Festival Sandur dan Pesta Rakyat di Alun-Alun Bojonegoro.
Menurut Lukiswati, acara ini merupakan rangkaian Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349. Bojonegoro hari Sabtu 24/10/2026.
Sekretaris Disbudpar Kabupaten Bojonegoro, Lukiswati, menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang mengamanatkan pemerintah daerah untuk merawat kesenian tradisional.
“Sandur Bojonegoro telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak 2018 karena memiliki nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya daerah yang sangat kuat,” ujar Lukiswati di Alun-Alun Bojonegoro.
Ia menambahkan, kesenian Sandur tidak hanya menyajikan hiburan bagi masyarakat, melainkan juga mengandung tuntunan serta tatanan moral yang penting bagi pembentukan karakter generasi muda. Oleh karena itu, fokus utama agenda ini adalah regenerasi pelaku seni.
Menurut Lukiswati, festival ini merupakan kelanjutan dari program edukasi berupa workshop dan pagelaran Sandur yang telah dilaksanakan pada 4–5 Agustus lalu di Gedung Serbaguna Kabupaten Bojonegoro.
Kegiatan tersebut melibatkan satu guru dan satu siswa tingkat SMP, MTs dari se sekolah se-Bojonegoro.
Disbudpar menargetkan kesenian Sandur dapat didorong menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah agar pelestariannya berjalan berkelanjutan.
Rangkaian Festival Sandur dan Pesta Rakyat ini berlangsung maraton sejak pagi hingga malam hari dengan menghadirkan berbagai perlombaan antar-pelajar, di antaranya, Lomba Moro Anang: Diikuti oleh 65 peserta tingkat RA dan TK sebagai upaya pengenalan budaya sejak dini.
Lomba Tembang Sandur,Diikuti oleh 19 grup tingkat SMP/MTs guna menumbuhkan kecintaan pada musik tradisi.
Pameran Karya Cipta Siswa: Wadah apresiasi seni yang melibatkan pelajar SD, SMP/MTs, hingga SMA, SMK, MA.
Dan juga ada Lomba Esai Sejarah Desa,dalam lomba ini di ikuti oleh sekitar 200 peserta. Penyelenggara menyampaikan permohonan maaf karena pengumuman pemenang diundur untuk memberikan waktu bagi tim juri yang profesional melakukan penilaian secara cermat.
Menanggapi pelaksanaan kegiatan tersebut, Bupati Bojonegoro H. Setyo Wahono mengapresiasi langkah Disbudpar dan menekankan pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
“Sandur bukan hanya milik Bojonegoro semata, tetapi ini adalah ikhtiar kita bersama untuk merawat tradisi peninggalan para pendahulu. Sebuah seni drama dan tari yang menggambarkan jati diri serta identitas daerah kita,” kata Setyo Wahono.
Dalam kesempatan ini Bupati juga menyampaikan selamat kepada para pelajar yang telah berhasil meraih kejuaraan dalam rangkaian kompetisi festival.
Ia berharap generasi muda Bojonegoro terus tumbuh menjadi pribadi yang berdaya saing dan berkontribusi aktif bagi pembangunan daerah.
“Kami berharap Bojonegoro tetap adem, masyarakatnya terus menjaga persatuan, dan bersinergi untuk membangun daerah agar makin maju serta membanggakan,” pungkasnya.
Dalam acara ini selain selain festival sandur dan pesta rakyat yang dihadiri kurang lebih,10 ribu warga, serta Bupati, Wakil bupati, Sekda, OPD dan SKPD serta para seniman, Siswa SMP, Mts, SMK, SMA, MA dan juga anggota DPRD Bojonegoro dari komisi B.
Penulis : Takim
Editor : Putri


















