BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id — Langkah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro membatalkan gelaran Bojonegoro Night Carnival (BNC) 2026 yang sedianya dihelat pada Sabtu (31/10/2026) menuai apresiasi luas. Keputusan ini dinilai tepat dan mencerminkan empati pemerintah daerah terhadap situasi prihatin yang dialami masyarakat.
Ketua DPC Projo Bojonegoro, Mustakim atau yang akrab disapa Djaeman, menyatakan dukungannya secara terbuka atas pembatalan ajang tahunan tersebut pada Selasa (20/10/2026).
Menurut Mustakim, bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan berat, mulai dari dampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan hingga krisis kekeringan berkepanjangan akibat El Nino.
“Saudara-saudara kita di Kalimantan sedang berduka menghadapi asap dan karhutla. Sangat tidak elok ketika masyarakat sedang prihatin menghadapi kekeringan dan tekanan ekonomi, pemerintah justru menggelar acara yang terkesan bermewah-mewahan,” tegas Mustakim.
Ia menilai, konsep karnaval malam identik dengan hiburan berbiaya besar. Di tengah pengetatan anggaran dan kondisi perekonomian warga yang penuh tantangan, alokasi dana untuk acara seremonial dianggap kurang tepat.
Mustakim pun sepakat dengan langkah Bupati dan jajaran Pemkab Bojonegoro yang mengalihkan alokasi anggaran serta perhatian ke program-program prioritas yang menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.
Ia menekankan bahwa fokus pembangunan di Bojonegoro saat ini seyogianya diarahkan pada:
* Percepatan penanggulangan kemiskinan;
* Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM);
* Pemerataan infrastruktur, khususnya pembukaan aksesibilitas wilayah pinggiran dan perbatasan; serta
Optimalisasi potensi wisata lokal rintisan.
Lanjutnya, Ketimbang menggelar acara berbiaya besar, Mustakim mendorong Disbudpar Bojonegoro untuk lebih berfokus pada penataan, pembenahan, dan promosi destinasi wisata rintisan daerah yang terbukti mampu menggerakkan ekonomi warga.
Beberapa potensi wisata lokal rintisan di Kabupaten Bojonegoro yang dinilai prospektif antara lain:
1, Wisata Edukasi Minyak Bumi Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras;
2, Wisata Geopark Teksas Wonocolo di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan;
3. Kawasan Agrowisata Buah Belimbing di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu;
4, Serta,Berbagai wisata rintisan greenhouse milik petani muda maupun objek wisata kuliner berbasis desa yang muncul di tengah tantangan ekonomi.
“Potensi wisata rintisan di desa-desa inilah yang perlu dicarikan solusi pengelolaannya dan diperkuat branding-nya agar wisatawan lokal maupun mancanegara makin banyak yang berkunjung. Mereka butuh kehadiran pemerintah daerah,” ujar Mustakim.
“Jika ini berjalan dengan baik, ekonomi masyarakat desa dan pendapatan daerah secara otomatis ikut terangkat. Anggaran kita ada, tetapi konsep (master plan) dan pelaksanaannya butuh langkah konkret yang ditunggu masyarakat,” pungkasnya.
Pembatalan resmi BNC 2026 tertuang dalam surat resmi yang ditandatangani oleh Kepala Disbudpar Bojonegoro, Elzadeba Agustina, S.H., M.Kes. Keputusan ini menjadi bukti bahwa kepekaan sosial dan pemenuhan kebutuhan riil warga tetap menjadi prioritas utama dalam tata kelola pemerintahan daerah.
Penulis : Arif
Editor : Putri


















