BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id — Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2026 di Kabupaten Bojonegoro berlangsung spektakuler dan penuh kekhidmatan Berlangsung di Alun-Alun Bojonegoro pada Kamis (22/10/2026), peringatan HSN tahun ini mengusung tema besar “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.
Kemeriahan dan decak kagum mewarnai puncak acara saat pertunjukan seni kolosal yang melibatkan kurang lebih 600 santri ditampilkan. Menggabungkan unsur legenda Nusantara, simbol toleransi kebudayaan, hingga aksi edukatif kepolisian, pertunjukan ini berhasil menyedot perhatian ribuan pasang mata.
Sajian diawali dengan tarian kolosal yang mengangkat cerita filosofis Mliwis Putih, sebuah narasi kearifan lokal yang sarat makna kebijaksanaan. Dan di lanjut Tarian Santri berbudaya, ini secara visual menggambarkan jejak sejarah dan semangat perjuangan para santri dari berbagai suku, etnis, dan daerah di Indonesia yang bersatu padu membela tanah air.
Tak hanya menonjolkan nilai kebangsaan, pertunjukan ini juga menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya toleransi dan adaptasi sosial santri terhadap kaum minoritas.
Hal tersebut dibuktikan lewat kolaborasi unik antara tarian Barongsai dan seni Reog yang dibawakan langsung oleh para santri berkostum khas. Akulturasi budaya ini menjadi simbol nyata bahwa santri senantiasa terbuka, merangkul keberagaman, dan menjaga harmoni kebhinekaan.
Forpimkab Berkaca-kaca
Puncak kekaguman pecah saat para santri cilik tampil di tengah Alun-Alun. Santri-santri bocil binaan Polres Bojonegoro yang tergabung dalam Polisi Cilik (Pocil) memperagakan gerakan senam lalu lintas secara presisi, kompak, dan penuh kedisiplinan.
Atraksi peragaan lalu lintas tersebut kemudian berpadu apik dalam sebuah Opera Keamanan Bagi Nusantara. Pasca tarian lalu lintas, para Pocil membawa tembak mainan sebagai analogi simbolis atas kesiapan generasi muda santri dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta kedaulatan NKRI sejak dini.
Dari pantauan awak media Suara Bangsa di lokasi, ketulusan dan kedisiplinan para santri cilik tersebut sukses menyentuh perasaan panggung utama. Jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forpimkab) Bojonegoro termasuk Bupati Bojonegoro H. Setyo Wahono, Wakil Bupati Hj. Nurul Azizah, Kapolres Bojonegoro AKBP Yenni Diarty, Dandim 0813 Letkol Inf. Dedy Dwi Wijayanto, Ketua DPRD Abdulloh Umar, serta Kajari Mohamad Rohmadi tampak berkaca-kaca menyaksikan atraksi yang sarat makna dan emosional tersebut.
Rasa haru dan bangga juga dirasakan oleh masyarakat serta tamu undangan yang hadir menyemut di area Alun-Alun di tengah sengatan terik matahari.
“Kecil-kecil tapi kompak dan indah, bikin terharu melihat semangatnya, meskipun panas,” ungkap Udin, salah satu ASN guru dari Kecamatan Dander yang turut menyaksikan langsung kemeriahan acara tersebut.
Di akhir acara, suasana kehangatan semakin terasa ketika jajaran Forpimkab Bojonegoro berbondong-bondong turun langsung ke tengah lapangan Alun-Alun untuk memberikan ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para peserta pertunjukan.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, didampingi jajaran Forkopimda tampak menghampiri para santri dan peserta dengan ramah, menyalami mereka satu per satu, serta berswafoto bersama di tengah riuhnya tepuk tangan penonton.
“Sukses dan semangat ya,” ucap Bupati Setyo Wahono sambil menyalami para santri cilik dan peserta tari kolosal dengan penuh kebanggaan.
Penulis : Takim
Editor : Putri


















