SUMENEP, SUARABANGSA.co.id – Sumenep tidak hanya dikenal dengan keindahan wisata alam dan juga beberapa wisata buatan yang sangat memukau. Namun, beberapa wisata religi juga turut mendominasi di Kabupaten dengan julukan kota keris itu.
Ada banyak lokasi-lokasi religi bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara yang hendak ke Sumenep, seperti Asta Tinggi, Masjid Jamik Sumenep, Keraton Sumenep, dan masih banyak lagi tempat-tempat wisata religi yang terdapat di beberapa daerah di Sumenep. Salah satunya yang jarang diketahui adalah Asta Gurang Garing yang lokasinya berada di Dusun Barumbung, Desa Lombang, Kecamatan Batang-Batang, yang jaraknya tidak jauh dari lokasi wisata pantai Lombang.
Asta atau dalam bahasa Madura disebut (Buju’. red) Gurang Garing tersebut lokasinya berada di dataran yang agak tinggi, serta lokasinya agak masuk sekitar 2 kilometer dari jalan raya yang menghubungkan Desa Lombang dengan Desa Lapa Taman, Kecamatan Dungkek.
Mungkin bagi masyarakat luar, Asta tersebut tidak terlalu familiar di telinga banyak orang, namun meski demikian, para peziarah dari berbagai pelosok di Kabupaten Sumenep selalu ada setiap malam di lokasi Asta Gurang Garing tersebut.
Asta atau area pemakaman tersebut berada di kawasan berpasir, mengingat lokasinya tidak jauh dari area pinggiran pantai. Dari sekian makam lainnya, makam yang salah satu nisannya bertuliskan angka (tahun) 1390 menjadi jujukan ziarah banyak orang, serta makam tersebut terlihat paling gagah dan berwibawa daripada makam lainnya yang ada di sekitaran.
Dikisahkan bahwa Asta Gurang Garing merupakan salah satu tempat wisata religi yang kisah dari masyarakat setempat adalah makam dari Kyai Syeikh Mahfudz. Bahkan dikisahkan dari sumber lain, bahwa asta Gurang Garing ini lebih dikenal dengan sebutan Asta Syayid Yahya dan sudah dilegendakan. Akan tetapi cucu dari Sayyid Yahya sendiri menyebutnya dengan julukan Syeikh Mahfudz.
Syekh Mahfudz diperkirakan hidup pada masa pemerintahan Sumenep saat berada di tangan pertama raja Sumenep, yaitu Arya Wiraraja atau Arya Banyak Wede pada tahun 1269. Dalam ceritanya, saat itu Syekh Mahfudz sempat akan dijadikan sebagai hakim di kerajaan Sumenep, namun dengan alasan Syekh Mahfudz tidak dapat meninggalkan para santrinya saat itu, akhirnya Syekh Mahfudz menolak permintaan raja Sumenep saat itu, dan membuat raja marah, hingga akhirnya Syeikh Mahfud mendapatkan hukuman dari raja, yaitu diperitahkan untuk mengisi gentong air raksasa, tepatnya gentong tersebut berada di halaman belakang kerajaan.
Lanjut dikisahkan bahwa Gentong tersebut memiliki bentuk yang besar, dan kering yang tidak ada airnya sama sekali. Dari cerita turun-temurun menyatakan bahwa kata “besar” itu disebut dengan Gorang dan kata “kering” itu adalah Garing. Maka dari sanalah menamaan Asta Gurang Garing bermula.
Oleh karna itulah, beberapa alasan banyak orang menyebutnya dengan istilah Gurang Garing yang berarti gentong raksasa yang kering.
Asta Gurang Garing juga banyak dipercaya memiliki kekuatan mistis tersendiri. Sebagian besar dari orang yang mengunjungi Asta Gurang Garing yang memiliki hajat, akan tetapi dilarang untuk berharap sesuatu yang menyimpang dari ajaran syariat, jika hal tersebut dilanggar, maka orang tersebut akan selalu diganggu oleh kekuatan mistis.
Uniknya, Asta yang terdapat di ujung timur kota Sumenep itu dipercaya banyak warga setempat tidak boleh diberi atap (cungkup). Konon, warga setempat ingin mengistimewakan salah satu makam yang menjadi jujukan banyak orang tersebut dengan cara memberi cungkup atau atap, namun beberapa kali pun diberikan atap, maka di kawasan itu selalu dilanda angin kencang yang hanya menyebabkan atap tersebut ambruk, dan dimaknai oleh masyarakat sekitar bahwa tidak berkenan untuk diberikan atap.
Maka menjadi pantas, jika hingga saat ini Asta Gurang Garing tidak pernah sepi peziarah, apalagi saat malam Jum’at. Bahkan ada beberapa peziarah yang rela bermalam di lokasi Asta.
Seperti yang diceritakan Khairul, salah satu warga Desa Legung, Kecamatan Batang-Batang, yang setiap malam Jum’at rutin berziarah ke Asta Gurang Garing, bahwa ia menceritakan perasaan yang dirasakan saat berada di dalam Asta tersebut.
“Auranya berbeda jauh, dari sebelum masuk area Asta dan setelah masuk ke kawasan Asta tersebut, rasanya seperti kita diberikan ketenangan, nyaman. Ya memang semuanya dari Allah SWT, tapi melalui perantara ini, kita mencoba lebih dekat dengan sang pencipta,” ungkapnya, Jum’at (01/05).
Menurut Khairul, tidak sedikit para peziarah yang datang ke sini untuk mengharap barokah, apalagi seperti malam Jum’at saat ini. Area pemakaman selalu dipadati peziarah.
“Jadi, Asta ini juga sangat saya rekomendasikan untuk para wisatawan yang ingin ziarah ke Sumenep,” tutupnya.

















