Tuntut ADD Naik 20 Persen, Hearing Perangkat Desa dengan OPD dan Legeslatif Bojonegoro Sempat Tegang

- Admin

Rabu, 7 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO, SUARABANGSA.co.id — Ratusan kepala desa, sekretaris desa, perangkat desa, serta anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang tergabung dalam Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS) dan Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI), Persatuan Perangkat Desa Indonesia(PPDI), Forum Sekretaris Desa (FORSEKDESI), mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Bojonegoro, Selasa (6/10/2026).

Rapat dengar pendapat (hearing) tersebut digelar bersama Komisi A dan Komisi B pada pukul 15.15 WIB. Dihadiri sekitar seratus perwakilan perangkat desa, forum ini membawa tuntutan agar porsi Alokasi Dana Desa (ADD) dinaikkan dari 12,5 persen menjadi 20 persen dalam Perubahan APBD (P-APBD) tahun anggaran 2027 yang akan dibahas bulan depan.

Rapat dipimpin oleh Sekretaris Komisi A, Mustakim, bersama Ketua Komisi B, Lasuri, serta didampingi Sally Atyasasmi. Turut hadir anggota Komisi A meliputi Sudiyono, Erik Maulana, dan Sudjono, serta anggota Komisi B yakni Sutikno, Muhadi, Didik Tri Cahyono, dan Doni Bayu Setiyawan.

Baca Juga:  BKKBN Jatim Sosialisasi Pencegahan Stunting di Desa Tanjungharjo Bojonegoro

Aksi ini dipicu oleh penurunan pendapatan desa akibat merosotnya penerimaan Dana Desa (DD) dan Dana Bagi Hasil (DBH) migas.

Kondisi tersebut diperparah oleh pemotongan Dana Desa sekitar 60 persen untuk iuran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta dampak kebijakan efisiensi anggaran dan proyek strategis nasional. Situasi ini memukul kemampuan keuangan desa, baik untuk membiayai pembangunan infrastruktur dasar maupun membayar Penghasilan Tetap (Siltap) dan tunjangan perangkat desa.

Ketua FORSEKDESI Bojonegoro, Setiyo Pribowo, mengungkapkan bahwa penurunan penerimaan saat ini mengancam hak-hak keuangan pamong desa. Banyak desa di Bojonegoro diproyeksikan hanya mampu membayar Siltap selama delapan bulan pada tahun anggaran berjalan. Empat bulan sisanya terancam gagal bayar jika tidak ada penambahan alokasi dari pemerintah daerah.

Baca Juga:  Optimis Ekonomi Indonesia Segera Pulih, PERIPERA Kosmetik kembali Buka Store kedua di Surabaya

“Maka hitung-hitungan kami bersama kawan-kawan, pemkab perlu menaikkan porsi ADD tidak lagi di angka 12,5 persen, melainkan 20 persen. Meskipun angka itu belum sepenuhnya cukup, setidaknya roda operasional dan pelayanan desa bisa tetap berjalan aman,” terangnya.

Imbuhnya,Kondisi tersebut makin diperberat oleh regulasi yang membatasi alokasi belanja operasional pemerintah desa maksimal 30 persen dari APBDesa.

Hal yang sama Ketua PPDI menambahkan, pembatasan ini membuat banyak desa tidak mampu membayar Siltap kepala desa dan perangkat secara penuh.

“Saat ini kami sudah menahan diri. Jika hal ini tidak diperhatikan oleh pemkab, pelayanan di tingkat desa terancam tidak berjalan,” tegasnya.

Sekretaris PKDI Bojonegoro, Edi Sunarto, menegaskan bahwa kenaikan ADD menjadi 20 persen merupakan solusi realistis agar desa tetap bisa menjalankan roda pemerintahan serta memberikan pelayanan dasar bagi warga.

Baca Juga:  DLH Bojonegoro Angkat Bicara Soal Galian C di Ringintunggal

“Dari dulu kurang bayar yang semestinya 12,5 persen,tapi hanya dibayar 10 persen, dari 2015 sampai 2021, dan hal ini tolong bisa dihitung ulang” harapnya.

Melalui hearing ini, gabungan organisasi pemerintahan desa mendesak DPRD dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk segera mengevaluasi formulasi pengalokasian ADD serta merevisi aturan terkait demi mencegah kelumpuhan pelayanan publik di tingkat desa.

Dalam pantauan awak media Suara bangsa, antara eksekutif yang di wakili dari DPMPD, Joko Lukito, Yusnita Liasari dari Bapenda, Kabag hukum dan OPD yang terkait desa, sempat bersitegang dengan perangkat desa, Dan (Legeslatif) komisi A dan komisi B dalam menentukan kenaikan dari 12,5 persen ke 20 persen.

Penulis : Takim

Editor : Putri

Berita Terkait

DPMD Sumenep Mulai Proses Tahapan Pilkades Serentak 2027
Independensi PWI Dipertanyakan: Rangkap Jabatan BUMN Pengurus PWI Pusat Disorot Tajam
Wisata Sumber Grogolan Bojonegoro Diserbu Ribuan Pengunjung, UMKM Ikut Panen Berkah
Gantikan Night Carnival, Festival Sandur dan Pesta Rakyat Meriahkan HJB ke-349
Plat ‘G 1812 AN’ Nyelonong di Pawai Api Abadi, Kapolres Bojonegoro Buka Suara
Peringati HSN 2026, Bupati Bojonegoro Ajak Santri Kuasai Teknologi Menuju Indonesia Emas
Ketika Barongsai, Reog, dan Polisi Cilik Menyatu dalam Panggung Hari Santri Bojonegoro
DPRD Bojonegoro Sahkan Perda Perlindungan Perempuan dan Anak
Tag :

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:01 WIB

DPMD Sumenep Mulai Proses Tahapan Pilkades Serentak 2027

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Independensi PWI Dipertanyakan: Rangkap Jabatan BUMN Pengurus PWI Pusat Disorot Tajam

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:51 WIB

Wisata Sumber Grogolan Bojonegoro Diserbu Ribuan Pengunjung, UMKM Ikut Panen Berkah

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:22 WIB

Gantikan Night Carnival, Festival Sandur dan Pesta Rakyat Meriahkan HJB ke-349

Jumat, 23 Oktober 2026 - 03:28 WIB

Peringati HSN 2026, Bupati Bojonegoro Ajak Santri Kuasai Teknologi Menuju Indonesia Emas

Jumat, 23 Oktober 2026 - 03:24 WIB

Ketika Barongsai, Reog, dan Polisi Cilik Menyatu dalam Panggung Hari Santri Bojonegoro

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:53 WIB

DPRD Bojonegoro Sahkan Perda Perlindungan Perempuan dan Anak

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:03 WIB

BNC 2026 Batal Digelar: Lebih Baik Uang Rakyat untuk Kemiskinan dan Wisata Desa

Berita Terbaru

Daerah

DPMD Sumenep Mulai Proses Tahapan Pilkades Serentak 2027

Senin, 26 Okt 2026 - 19:01 WIB