Ketika Organisasi dan Elemen Masyarakat Menjadi Alat ‘Cari Muka’ Politik
BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Di balik kemajuan pembangunan dan narasi kearifan lokal Kota Angling Darmo, sebuah fenomena sosiopolitik yang mengkhawatirkan tengah mengakar.
Perilaku “bermuka dua” kini tidak lagi sekadar urusan personal, melainkan telah menjadi budaya dalam perilaku organisasi dan elemen masyarakat. Strategi ini dijalankan secara sistematis demi memuluskan kepentingan politik pribadi maupun ambisi golongan.
Menurut pakar komunikasi yang sekarang sedang nyorong di malowopati FM,Bojonegoro Provinsi Jawa timur.
Mbah Dul mengatakan Manipulasi Organisasi sebagai “Kendaraan Bermuka Dua”.
Kini, organisasi massa (ormas) hingga lembaga swadaya di tingkat lokal terjebak dalam kontradiksi peran yang tajam.
Peta konflik ini terbagi menjadi dua modus operandi,
Di Internal: Mencari Muka ke Atas. Di dalam struktur, para pengurus organisasi kerap tampil seolah menjadi “pahlawan” bagi anggotanya dan menunjukkan loyalitas buta kepada aktor politik tertentu.
Mereka sibuk mengemas laporan dan pencitraan agar dianggap sebagai mesin pendulang suara yang paling efektif demi mendapatkan kursi atau keuntungan finansial.
Di Eksternal, Menjelekkan demi Eksistensi. Di luar lingkaran kekuasaan, elemen-elemen ini sering kali melakukan infiltrasi ke masyarakat untuk menyebarkan narasi negatif terhadap pihak lawan.
Mereka memainkan peran “eksekutor” yang menjatuhkan reputasi pihak lain melalui desas-desus, namun secara ajaib muncul sebagai penengah saat konflik memuncak.
Menurutnya, Tren yang berkembang di Kota Angling Darmo menunjukkan bahwa banyak elemen masyarakat yang mulai kehilangan independensinya.
Terjadi pergeseran dari Organisasi Berbasis Nilai menjadi Organisasi Berbasis Transaksi.
Program-program sosial organisasi sering kali hanya menjadi kulit luar. Di dalamnya, terdapat agenda politik praktis untuk menggalang dukungan secara sembunyi-sembunyi sambil terus menjelekkan pihak yang tidak sejalan.
Muncul narasi bahwa “hanya golongan kami yang bekerja,” sementara kontribusi pihak lain dihilangkan atau didistorsi.
Ini adalah upaya nyata mencari muka di hadapan “sang tuan” agar terlihat sebagai satu-satunya elemen masyarakat yang berjasa.
Kontradiksi di Balik Meja Perundingan
Dinamika ini menciptakan suasana organisasi yang beracun. Di dalam rapat resmi, para tokoh elemen masyarakat tampil santun dan penuh visi.
Namun, di luar forum, mereka aktif melakukan manuver politik yang destruktif terhadap sesama rekan seperjuangan demi mendapat perhatian lebih dari “sang majikan” politik.
Mengembalikan Marwah Organisasi
Pakar perilaku organisasi menegaskan bahwa “kanker” bermuka dua ini dapat menghancurkan modal sosial di Kota Angling Darmo.
Jika setiap elemen masyarakat hanya sibuk mencari muka dan menjatuhkan sesama demi kepentingan pribadi, maka kepercayaan publik terhadap organisasi akan mencapai titik nadir.
“Kepentingan politik pribadi yang dibungkus dengan baju organisasi adalah bentuk pengkhianatan terhadap mandat masyarakat. Di Kota Angling Darmo, pahlawan sejati adalah mereka yang bicaranya sama, baik di depan meja perundingan maupun di belakang punggung rakyat,” pungkasnya.
Penulis : Takim
Editor : Putri

















