Klarifikasi Istilah “Komo-Komo”, Brako Nusantara Datangi Stasiun Bojonegoro

- Admin

Kamis, 15 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id – Sejumlah massa yang tergabung dalam Perkumpulan Masyarakat Brako Nusantara mendatangi Stasiun Bojonegoro pada Kamis (15/1/2026).

Kedatangan mereka bertujuan untuk menyampaikan keberatan sekaligus meminta klarifikasi terkait pemberitaan media yang dinilai melukai perasaan keluarga korban kecelakaan kereta api di wilayah Baureno.

Persoalan ini bermula dari munculnya sebuah berita (yang kini telah dihapus) mengenai santunan bagi korban meninggal dunia, Sukisno. Dalam berita tersebut, muncul istilah “komo-komo” yang dinisbatkan kepada pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Makna yang Menyinggung Masyarakat
Koordinator aksi, Lulus Setiawan, menjelaskan bahwa penggunaan kata tersebut sangat tidak pantas.

Di wilayah Bojonegoro, istilah “komo-komo” identik dengan pemberian kepada pengemis, sehingga dianggap merendahkan martabat keluarga korban yang sedang berduka.

Baca Juga:  Jelang Idul Fitri, Warga Sampang Mulai Berburu Baju Lebaran, Pedagang Teriak Begini

“Ada pemberitaan yang menuliskan kata ‘komo-komo’. Di Bojonegoro, istilah itu tidak pantas dan melukai perasaan keluarga korban serta masyarakat secara sosial,” ujar Lulus di lokasi.

Menanggapi tuntutan massa, Manajer Humas perwakilan PT KAI Bojonegoro, Mahendro, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut.

Ia juga mengklarifikasi bahwa di jajaran PT KAI Area Surabaya tidak ada manajer yang bernama Yusuf, sebagaimana tertulis dalam berita yang beredar.

Senada dengan KAI, Ahmad Yusuf selaku Kepala Bidang Pengembangan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bojonegoro, yang namanya ikut dicatut, memberikan bantahan keras.

“Saya tidak pernah mengucapkan kata-kata itu. Bahkan membaca istilah ‘komo-komo’ saja baru kali ini. Saya sangat mengenal almarhum, jadi tidak mungkin saya bicara seperti itu,” tegas Yusuf.

Baca Juga:  DPRD Sumenep Segera Bentuk Pansus BSPS

Wartawan Penulis Berita Sulit Dihubungi

Dalam upaya mencari kebenaran, pihak-pihak yang hadir mencoba menghubungi wartawan penulis berita tersebut via telepon.

Namun, yang bersangkutan tidak memberikan respons positif. Bahkan saat diminta hadir untuk mediasi, wartawan tersebut enggan datang dengan alasan sedang menjemput anak sekolah.

Yusuf kemudian menunjukkan bukti tangkapan layar pesan singkat (WhatsApp) yang mengungkap adanya upaya pencatutan nama.
Dalam pesan tersebut, seorang oknum bernama Kirno diduga berniat menulis pernyataan menggunakan nama Yusuf, meskipun Yusuf sudah menolaknya secara tegas.

Situasi yang sempat memanas berhasil diredam oleh kehadiran Kasat Intelkam Polres Bojonegoro, I Putu Suryawan Astawa. Ia mengimbau agar semua pihak menahan diri demi menjaga iklim investasi dan kondusivitas daerah.

Baca Juga:  Rancangan Teknokratik RPJMD Lima Tahun, Pemkab Sampang Bahas Isu dan Sasaran Penting

“Kita cari solusi bersama. Jangan sampai ada tindakan anarkis yang justru merugikan masyarakat Bojonegoro ke depannya,” imbau Putu.

Setelah mendapatkan penjelasan yang transparan, Ketua Brako Nusantara, Luki, menyatakan bahwa pihaknya mengapresiasi klarifikasi secara kekeluargaan ini.

Lulus Setiawan mewakili rombongan juga menyampaikan permohonan maaf kepada Ahmad Yusuf atas dugaan awal yang sempat mencuat.

“Kami mohon maaf apabila Pak Yusuf sempat terkena asas praduga tak bersalah dari kami,” ucap Lulus.

Sebagai penutup, Ahmad Yusuf menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Kepala Dishub Bojonegoro untuk meluruskan pencatutan institusi ini. Ia juga kembali menyampaikan rasa bela sungkawa kepada keluarga korban.

Penulis : Takim

Editor : Putri

Berita Terkait

Sering Jadi Penyebab Laka, Polsek kota dan Damkar Bojonegoro Lakukan Ini
PT BPR Bojonegoro Bungkam Soal Anggaran Konser Rp1,1 Miliar
Warga Manfaatkan Gudang KDKMP Grebegan untuk Senam, Kades: Upaya Meramaikan KDMP ke Depan
Dukung BUMD Pangan Bojonegoro, Eko Wahyudi: Jadi Instrumen Percepatan Asta Cita di Daerah
Perkuat Ketahanan Pangan, Eko Wahyudi Tekankan Sinergi Penyuluh dan Petani di Bojonegoro
Menguak “Tanah Celengan” di Belun, dari Pengakuan Ahli Waris dan Sikap Kadin PMD “Buang Badan” terkait kasus Belun
Pimpin Upacara Hari Otoda dan Hari Pendidikan Nasional, Bupati Bojonegoro Tekankan Penguatan SDM dan Tata Kelola Pemerintahan
Komisi A Beri Tenggat Waktu, Soroti Hak User, Legalitas Proyek hingga Dugaan Pungutan Tambahan Rp10 Juta, Polemik Perumahan Klampok
Tag :

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 17:50 WIB

Sering Jadi Penyebab Laka, Polsek kota dan Damkar Bojonegoro Lakukan Ini

Minggu, 10 Mei 2026 - 11:30 WIB

PT BPR Bojonegoro Bungkam Soal Anggaran Konser Rp1,1 Miliar

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:22 WIB

Warga Manfaatkan Gudang KDKMP Grebegan untuk Senam, Kades: Upaya Meramaikan KDMP ke Depan

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:20 WIB

Dukung BUMD Pangan Bojonegoro, Eko Wahyudi: Jadi Instrumen Percepatan Asta Cita di Daerah

Kamis, 7 Mei 2026 - 23:58 WIB

Menguak “Tanah Celengan” di Belun, dari Pengakuan Ahli Waris dan Sikap Kadin PMD “Buang Badan” terkait kasus Belun

Kamis, 7 Mei 2026 - 23:56 WIB

Pimpin Upacara Hari Otoda dan Hari Pendidikan Nasional, Bupati Bojonegoro Tekankan Penguatan SDM dan Tata Kelola Pemerintahan

Kamis, 7 Mei 2026 - 21:26 WIB

Komisi A Beri Tenggat Waktu, Soroti Hak User, Legalitas Proyek hingga Dugaan Pungutan Tambahan Rp10 Juta, Polemik Perumahan Klampok

Kamis, 7 Mei 2026 - 09:29 WIB

Babak Baru Sengketa TKD Belun: Kades Jono Sebut Status Tanah ‘Celengan’ kegunaan Tergantung Kebijakan Desa

Berita Terbaru

Politik

Menjelang Muscab PPP Bojonegoro, Suhu Politik Memanas

Senin, 11 Mei 2026 - 16:27 WIB

Daerah

PT BPR Bojonegoro Bungkam Soal Anggaran Konser Rp1,1 Miliar

Minggu, 10 Mei 2026 - 11:30 WIB